Menteri ESDM Lapor Ke Istana

Jokowi Happy Proyek Investasi Blok Masela

Menteri ESDM Lapor Ke Istana Jokowi Happy Proyek Investasi Blok Masela
Klik untuk perbesar

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan melaporkan perkembangan Blok Masela kepada Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Dalam pertemuan tertutup tersebut, hadir President & Chief Executive Officer (CEO) Inpex Corporation Takayuki Ueda dan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto. Jonan dan rombongan datang memakai batik lengan panjang. Sementara, perwakilan dari Jepang memakai jas hitam. 

Usai pertemuan, Jonan mengaku, telah melaporkan kepada Jokowi terkait persetujuan pemerintah terhadap rencana pengembangan (Plan of Development/PoD) Blok Masela yang diajukan oleh Inpex Corporation.“Kami lapor, kami serahkan persetujuannya di hadapan Bapak Presiden,” katanya. 

Sementara, Dwi Soetjipto mengungkapkan, kesepakatan itu membuat Presiden Jokowi gembira.“Presiden gembira atas kerja keras kedua pihak, negosiasi yang meskipun alot pada akhirnya hari ini bisa menyelesaikan investasi yang sangat besar, yang sangat berarti buat Indonesia,” ujarnya. 

Berita Terkait : Terima Menlu Motegi, Presiden Jokowi Ajak Jepang Investasi di Natuna

Secara rinci, kata Dwi, Presiden menekankan tiga hal untuk proyek ini. Di antaranya, Inpex harus komitmen dengan apa yang ter tuang di PoD dan arahan pemerintah lewat Kementerian ESDM. Kemudian, memaksimalkan lokal konten dan pengembangan SDM lokal yang ada di sana. 

Menurutnya, dengan dimulainya proyek ini, ada empat hal penting buat Indonesia. Pertama, masuknya investasi yang sangat besar sekitar Rp 288 triliun untuk satu proyek. Artinya, Indonesia cukup bagus untuk investasi besar. 

Kedua, Indonesia bagian timur, yang notabene infrastruktur tidak sebaik Indonesia bagian barat. tapi ternyata bisa dijalankan proyek ini, sehingga nanti wilayah-wilayah kerja yang belum dieksplorasi akan banyak investor-investor besar yang akan mencari itu. 

Ketiga, lanjut Dwi, proyek ini dilakukan di laut dalam. Ini menunjukkan, investasi migas ini masih mungkin dilakukan. Keempat, ini berdampak pada pertumbuhan industri petrokimia di Indonesia, karena petrokimia kita masih impor banyak. Jadi, dengan ini mungkin akan muncul lagi orang mau bangun petrokimia di wilayah Indonesia Timur. 

Berita Terkait : Menteri ESDM Dorong Percepatan Transisi Blok Rokan

SKK menargetkan, blok Masela akan mulai produksi pada 2027 sehingga proyek dikebut sampai 2026. President & CEO Inpex Takayuki Ueda mengatakan, atas persetujuan revisi PoD, pemerintah juga menye tujui permohonan untuk alokasi tambahan waktu selama 7 tahun dan perpanjangan Production Sharing Contract (PSC) Wilayah Kerja atau Blok Masela selama 20 tahun hingga tahun 2055. 

Dikatakan Ueda, per setujuan atas revisi PoD oleh pemerintah ini merupakan tonggak sejarah yang sangat penting bagi Proyek LNG Abadi. Konsep pengembangan proyek telah mengalami perubahan dari skema kilang terapung menjadi skema LNG darat. 

“Saya yakin karakteristik proyek yang berdasarkan revisi PoD sekarang cukup kompetitif dan keekonomiannya sangat masuk akal karena Lapangan gas Abadi mempunyai produktivitas reservoir yang sangat bagus dan merupakan salah satu sumber gas terbesar di dunia,” katanya. 

Disetujuinya POD ini, kata Ueda, menumbuhkan harapan untuk mengembangkannya secara efisien dan menjadikan lapangan ini beroperasi secara stabil dalam memproduksi gas alam cair (LNG) untuk jangka waktu yang panjang. Ueda mengenang pertama kali Inpex berbisnis Indonesia pada 1966. 

Baca Juga : Kantor Yasonna Tak Batalkan SK KNPI Noer Fajrieansyah

Sejak itu, perusahaan telah terlibat dalam berbagai kegiatan hulu Migas dengan akumulasi 43 proyek. Contohnya, Blok Attaka dan Blok Mahakam di lepas pantai. Saat ini, ada 5 proyek yang sedang digarap Inpex di Indonesia, di antaranya proyek LNG Abadi sebagai Operator sejak tahun 1998. 

Setelah persetujuan ini, Inpex akan terus bekerja bersama Shell sebagai mitra kerja untuk memulai aktivitas persiapan yang diperlukan dalam rangka melaksanakan kegiatan FEED (Front End Engineering Design). 

Persiapan-persiapan ini utamanya adalah mobilisasi personel untuk operasional dan kegiatan lelang pekerjaan untuk menyeleksi, memilih kontraktorkontraktor untuk melaksanakan pekerjaan FEED. Keputusan Final Investasi (FID) adalah pokok penting yang akan dicapai melalui serangkaian evaluasi yang sedang berlangsung termasuk pekerjaan FEED. 

Ketika Lapangan Abadi Masela mulai beroperasi, kata Ueda, proyek ini akan menjadi sumber utama pasokan LNG yang stabil bagi Indonesia serta di kawasan Asia dan Jepang dalam jangka panjang. Proyek ini akan memberikan kontribusi yang signifikan termasuk pembangunan kapasitas nasional Indonesia dan membawa efek berganda khususnya di kawasan timur negara ini. [KPJ]