RMco.id  Rakyat Merdeka - Menjelang tutup tahun, Rakyat Merdeka bersama sejumlah media lainnya, berkesempatan mengunjungi Kantor Pusat National Air Traffic Controller Services (NATS) di Swanwick, Southampton, Inggris. Perjalanan ini atas undangan Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau dikenal dengan AirNav Indonesia.

Wartawan Rakyat Merdeka Kartika Sari dari London melaporkan, courtesy call ini dipimpin Direktur Keuangan AirNav Hendroyono, Jumat (28/12) pagi. Cuaca pagi itu lumayan dingin, sekitar 9 derajat celcius. Udara terasa semakin dingin menusuk kulit, karena hembusan angin yang lumayan kencang. Perjalanan dari Kota London ke Swanwick di Southampton, ditempuh sekitar 2,5 jam berkendara. Kami menumpang minibus untuk mencapai Kantor NATS.

“Kerja sama antara AirNav dan NATS sudah berlangsung selama beberapa tahun. Kunjungan ini lebih bertujuan untuk silaturahmi saja,” kata Hendro. Ikut mendampingi Hendro, Corporate Communications Manager AirNav Yohanes Sirait. Menurut Hendro, menjalin kerja sama dengan NATS sangat penting. Apalagi, NATS merupakan operator Bandara Internasional Heathrow di London, salah satu bandara paling sibuk di dunia.

Baca Juga : Hanya Orang Gila Yang Tak Percaya Corona Ada

Kedatangan delegasi AirNav disambut dengan ramah oleh Head of Client Relations and Government Affairs Chris Danner. Para petinggi NATS lainnya, yaitu Deputy General Manager Andy Bowler, Principle Consultant Nick Stevens, dan Brand PR Manager Paul Beauchamp, sudah menunggu di ruang meeting.

Tim AirNav dan wartawan Indonesia mendapat penjelasan dari petinggi NATS Andy Bowler saat diajak tour ke Operating Room Air Traffic Controller. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka)

Bowler dan Stevens kemudian memberikan presentasi mengenai profil perusahaan dan cara kerja NATS, sebagai operator bandara dan tower untuk lima bandara di Inggris. “Selain Heathrow, kami juga menjadi operator di Bandara Gatwick, London City, Luton, dan Stansted. Kami meng-handle lebih dari 2 juta penerbangan dalam satu tahun, atau lebih dari 3.000 penerbangan dalam sehari,” kata Bowler dalam presentasinya.

Menurut Bowler, jumlah karyawan NATS sebanyak 4.310 orang. Pada tahun anggaran 2017-2018, perusahaannya mampu menghasilkan total revenue 913 juta poundsterling dan laba (sebelum pajak) 132,8 juta poundsterling. Sedangkan Stevens menjelaskan, selain sebagai operator bandara dan Air Traffic Controller (ATC), NATS juga menangani Airspace Capacity Management (ACM), melayani jasa aviation services kepada sejumlah maskapai, pemerintah, dan militer di lebih dari 30 negara.

Area gedung kantor NATS di Sanwick sangat luas dan asri. Letaknya tak jauh dari laut. Setelah mendapat presentasi, kami diajak Bowler dan Stevens berkeliling untuk melihat operation rooms. Tampak para pegawai yang mengenakan pakaian casual, terlihat sibuk. Mereka serius memelototi layar komputer besar, sambil mengamati pergerakan pesawat baik yang akan take off maupun landing.

Baca Juga : RUU Cipta Kerja Semoga Tidak Ciptakan Petaka

Operation rooms yang kami kunjungi, sangat besar dan luas. Letaknya juga bukan di lantai dasar. Bukan juga di lantai tinggi. Peralatan yang digunakan sangat canggih dan berteknologi tinggi. Salah seorang staf yang sedang bertugas mengamati Bandara Heathrow, sambil menunjuk ke layar komputernya, menjelaskan, Jumat (28/12) pagi itu kebetulan sedang tidak banyak pesawat yang take off maupun landing.

“Saya minta maaf karena bandara Heathrow yang biasanya sangat sibuk, saat ini situasinya justru sebaliknya. Pergerakan pesawat yang take off maupun landing, lebih sedikit dari biasanya,” katanya. Menurut Bowler, peak season di bandara yang mereka kelola biasanya terjadi pada musim panas antara Juni hingga Agustus. “Saat ini sedang low season, sehingga banyak karyawan kami yang mengambil cuti untuk liburan Natal dan Tahun Baru,” jelas Bowler.

Tingkatkan Kerja Sama

Baca Juga : Hakekat Pamong Dan Prajurit

Chris Danner menjelaskan, kerja sama antara NATS dengan pemerintah Indonesia maupun AirNav dan Angkasa Pura (AP) I dan AP II, selama ini sudah terjalin baik. “Kami ingin agar kerja sama ini ditingkatkan lagi. Untuk itu, kami berharap agar ada penandatanganan kerja sama antara NATS dengan pemerintah Indonesia. Menteri Perhubungan Bapak Budi Karya juga sudah menyatakan ingin lebih meningkatkan kerja sama, yang selama ini sudah berjalan,” ungkap Danner.

Yohanes Sirait menambahkan, selain kerja sama dalam mengoperasikan tower di sejumlah bandara yang dikelola AirNav, pihaknya juga secara rutin mengirim staf untuk training ke kantor NATS. “Training ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas staf AirNav di bidang teknologi navigasi udara dan operator tower, sehingga kemampuan mereka akan semakin baik dan terasah. Apalagi, kapasitas bandara di Indonesia, terutama Bandara Soekarno Hatta, Denpasar dan Juanda, juga semakin besar dan terus berkembang,” kata Yohanes. [TIK]