Kerek Pertumbuhan Ekonomi

JK Dorong Milenial Bangun Startup

Wapres RI, Jusuf Kalla. (Foto : istimewa)
Klik untuk perbesar
Wapres RI, Jusuf Kalla. (Foto : istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mendorong milenial untuk membangun perusahaan rintisan berbasis teknologi (startup). Adanya startup di berbagai bidang industri akan mengerek pertumbuhan ekonomi nasional.

JK mengungkapkan, saat ini roda perekonomian digerakkan anak-anak muda era milenial. Pergantian peran ini yang kemudian oleh JK disebut sebagai ‘estafet bangsa’. “Kalau Anda tidak mulai sekarang, kapan lagi? Kalau Anda tidak mulai startup, kita akan jadi konsumen (produk) China dan Jepang,” ujar JK saat meresmikan acara Ignite The Nation di Istora Senayan, Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, generasi milenial harus mencontoh semangat Bung Karno dalam membangun bangsa. “Meniru Bung Karno dulu, nyalakan semangat revolusi. (Untuk) Anda diganti, nyalakan ekonomi bangsa,” kata JK.

JK yang memiliki latar belakang sebagai pebisnis bercerita tentang perbedaan merintis usaha di masa lalu dengan sekarang. “Zaman kami dulu, cari tahu di mana pasarnya, di mana barangnya. Sekarang, tidak begitu lagi, hanya di rumah sudah dapat pembeli,” ujarnya.

Baca Juga : Dukung UMKM Terbaik Indonesia, BNI Luncurkan Bunga Nusantara

Dia mengibaratkan, sepatu pebisnis sampai tipis karena terlalu sering dipakai berjalan untuk menjajakan barang. Sementara sekarang, para pengusaha tidak perlu keluar rumah untuk berbisnis. “Kita harus mengikuti perubahan dan perkembangan inovasi dan pengetahuan,” tegasnya.

JK menjelaskan, Indonesia dapat meniru China yang cenderung efisien serta banyak melakukan inovasi dalam membangun ekonomi digital. Dengan inovasi-inovasi, lihatlah China, Alibaba hebat karena industrinya hebat, kalau berdiri sendiri, mana mungkin.

Selain mencontohkan Alibaba, JK juga menyebut nama-nama besar dunia digital lainnya seperti Google, Facebook dan Microsoft. “Berpikir seperti Google, Facebook, Microsoft. Semua dengan cara namun tidak semua bisa dilaksanakan dengan baik,” tuturnya.

Dia meyakini, startup bisa mengerek pertumbuhan ekonomi asal bisa menciptakan nilai tambah untuk industri. Pasalnya, sehebat apapun platform itu kalau tidak ada yang dijual, apa artinya. Yang dijual itu sesuatu yang berbentuk. Harus ada yang memajukan produksi.

Baca Juga : Transjakarta Siapkan Hand Sanitizer dan Masker di 80 Halte

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyarankan, startup yang se dang mencari ide membuat aplikasi terutama di bidang teknologi finansial untuk membaca nota keuangan 2020.

Dengan membaca nota ke uangan bisa membuat ide aplikasi tersendiri. Dia menuturkan, pemerintah ingin mengetahui bagaimana dana operasional untuk sekolah benar-benar sampai ke targetnya baik sekolah maupun siswa. “Menjalankan manajemen sekolah itu luar biasa penting, bisa jadi ide untuk Anda,” katanya.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong memberikan sejumlah tips agar startup di Indonesia berkembang. Terutama agar mendapatkan duit alias pendanaan dari para investor. Menurutnya, investor tidak akan menanamkan modal di startup yang terlalu berapi-api dalam bisnisnya.

Dia mengutip teori evolusi dari Charles Darwin. “Dia katakan yang bisa bertahan itu bukan yang paling besar, paling pintar, tapi yang paling bisa menyesuaikan,” kata dia.

Baca Juga : Dua Pasien Terinveksi Corona Berangsur Pulih

Menurutnya, startup yang paling diminati investor adalah yang paling mampu menyesuaikan diri atau adaptif dengan perubahan yang terjadi. “Sebuah startup yang adaptif bisa mengambil keputusan penting. Kalau perlu, mengubah rencana bisnis ketika memang diperlukan,” kata dia.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, tingkat kesuksesan startup saat ini baru lima persen. Karena itu, pemerintah tidak akan memperketat regulasi untuk startup. Menurutnya, jika pemerintah membuat regulasi yang ketat justru akan menghambat pertumbuhan startup. Bahkan jumlahnya bisa menurun. “Yang harus diregulasi ber- kaitan dengan melindungi kepentingan konsumen dan melindungi kepentingan masyarakat,” ujar Rudiantara.

Dalam konteks ini, ekosistem harus membuat regulasi sendiri bukan pemerintah. Ini dikarenakan dinamika pergerakan startup yang luar biasa. “Sebenarnya pelaku industri yang paling tahu. Mereka lah safe regulatory terhadap industri,” ujarnya.

Dia mengatakan, wadah khusus untuk startup juga menjadi penting untuk melahirkan unicorn dan decacorn baru. “Kalau pada kabinet yang akan datang ada wadah khusus ekonomi digital dan ekonomi kreatif, maka jumlah unicorn dan decacorn akan lebih banyak lagi,” pungkas Rudiantara. [ASI]