Soal Impor Sampah Bekas, Industri Minta Keringanan

Ilustrasi industri kertas. (Foto: Kemenperin)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi industri kertas. (Foto: Kemenperin)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Industri pulp dan kertas Indonesia meminta kepastian peraturan dari pemerintah untuk pengadaan  impor kertas bekas sebagai bahan baku industri kertas cokelat. Saat ini, kebijakan impor kertas bekas mengharuskan batas kandungan impuritas sebesar 0,5 persen yang sulit untuk dipenuhi oleh industri. 

Industri berharap, batas impuritas sebesar 5 persen dengan penurunan selama bertahap dalam 4 tahun ke depan untuk mencapai batas 0,5 seperti yang diharapkan oleh pemerintah. Sebetulnya batas impuritas 5 persen sesuai dengan standar internasional Institute of Scrap Reclying Industries (ISRI).

“Kami berharap pemerintah mendengarkan masukan dari industri. Kalau regulasi tersebut tidak mungkin dipenuhi oleh industri dalam waktu dekat tentu akan mempengaruhi ketersediaan bahan baku. Saat ini kemungkinan hanya cukup sampai Oktober,” ujar Ketua Asoasia Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Aryan Warga Dalam usai pembukaan rapat kerja APKI yang diselenggarakan di Jakarta International Expo (JIExpo), Rabu (28/8).

Berita Terkait : Ini 11 Permintaan Industri Tekstil Agar Bisa Berdaya Saing

Selain itu, Aryan juga menegaskan, perlu upaya keras agar collecting waste paper di dalam negeri bisa ditingkatkan. Saat ini, collecting waste paper di Indonesia belum mencapai angka 60 persen, sehingga sebagian kebutuhan kertas bekas masih harus didatangkan dari negara lain. Jepang  dan Taiwan misalnya, saat ini collecting waste paper sudah mencapai 90 persen. 

“Perlu manajemen pemilahan sampah kertas bekas dan juga dibuat mekanisme agar masyarakat bisa drop kertas bekas dengan mudah,” lanjut Aryan.  

Kegiatan Raker APKI ini dilaksanakan bersamaan dengan seminar dan pameran China Machinery and Electronic Brand di lokasi yang sama. Dalam seminar kali ini, didiskusikan juga pengalaman China dalam mengelola waste paper dan penerapan bertahap impuritas menjadi 0.5 persen di negara tersebut. 

Berita Terkait : Lawan Produk Impor, Perajin Cangkul Kalisemo Diminta Gabung Koperasi

Aryan menambahkan, jika masalah import waste paper tidak dapat diselesaikan maka banyak pabrik yang akan tidak berproduksi dan ini menjadi ancaman masuknya bahan jadi brown paper akan terjadi. Saat ini bahkan sudah mulai meningkat import bahan jadi tersebut.

Industri pulp dan kertas Indonesia merupakan salah satu industri yang mempunyai peranan penting bagi perekonomian Indonesia. Industri pulp dan kertas memberikan kontribusi terhadap PDB industri non migas sebesar 3,89 persen dan devisa negara sebesar 7,12 miliar dolar AS yang terdiri dari industri pulp 2,65 miliar dolar AS dan industri kertas 4,47 miliar dolar AS pada tahun 2018. 

Devisa tersebut diperoleh dari kegiatan ekspor yang ditujukan ke beberapa negara tujuan utama diantaranya Cina, Korea, India, Bangladesh dan Jepang untuk pulp dan Jepang, Amerika, Malaysia, India, serta Cina untuk kertas. Berdasarkan kinerja ekspor tersebut industri pulp dan kertas berhasil menduduki peringkat pertama di ASEAN dan peringkat ke delapan di dunia untuk industri pulp sedangkan industri kertas menduduki peringkat ke enam.

Berita Terkait : Ini PR Sektor Perikanan Nasional Versi Kadin

“Capaian tersebut berasal dari kinerja industri pulp dan kertas yang berjumlah 88 izin perusahaan, terdiri dari 3 industri pulp, 8 industri pulp dan kertas terintegrasi dan 77 industri kertas,” ujarnya.

Dalam rangka meningkatkan ketahanan daya saing, kata dia, kalangan pelaku usaha industri pulp dan kertas secara bertahap telah mengadopsi dan menerapkan program prioritas industri 4.0. Di antaranya pemanfaatan instalasi digital pada proses produksi, transformasi produk dengan mengkonversi mesin-mesin untuk menghasilkan produk yang lebih menguntungkan, memasuki segmen pasar baru, melakukan cost optimization dan menciptakan nilai pertumbuhan baru serta memenuhi kaidah-kaidah pembangunan berkesinambungan. [DIT]