Cari Uang Dari Tiket, Cara Lawas & Konvensional

Garuda, Tirulah Strategi Bisnis Gojek dan Google

Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Guru Besar Fakultas Ekonomi & Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Heboh  tentang Garuda yang sedang menghadapi gempuran opini agar kerja samanya  dengan startup Mahata dibatalkan, membuat Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali tersenyum. 

"Kalau Garuda atau BPK tidak mau, jual saja ke Gojek, pasti diambil, " ujarnya kepada Rakyat Merdeka, Kamis pagi (11/7).

"Gojek dan hampir semua Super Apps lainnya termasuk Google, Grab, Traveloka, Tokopedia, sedang cash rich. Di sana, berkumpul orang-orang progresif yang tahu bagaimana memanjakan penumpang dan tahu uangnya ada di mana. Mereka tidak se-rigid orang-orang lama yang sok tahu,” imbuh Komisaris Utama PT Angkasa Pura II itu.

Dia mengingatkan, Gojek membutuhkan waktu empat tahun untuk mendapatkan lebih dari 100 juta partisipan yang mengunduh apps-nya ,dan menjadikan dirinya  super apps.  Sedangkan gabungan Garuda-Citilink, dan Sriwijaya mempunyai 65 juta penumpang aktif. 

“Kalau digabung dengan Angkasa Pura I dan II, bisa tambah 100-an juta lagi. Cari uangnya jangan konvensional dari tiket. Eksplor saja dari data,” papar Rhenald.

Berikut ini adalah catatan Rhenald Kasali yang  beredar di berbagai WhatsApp Group (WAG):

Baca Juga : Mahathir Siap Jadi Perdana Menteri Malaysia Lagi

1. Paling sulit memang meyakinkan bisnis cara baru pada orang-orang tua yang pernah sukses dengan cara lama. Padahal, cara lama sudah obsolete digerus teknologi dan data. Tetapi mereka selalu merasa paling benar.

2. Contohnya di Garuda Indonesia itu. Kalau diberitahu, mereka cepat sekali naik pitam dan ingin cepat-cepat bilang fraud lah, salah lah, tidak boleh, batalkan, tidak ada duit lah, modalnya terlalu kecil, dan seterusnya.

3. Menurut saya, kalau mereka tidak mau, jual saja ke SuperApps seperti Google, Gojek, atau Traveloka. Pasti dibayar secepat kilat. Daripada main batalkan kerja sama dan merugikan keuangan negara.  Anak-anak muda itulah yang tahu bagaimana cara menciptakan value pada airlines gemuk pelat merah. Caranya riil, bukan digoreng-goreng sahamnya.

4. Ini era MO, pakai tagar menjadi #MO. Artinya, orang pakai tagar dengan tujuan mobilisasi dan orkestrasi (MO). Sebab, di era baru, #MO membuat bisnis harus hidup dari cara mobilisasi dan orkestrasi ekosistem pakai data.

5. #MO itu peradaban entrepreneurship anak-anak muda yang berbasis teknologi. Untuk membuat dampak besar dan ekonomi heboh, tak perlu modal besar karena peradaban ini didukung oleh enam pilar: Artificial Intelligence, Big Data, Super Apps, Broadband Network, Internet of Things dan Cloud Computing.

6. Dapat duitnya dengan mengorkestrasi ekosistem, bukan menguasai aset yang besar seorang diri. Kata kuncinya kolaborasi. Maka asetnya light. Ini berbeda dengan bisnis kakek-kakek  yang heavy asset dan tampak gede di neraca, dan laporan pendapatannya disetel akunting konvensional.

Baca Juga : Rupiah 14 Ribu Lagi, Sri Mul Masih Bisa Tenang?

7. Ini pula yang menjadi biang keributan akuntansi. Makanya di New York Stock Exchange, orang-orang lagi ramai membincangkan buku guru besar akuntansi senior dari Stern, Baruch Lev: The End of Accounting.

8. Masalahnya, standar akuntansi yang kita kenal belum mampu meng-capture “nilai” yang diciptakan oleh startup yang disebut sebagai “network effect value.” Ini persis sama dengan ramainya perdebatan tentang “intangible” yang membahas  boleh tidaknya dihitung dalam perolehan aset 30 tahun lalu.

9. Jadi, perusahaan-perusahaan lama itu tak ada network effect value-nya karena produknya stand-alone. Ini persis seperti kita membandingkan Nokia dengan Iphone,  Adidas dengan Nike, atau ITB dengan Harvard/Ted X.

10. Yang satu cuma jual produk atau jasa tok. Nokia dapat duit dari gadget belaka. Dia stand-alone.  Iphone dapat duit dari gadget plus dari App store yg ada jejaring dan data capture-nya. Begitulah cara kerja startup.

11. Adidas cuma jual sepatu. Nike jual sepatu plus fitness wearables yang memberikan data dan business opportunity baru dari data. Menjadikan sepatu bagian dari bisnis wellness dan sekaligus membongkar cara bisnis industri farmasi.

12. ITB dan UI hanya kasih kuliah untuk mahasiswa yang terdaftar dan diterima. Harvard dan TED X kasih bahan-bahan gratis yang mendatangkan data dan bisnis-bisnis baru.

Baca Juga : Makin Menggila, WHO Naikkan Status Darurat Wabah Corona ke Level Tertinggi

13. Masih banyak lagi, mulai dari NASA, GE, Kalbe, Halodoc, Prudential, sampai bisnis-bisnis anak muda seperti Wahyoo, Reblood, dan Cari Ustadz. Semua hidup dan menghidupkan ekosistem. Bedanya, mereka tidak cengeng atau saling menyalahkan.

14. Makanya di era #MO ini, kalau tidak mau pusing, jual sajalah ke Super Apps. Dijamin, tiket pesawat jadi lebih terjangkau dan penumpang happy dapat layanan data di pesawat. Sudah dulu ya. Cheers, #MO

[HES]