Gandeng BPPT

Kemenperin Bidik Ekspor Tekstil Naik Dua Kali Lipat

Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori (kedua kiri) tengah foto bersama usai MoU dengan Direktur Pusat Teknologi Material BPPT Mahendra Anggaravidya dan Peneliti Utama BPPT Sudirman Habibie. (Foto: Ist)
Klik untuk perbesar
Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori (kedua kiri) tengah foto bersama usai MoU dengan Direktur Pusat Teknologi Material BPPT Mahendra Anggaravidya dan Peneliti Utama BPPT Sudirman Habibie. (Foto: Ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) membidik ekspor tekstil dan produk tekstil pada 2030 mencapai 26 miliar dolar AS atau sekitar Rp 364 triliun. Angka ini naik dua kali lipat dibanding capain ekspor saat ini 13 miliar dolar AS.

Untuk mencapai target tersebut, Kemenperin menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kerja sama terkait penyusunan Roadmap Industri Tekstil dan Apparel serta pendampingan implementasi Light House Project Industri Tekstil 4.0.

Penandatangan nota kesepahaman (MoU) dilakukan Direktur Industri Tekstil, Kulit dan Alas Kaki Kemenperin Muhdori dengan Direktur Pusat Teknologi Material BPPT Mahendra Anggaravidya di Gedung Kemenperin, Jakarta, pekan lalu.

Menurut Muhdori, dengan adanya kerja sama ini, ke depan daya saing industri TPT nasional dapat ditingkatkan lagi. Caranya dengan pengembangan dan pemanfaatan teknologi berbasis industri 4.0.

Berita Terkait : Gandeng Jepang, Kemenperin Bikin Bubur Kertas Dari Tandan Kosong Sawit

“Sehingga kita bisa mengetahui parameter seperti apa yang akan diterapkan oleh industri 4.0 pada sektor TPT. Karena nanti yang menetapkan definisi industri 4.0 untuk sektor TPT adalah BPPT,” jelas Muhdori.

Sedangkan Mahendra menambahkan, BPPT nanti akan memberikan dukungan dari sisi teknologinya, termasuk untuk industri proses dan materialnya.

Peneliti Utama BPPT Sudirman Habibie mengatakan, peta jalan yang akan dibuat selama enam bulan ke depan ini diharapkan dapat menjadi motor sekaligus ruh dari bergeraknya kembali industri TPT nasional.

Mengingat teknologi yang digunakan oleh industri TPT nasional sudah tertinggal beberapa generasi jika dibandingkan dengan negara-negara pesaing seperti Banglades dan Vietnam.

Berita Terkait : Kemenhub Apresiasi Batik Air Bantu Evakuasi WNI Dari Wuhan

Buktinya, tambahnya, bisa dilihat seperti kondisinya sekarang ini. Industri TPT nasional berada pada situasi stagnan sejak 30 tahun lalu. Sedangkan negara pesaing kita maju dengan cepat dan akhirnya menyisihkan Indonesia.

“Itu bisa kita buktikan dengan capaian nilai ekspor TPT nasional dari tahun ke tahun. Yakni sejak 30 tahun lalu angka 13 miliar dolar AS itu masih tetap sama kondisinya dengan capaian pada 2019,” hitung Sudirman.

Maka dari itu, sambungnya, saat ini industri TPT nasional tidak memiliki kemajuan yang berarti. Kenapa demikian? Karena Indonesia terlambat melakukan up-date teknologi.

“Dengan penerapan industri 4.0 pada sektor TPT, saya yakin ketertinggalan TPT nasional dengan negara-negara pesaing dapat kita kejar. Bahkan bisa kita lampaui. Namun dengan catatan, roadmap yang dihasilkan dari MoU ini harus benar-benar diterapkan oleh seluruh pemangku kepentingan,” tekannya.

Berita Terkait : Ekspor Hortikultura Bisa Melejit Hingga Rp 23 T

Khususnya pemerintah dan kalangan perbankan jangan setengah hati memberi bantuan kepada sektor industri TPT nasional tapi harus all-out. “Kita akan buktikan industri TPT yang sempat disebut sebagai sunset industri itu adalah tidak benar,” janji Sudirman.

Jika semua pihak yang berkepentingan memberi respon positif mendukung industri TPT nasional, kata Sudirman, nilai ekspor yang 13 miliar dolar AS itu bisa dua sampai tiga kali lipat diraih Indonesia.

“Saya yakin betul itu terjadi pada 2030. Kejayaan industri TPN nasional akan bersinar kembali meninggalkan Banglades dan Vietnam. Tapi dengan syarat roadmap yang disusun lewat MoU ini harus benar-benar dijalankan,” tandasnya.

Di sisi lain, pintanya, para pelaku industri TPT di dalam negeri tetap menjaga kekompakan. Khususnya antara produsen TPT dengan industri benang. Sehingga Indonesia kembali jadi yang diperhitungkan di kancah global. [DIT]