RMco.id  Rakyat Merdeka - Inilah pengalaman seru menyaksikan duel Liga Premier Southampton Vs Manchester City bersama tim AirNav Indonesia. Berikut laporan lengkap wartawan Rakyat Merdeka Kartika Sari dari Stadion St. Mary's, Southampton, Inggris.

Untuk pertama kalinya, saya bisa menyaksikan pertandingan sepak bola liga Inggris di Negerinya Ratu Elizabeth. Dua hari menjelang pergantian tahun, saya berkesempatan menonton pertandingan antara tim Manchester City Vs Southampton bersama Direktur Keuangan AirNav Indonesia, Hendroyono, Manager Corporate Communications Yohanes Sirait, sejumlah staf AirNav, dan beberapa wartawan dari sejumlah media Indonesia di St. Mary’s Stadium, Southampton, Minggu (30/12) petang waktu Inggris atau Senin dinihari WIB.

Waktu di Inggris tujuh jam lebih lambat dari Jakarta. Perjalanan dari Kota London menuju Southampton dengan bus, ditempuh sekitar 2,5 jam dan bebas macet. Tiba di Southampton, kota kecil yang indah nan bersih, kami mampir untuk makan siang di Restoran China. Setelah makan siang, perjalanan lanjut ke stadion. Di sepanjang jalan menuju stadion, saya lihat ratusan penonton berjalan kaki. Banyak dari mereka yang memakai kaos dan atribut klub Southampton: warna merah bergaris putih.

Ya, karena pertandingan digelar di kandang Southampton, para penontonnya kebanyakan pendukung dari klub itu. Saya juga melihat deretan bus besar berjejer rapi di sepanjang jalan menuju stadion. Ternyata, itu adalah bus yang mengangkut para pendukung Manchester City. Jumlah pendukung Manchester City yang datang lumayan banyak. Mesti tidak sebanyak pendukung klub Southampton, tentunya.

Pendukung kedua tim, Southampton dan Manchester City, tampak mulai memadati Stadion St'Mary, Southampton Inggris, untuk menyaksikan duel pekan ke-20 Liga Premier. (Foto: Kartika Sari/Rakyat Merdeka)

Memasuki halaman stadion, ribuan penonton sudah mengular, antre menuju pintu masuk. Mereka tampak tertib. Tak ada aksi saling dorong atau menyela antrean. Nama setiap penonton tercantum di tiket yang dibeli secara online. Untuk masuk stadion, penonton harus men-tap barcode yang terdapat di tiket. Pintu pun terbuka secara otomatis.

Usia penonton yang hadir pun sangat beragam. Selain anak muda, saya lihat banyak juga kakek-kakek, nenek-nenek dan anak-anak. Penonton perempuan juga lumayan banyak. Ukuran stadion berkapasitas 32.000 penonton itu, lumayan besar, hampir setengahnya Stadion Glora Bung Karno (GBK) di Jakarta. Saat kami memasuki stadion, terdengar suara gemuruh ribuan penonton. Tak lama kemudian, pertandingan dimulai. Kami duduk di sayap kanan bagian atas di belakang gawang. Teriakan, tepuk tangan, sorakan, dan nyanyian dari para pendukung kedua tim, terdengar bergemuruh. Para penonton tampak bersemangat memberikan dukungan kepada tim kesayangannya. Cuaca dingin yang menusuk, tak membuat semangat para penonton surut.

Baca Juga : Kadin Pede UU Ciptaker Bikin Ekonomi RI Lari Kencang

Wow... suasana pertandingan dan sambutan penonton luar biasa seru, ramai, dan heboh. Saya lihat stadion penuh dan hanya satu atau dua kursi saja yang kosong. Tak lama setelah pertandingan dimulai, tim Manchester City langsung mencetak gol. Gol dicetak oleh David Silva. Penjaga gawang Southampton, Alex McCarthy, tak kuasa menahan tendangan keras Silva. Para pendukung Manchester City yang sebagian besar memakai kaos biru, tampak bersorak riang. Menyaksikan timnya tertinggal, para pendukung Southampton berteriak sambil menyanyi dan bertepuk tangan, memberikan semangat kepada para pemain tim jagoannya.

Mereka bersorak gembira saat pemain Southampton, Pierre-Emile Hojbjerg, mencetak gol setelah berhasil membobol gawang Machester City yang dijaga Ederson Santana de Moraes, sehingga kedudukan menjadi imbang 1-1. Beberapa menit kemudian, Manchester City lewat tendangan James Ward-Prowse, kembali mencetak gol sehingga kedudukan menjadi 2-1. Skor 2-1 berlangsung sampai turun minum.

Setelah timnya tertinggal, wajah para pendukung Southampton tampak sedih dan muram. Break di babak pertama selama 15 menit, dimanfaatkan para penonton untuk membeli makanan, minuman atau ke toilet. Saya lihat terdapat beberapa counter yang menjual makanan seperti hamburger, hotdog, kentang goreng, dan pizza. Antrean ke toilet mengular, termasuk di toilet perempuan. Namun, karena para penonton tertib dan jumlah toiletnya banyak, maka antre pun jadi lebih cepat.

