Stok Minyak Menipis, Jonan Minta Industri Migas Berhemat

Menteri ESDM Ignasius Jonan
Klik untuk perbesar
Menteri ESDM Ignasius Jonan

RMco.id  Rakyat Merdeka - Cadangan migas semakin terbatas dan tidak bisa diperbaharui. Sehingga, pemerintah bersama pelaku industri migas harus mengedepankan efisiensi dalam menjalankan bisnis. 

“Tidak ada yang bisa membuat cadangan minyak baru, itu sudah di sana sejak lama. Jadi pendekatan kami adalah efisiensi bisnis migas,” kata Menteri ¬Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan saat membuka Indonesia Petrolium Association (IPA) ke-43 di Jakarta Convention Center (JCC), kemarin. 

Jonan berpendapat, efisiensi biaya produksi dan eksplorasi penting dilakukan dalam menghadapi situasi perekonomian global yang tak menentu seperti sekarang ini. Pasalnya, akibat situasi tersebut, harga minyak dan gas menurun drastis. 

Berita Terkait : 12 Proyek Migas Jalan Tahun Ini, ESDM Pede Lifting Migas Bakal Meningkat

“Saya pesan dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) bahwa yang penting melakukan efisiensi daripada biaya produksi atau biaya eksplorasi dengan cara menggunakan teknologi yang lebih up to date,” ujar Jonan. 

Ia berkisah, sekitar 10 tahun lalu, harga minyak dunia pernah menyentuh 120 dolar AS per barel. Kini, harga minyak terpangkas hingga hanya sekitar 58 dolar AS per barel. Harga minyak dan gas dunia saat ini tergantung dari mekanisme pasar dan situasi perekonomian global. 

“Harga minyak adalah harga yang terjadi dengan mekanisme demand and supply, serta pengaruh-pengaruh gejolak politik secara global sehingga harga minyak dan gas tak ada yang bisa menentukan,” ucapnya. 

Baca Juga : Bahas Abu Sayyaf, Mahfud MD Segera Sambangi Malaysia

Karena itu, pemerintah, sambung Jonan, terus berupaya menciptakan iklim investasi kondusif bagi industri migas. Di antaranya, dengan menghadirkan kebijakan baru untuk menggenjot eksplorasi. 

Pihaknya, juga telah memasukkan komitmen eksplorasi ketika memberikan keputusan kelanjutan pengelolaan blok migas habis kontrak. Hal ini diperlukan karena kebutuhan dana untuk eksplorasi yang cukup besar ini tidak dapat disediakan APBN. 

Jonan menyebut, saat ini Indonesia memiliki 2,5 miliar dolar AS komitmen kerja pasti dari para kontraktor migas yang dialokasikan khusus untuk eksplorasi. 

Baca Juga : Presiden Xi: Kita Harus Kompak Perangi Coronavirus

“Lalu ada kebijakan fiskal, perlahan tapi pasti kami mencoba membuat industri ini kompetitif sebisa mungkin. Saya rasa ini baik untuk operator di sini, karena harga minyak bisa naik dan tak ada yang tahu soal kondisi global, perang dagang,” beber Jonan. 

Selain itu, pemerintah juga mengedepankan soal open data atau keterbukaan data, di mana gratis untuk kontraktor dan sudah ditunggu sejak lama. [NOV]