RMco.id  Rakyat Merdeka - Ada kabar baik di tengah ditolaknya produk sawit kita oleh Uni Eropa. India memberikan tarif bea masuk (Refined, Bleached, and Deodorized Palm Oil/RBDPO) sawit Indonesia setara dengan Malaysia.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengatakan, dalam pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN (Asean Economic Ministers’ Meeting/AEM) ke-51 pada Selasa (10/9) malam, di Bangkok, Thailand, India menyetujui untuk menyamakan bea masuk minyak sawit RI dengan Malaysia. 

“Saya sekali lagi sampaikan untuk penyamaan bea masuk produk olahan kelapa sawit RBDPO. India bilang segera disetarakan dengan Malaysia,” kata Enggar, dikutip dari Antaranews. 

Seperti diketahui, tarif bea masuk produk olahan (refined product) sawit Malaysia hanya 45 persen dari tarif berlaku 54 persen. Sementara, bea masuk yang berlaku di ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA) adalah 50 persen. 

Berita Terkait : Hentikan Polarisasi Ini!

India selama ini memberikan keringanan bea masuk ¬RBDPO kepada Malaysia karena kedua negara itu memiliki perjanjian perdagangan bilateral berupa India and Malaysia Implement Comprehensive Economic Cooperation Agreement (IMCECA). 

Akibat hasil dari diskon tarif bea masuk yang dinikmati Malaysia, beberapa waktu terakhir, pasar minyak sawit Indonesia ke India kian tergerus, dan pasar ¬India didominasi oleh Malaysia. 

Enggar menerangkan, penyamaan bea masuk RBDPO dengan Malaysia itu menjadi salah satu permintaan akses pasar Indonesia ke India. 

Selain untuk komoditas sawit, Indonesia juga meminta ¬India menghilangkan hambatan ekspor emas ke negara dengan penduduk 1,3 miliar jiwa itu. 

Baca Juga : PGN SAKA Kembangkan Lapangan Sidayu dan Lapangan West Pangkah

“Pemerintah India juga berjanji untuk meninjau hambatan ekspor emas dari Indonesia. Hambatan itu antara lain syarat adanya bank garansi untuk ekspor emas dari RI. Pemerintah Indonesia meminta India mengevaluasi penerapan syarat bank garansi tersebut,” lanjut Enggar. 

Untuk menyeimbangkan transaksi itu, Indonesia telah menawarkan India akses pasar bagi gula mentah mereka. Indonesia mengakomodasi impor gula mentah dari India dengan menurunkan standar ¬International Commission For Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) gula mentah untuk gula kristal rafinasi yang diimpor dari 1.200 menjadi 200. 

Seperti diketahui, gula mentah asal India dinilai, memiliki kualitas yang baik. Selama ini kebutuhan gula mentah ¬Indonesia dipasok dari dua negara, yaitu Australia dan Thailand. 

“Upaya tersebut, mendapat respon positif oleh pemerintah India,” tegas Enggar. 

Baca Juga : Ini 5 Jurus BI Pulihkan Ekonomi

Pada 2018, India merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-4 dan negara sumber impor ke-9 bagi Indonesia. Total Perdagangan Indonesia-India pada 2018 mencapai 18,7 miliar dolar AS, dengan ekspor Indonesia ke India sebesar 13,7 miliar dolar AS dan impor sebesar 5,0 miliar dolar AS. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar 8,7 miliar dolar AS. 

Produk ekspor utama Indonesia ke India pada 2018 adalah batu bara sebanyak 5,37 miliar dolar AS, minyak kelapa sawit dan turunannya 3,56 miliar dolar AS, karet alam 429,2 juta dolar AS, serta bijih tembaga dan konsentratnya senilai 414,9 juta dolar AS. 

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal mengatakan, pemerintah harus bergerak lebih cepat untuk menyelamatkan pasar ekspor minyak sawit seiring turunnya ekspor ke Uni Eropa akibat pelarangan CPO dan turunannya di Benua Biru tersebut. 

“Kita masih menjadikan komoditas sawit sebagai sumber utama ekspor. Jadi tidak ada pilihan lain dalam jangka pendek untuk terus memperjuangkan CPO dan berupaya membuka pasar baru untuk memasarkan sawit dan produk turunannya. Pemerintah juga harus berupaya meningkatkan serapan di pasar ekspor yang sudah ada,” ujar Faisal. [NOV]