Terapkan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik, Waskita Tegaskan Anti Korupsi

Director of HCM & System Development Waskita Karya Hadjar Seti Adji. (Foto: Ist)
Klik untuk perbesar
Director of HCM & System Development Waskita Karya Hadjar Seti Adji. (Foto: Ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Waskita Karya menunjukkan komitmennya dalam menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG). Sekalipun soal harta kekayaan. Emiten berkode WSKT ini tegas menolak praktik korupsi.

Director of HCM & System Development Waskita Karya Hadjar Seti Adji mengatakan, kinerja positif yang dicapai perseroan juga buah hasil penerapan GCG. Apalagi, Waskita senantiasa menerapkan GCG yang berkesinambungan agar dapat memberikan nilai tambah bagi stakeholders.

Tak tanggung-tanggung. Hadjar menyebut board of director hingga kepala proyek, atau pejabat lain yang memiliki fungsi strategis harus melaporkan harta kekayaannya kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sesuai dengan surat Keputusan Direksi No.32/SK/WK/PEN/2013 tentang Penetapan Pedoman Sistem LHKPN PT Waskita Karya (Persero) Tbk.

“Waskita tepat waktu menyampaikan pelaporan. Ini jadi bukti nyata kami anti korupsi, juga mendukung keinginan KPK agar perusahaan lebih komitmen dalam menerapkan GCG,” tegas Hadjar dalam keterangan persnya di Jakarta, Selasa (10/9).

Dia menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk selalu taat hukum. Dengan begitu kegiatan bisnis perusahaan bisa berjalan secara profesional dan efisien.

Berita Terkait : Emirsyah Satar Juga Didakwa Mencuci Uang Hasil Korupsi

Salah satu bukti keberhasilan GCG perseroan, yakni apresiasi sebagai ‘Top 5 GCG Issues in Construction Sector’ tahun lalu. Tahun ini Waskita juga meraih Juara 1 The Best Indonesian GCG Implementation kategori State Owned Enterprise Public Company kategori Building and Costruction, dari Economic Review. Dan atas penerapan GCG yang efektif ini, pada Agustus 2019, Waskita juga meraih penghargaan Top Governance, Risk and Compliance (GRC) 2019 dan The Most Committed GRC Leader 2019 kategori Top GRC 2019 dari Top Business Magazine.

Selain itu. Dari assessment Penerapan GCG yang dilakukan BPKP terhadap tahun buku 2018 menyatakan penerapan GCG yang dilakukan Waskita memenuhi kesesuaian dan telah diimplementasikan dengan sangat baik. Berdasarkan Kerangka Acuan Pelaksanaan Assessment GCG yang berlaku.

Hadjar menyampaikan, mengenai kebijakan sistem whistleblowing di Waskita mencakup beberapa hal. Di antaranya pengaduan, perlindungan dan jaminan kerahasiaan pelapor, penanganan pengaduan, pihak yang mengelola aduan, dan hasil penanganan dan tindak lanjut pengaduan. Waskita juga sudah menyempurnakan Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran (SPP) Whistle Blowing System (WBS).

Langkah perbaikan di internal pun dilakukan. Kata Hadjar, caranya melalui penerapan aspek teknologi berbasis digital. Sehingga setiap kebijakan dilakukan cepat dan transparan. Perseroan melakukan transformasi agar dapat bersaing dengan perusahaan lain.

"Selain itu agar perusahaan bisa menjadi market leader di bidang konstruksi. Melalui Project WIDE (Waskita Integrated Digital Enterprise) diharapkan sistem SAP akan dapat berkontribusi pada peningkatan sinergi, konsolidasi, efektivitas, serta mendukung optimalisasi dan efektivitas proses bisnis," tuturnya.

Berita Terkait : Gerakan Anti Korupsi

Setelah implementasi SAP ini selesai dilakukan, maka Waskita akan memiliki sistem ERP (Enterprise Resource Planning). Yakni sistem aplikasi IT yang terintegrasi atas seluruh sumber daya yang ada di Waskita untuk peningkatan kinerja operasional yang seiring dengan tujuan transformasi Waskita secara menyeluruh.

Hadjar mengatakan, seiring penerapan GCG dan pembaharuan sistem teknologi berbasis digital, manajemen turut melakukan transformasi di bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lingkungan, dan Mutu (K3LM) pada proyek-proyek yang sedang dikerjakan.

“Kami berupaya keras dengan mengukuhkan komitmen seluruh insan Waskita terhadap K3LM melalui perbaikan SOP, metode kerja, dan peningkatan disiplin para pegawai dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur di Indonesia,” tegas Hadjar.

Saat ini, Waskita memiliki 800 ahli muda dengan sertifikat keahlian bidang PUPR. 500 di antaranya ahli K3 konstruksi. Sejak 2018 Waskita melakukan studi banding K3 di instansi pemerintah dalam dan luar negeri, BUMN dan BUMD sebanyak lebih dari 9 kali, dan pada tahun 2019 sudah 5 kali dilakukan.

Waskita juga mendapatkan sertifikat zero accident di 33 proyek, P2 HIV AIDS sertifikat 1 emas di proyek (Becakayu koneksi), 3 silver masing-masing 2 dari proyek tol Cibitung- Cilincing, dan 1 dari proyek Bendungan Gondang. Kemudian, Waskita juga secara rutin dipercaya sebagai narasumber dalam corporate training metode konstruksi pekerjaan high risk elevated : non standar erection girder di PUPR dan PII Persatuan Insinyur Indonesia.

Baca Juga : Dompet Dhuafa Launching Aplikasi Barzah

Selanjutnya, pengelolaan dan pengendalian risiko K3LM, cross audit, cross learning/improvement telah dilakukan menggunakan aplikasi online (web base dan mobile base) real time dan fastest. Juga, secara berkelanjutan, melakukan asesment personil Quality Control (QC) dan Health, Safety, Environment HSE) melalui sistem grading ahli muda, madya dan utama untuk memastikan personel QC dan HSE yang unggul (syarat adm : memiliki sertifikat keahlian Ahli Muda, Ahli Madya K3 Konstruksi Kemnaker).

Contractor Safety Management System (CSMS) sudah diterapkan sebagai salah satu prasyarat utama vendor/mitra kerja/subkont/suplier/mandor diterima sebagai daftar Rekanan Waskita (DRW) yang seleksinya dilakukan secara ketat. “Diharapkan dengan adanya komitmen seluruh insan terhadap K3LM dapat membuat seluruh pekerjaan dilingkungan proyek diselesaikan dengan baik sesuai SOP yang ada,” pungkas Hadjar. [MEN]