RMco.id  Rakyat Merdeka - Menghadapi era digital saat ini, PT Jasa Raharja (Persero) berkomitmen melakukan berbagai transformasi tak hanya inovasi dari sisi keuangannya, namun juga layanan kepada masyarakat.

Dalam memudahkan korban/ahli waris dalam menerima santunan, Jasa Raharja telah melakukan transformasi proses pembayaran santunan secara digital, dengan menggandeng 3 bank pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dalam layanan Cash Management System (CMS), untuk proses transfer ke seluruh rekening bank pihak penerima santunan.

Direktur Keuangan Jasa Raharja Myland mengatakan inovasi layanan tersebut memudahkan pihak korban/ahli waris korban dalam menerima santunan, khususnya santunan meninggal dunia.

Sedangkan bagi korban kecelakaan yang mengalami luka-luka, bisa melalui proses overbooking ke rekening rumah sakit dengan sebelumnya diterbitkan surat jaminan dari Jasa Raharja atas biaya perawatan korban, sampai batas maksimal biaya perawatan yang berlaku.

Dari sisi internal, penggunaan cash card BRI untuk transaksi ke masing-masing unit kerja guna mengurangi transaksi tunai dan mencegah terjadinya fraud.

Berita Terkait : Doni Bakal Perkuat Keuangan Digital

Kemudahan pembayaran kepada vendor/suplier melalui CMS BNI dan Bank Mandiri.

"Diharapkan akan bertambah jumlah bank yang bekerja sama untuk peningkatan pelayanan tersebut. Kami juga mendukung penggunaan LinkAja sebagai tuan rumah di negeri sendiri," ujarnya.

Transformasi di bidang keuangan tidak hanya diberikan kepada masyarakat, namun juga oleh para perusahaan otobus yang ingin melakukan pembayaran IWKBU dapat dilakukan melalui aplikasi JRku, yang terkoneksi dengan BRI virtual account sehingga memudahkan bagi perusahaan otobus dalam pembayaran IWKBU.

Myland menegaskan, segala transformasi yang dilakukan ini diharapkan mampu mendorong kinerja Jasa Raharja sebagai perusahaan BUMN yang memberikan perlindungan korban kecelakaan lalu lintas.

Hal ini terbukti dari capaian kinerjanya hingga pertengahan tahun 2019. Per Juli 2019, Jasa Raharja mampu mencatatkan laba hingga Rp 915 miliar yang mendorong Return on Equity (ROE) sebesar 8,85 persen dan Return on Assets (ROA) sebesar 8,02 persen.

Baca Juga : Airin Siap Menangkan Beringin di Pilkada 2020 dan Pemilu 2024

Jasa Raharja juga telah memberikan kontribusi kepada negara dari deviden yang disetorkan mencapai Rp 891 miliar, santunan masyarakat Rp 1,49 triliun serta pajak yang disetorkan ke Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencapai Rp 289 miliar.

"Kinerja perusahaan cukup baik ditengah ketidakpastian ekonomi global dan domestik. Yield on investment kami pun mencapai 4,83 persen jauh diatas rata-rata industri," imbuhnya.

Tak hanya itu, total penyaluran dana Bina Lingkungan Jasa Raharja juga telah mencapai pertumbuhan atau sebesar Rp 15 miliar.

Sementara untuk penyaluran program kemitraan dengan menggandeng PNM telah mencapai Rp 67 miliar dan sebesar Rp 30 miliar bekerja sama dengan PT Bahana Artha Ventura.

Untuk investasi, sambung Myland, Jasa Raharja masih menempatkan instrumen yang dibolehkan oleh OJK. Melihat bursa saham yang masih challenging, pihaknya menempatkan sekitar 50 persen investasi di reksadana terutama di reksadana pendapatan tetap. Sebagian laginya di deposito dan saham.

Baca Juga : Selesaikan Polemik Moratorium, Sudirman Said Usulkan Audit Menyeluruh Pengelolaan STAN

Sementara untuk klaim, rata-rata mengalami kenaikan 8-10 persen per tahunnya. Paling tinggi terjadi saat musim mudik. Namun fatalitas sampai meninggal mengalami penurunan hingga 50 persen. Sekitar 70 persen disumbang oleh kecelakaan lalu lintas roda dua.

Di kesempatan yang sama, Head Of Information Techonology Departement Jasa Raharja Tri Haryanto mengatakan, di era digital, Jasa Raharja mengoptimalkan aplikasi layanan JRku.

Di mana aplikasi tersebut merupakan hasil kerja sama antara Jasa Raharja drngan BUMN lain, khususnya dalam pengelolaan keuangan dan informasi secara terintegrasi.

"Melalui aplikasi digitak ini, layanan penyaluran santunan kepada korban kecelakaan hanya memerlukan satu setengah hari. Kemarin korban di Cipularang kami tangani kurang dari 12 jam sudah dapat santunan lewat informasi di JRku," imbuhnya.

Per Juli 2019, transaksi yang dilakukan lewat JRku mencapai Rp 480 juta. Ke depan, aplikasi ini akan dibuat menjadi bahan mapping untuk daerah-daerah yang rawan kecelakaan, sehingga sebagai salah satu upaya bagaimana menekan angka kecelakaan. [DWI]