Toiletnya juga bersih lho. Tidak seperti toilet di stadion sepakbola di tanah air yang kotor atau mampet, nggak ada tisu pula. Dua pria Inggris sempat berbincang dengan saya. Mereka bertanya, saya dari mana. Saat saya jawab dari Indonesia, keduanya langsung nyeletuk, "Wow dari Indonesia, jauh banget. Kami mendengar mengenai musibah tsunami di Indonesia dan kami ikut prihatin.”

Lalu salah satu dari mereka yang mengaku bernama David, bertanya kepada saya, "Kamu pendukung tim mana?" Dengan senyum, saya jawab: pendukung Southampton dong. Dia langsung tersenyum lebar, lalu mengajak saya bersalaman. “Terima kasih... senang sekali karena kamu fans Southampton.

"Sayang sekali, tim kami sedang tidak beruntung dan bermain tidak terlalu bagus pada musim ini. Sepertinya Southampton sulit untuk menang karena di babak pertama saja kami sudah tertinggal 2:1,” curhatnya, dengan wajah murung.

Baca Juga : Mahfud MD: Jadikan Protokol Kesehatan Bagian Kampanye Kreatif

Saya mencoba menghiburnya. “Jangan sedih dan menyerah dulu dong. Ini kan baru babak pertama. Ingat, dalam pertandingan bola terkadang ada keajaiban. Siapa tahu Southampton beruntung dan akan bangkit, mencetak gol di babak kedua,” kata saya, yang langsung disambut David dengan senyum. “Terima kasih. Semoga saja tim kami beruntung dan bisa mencetak gol lagi,” harapnya.

Berguru Ke Hooligan

Memasuki babak kedua, penonton dari kedua kubu tampak kembali bersorak, memberikan dukungan kepada tim kesayangannya. Pemain Manchester City, Sergio Aguero kembali mencetak gol sehingga kedudukan menjadi 3-1 hingga pertandingan berakhir. Wajah ribuan penonton Southampton pun terlihat sangat sedih dan muram. Gurat kekecewaan tampak jelas di wajah mereka. Beberapa penonton bahkan meninggalkan stadion sebelum pertandingan selesai.

Kekalahan Southampton sebetulnya tidak menggagetkan. Apalagi dalam daftar ranking Liga Inggris, Manchester City saat ini berada di posisi kedua, hanya setingkat di bawah Liverpool yang menempati posisi puncak. Sementara Southampton berada jauh di posisi bawah, yaitu peringkat ke 17. Sebetulnya, kebanyakan dari kami adalah pendukung Manchester City. Termasuk, Direktur AirNav Hendroyono, yang juga penggemar sepakbola. Tapi karena kami duduk di sektor para pendukung Southampton, saat tim Manchester City mencetak gol dan beberapa dari kami bertepuk tangan, sejumlah fans Southampton melihat ke arah kami dengan tatapan tidak happy.

Sadar berada di kandang pendukung lawan, akhirnya saat pemain Southampton mencetak gol, kami pun secara spontan ikut bertepuk tangan dan bersorak. Lucu dan seru juga. Pertandingan selama dua jam itu berakhir. Satu per satu penonton meninggalkan stadion dengan tertib.

Sementara kami memilih keluar stadion paling belakangan karena mau foto-foto dulu selama sekitar 15 menit. Puas berfoto ria, kami keluar stadion dan mampir ke toko souvenir. Alangkah kagetnya kami, karena suasana di luar stadion sudah sepi. Ribuan penonton yang sebelumnya memadati stadion, sudah bubar hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Termasuk deretan bus yang mengangkut fans Manchester City, sudah beranjak.

Baca Juga : Ini Penjelasan Airlangga Soal Hoaks UU Cipta Kerja

Suasana dan pemandangan ini sangat berbeda jauh dengan di Jakarta. Setiap kali ada pertandingan sepakbola di Stadion GBK misalnya, jalanan di sekitar stadion setelah pertandingan, pasti macet dan heboh. Para penonton dan bonek biasanya memilih nongkrong, memenuhi jalanan di sekitar stadion, bikin macet selama berjam-jam sehingga sering mengganggu para pengguna jalan.

Bahkan kadang saat pertandingan usai, terjadi kerusuhan karena fans yang timnya kalah, mengamuk, merusak dan menyerang pendukung tim lawan. Sangat menakutkan dan menyebalkan. Saya pun membayangkan, seandainya para penonton sepakbola di Tanah Air bisa tertib, sopan dan disiplin seperti di Inggris, negara yang rakyatnya dikenal sebagai penggila bola dan ngetop dengan hooligan-nya yang “gila” dan liar, tapi ternyata sangat tertib dan berbudaya.

Tidak ada pendukung Southampton yang marah atau mengamuk meski tim kesayangannya kalah. Tak ada botol melayang atau suara petasan yang memekakan telinga. Apalagi penonton yang menyerang pendukung lawan. Semuanya tertib sehingga petugas Security di stadion tidak stres dalam menjalankan tugasnya. Sepertinya para penoton dan bonek penggila bola di Indonesia, mesti belajar dari para hooligan Inggris. ***