Inflasi 2018 Rendah

Darmin Tepis Daya Beli Rakyat Letoy

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasutio (Foto: Twitter @DarminNasution)
Klik untuk perbesar
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasutio (Foto: Twitter @DarminNasution)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi sepanjang 2018 sebesar 3,13 persen. Angka tersebut lebih rendah dari target pemerintah yaitu 3,5 persen.  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menepis anggapan rendahnya inflasi karena daya beli masyarakat turun. 

“Kalau daya beli turun, harga nggak naik. Ini kan masih ada naiknya. Kenapa lebih rendah? Karena kami bisa mengendalikan harga,” kata Darmin di Jakarta, kemarin.  Darmin menerangkan, bukti pemerintah bekerja mengendalikan harga bisa dilihat dari kondisi awal tahun 2018. Pada Januari 2018 inflasi cukup tinggi yaitu 0,62 persen secara bulanan dan 3,25 persen secara tahunan. Kemudian, pemerintah mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan. Hasilnya, inflasi pada bulan berikutnya turun menjadi 0,17 persen secara bulanan dan 3,18 persen secara tahunan. 

Baca Juga : Gelar Speed Mentoring Untuk Perempuan Muda

Selain itu, lanjut Darmin, indikasi tidak adanya penurunan daya beli juga bisa dilihat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih di kisaran 5 persen. BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95 persen pada kuartal I-2018, kemudian kuartal II 5,14 persen, dan kuartal III, 5,17 persen. 

Darmin mengungkapkan, pada tahun ini, pemerintah membidik inflasi berada di rentang 2,5-4,5 persen atau sama dengan target tahun ini. Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, inflasi sepanjang 2018 terjaga pada 3,13 persen karena stabilitas harga energi domestik dan terkendalinya harga pangan. Selain itu, kondisi itu didukung oleh stabilitas pertumbuhan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan peningkatan investasi. 

Baca Juga : KAI Sterilisasi Kereta dan Siapkan Rail Clinic

“Saya rasa kalau inflasi masih dalam range APBN, kita anggap itu baik. Apalagi ini masih di bawah 3,5 persen,” ujar Ani sapaan akrab Sri Mulyani. Capaian tersebut, lanjut Ani, menunjukkan Indonesia memiliki kemampuan untuk menjaga stabilitas. Kepala BPS Kecuk Suhariyanto menilai positif rendahnya inflasi sepanjang tahun 2018. 

“Ini capaian yang menggembirakan. Harapannya di 2019 harga barang dan kebutuhan stabil,” ujar Kecuk dalam konferensi pers dikantornya, Jakarta, kemarin. Kecuk menjelaskan, penyebab utama inflasi sepanjang 2018 adalah kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi dengan andil sebesar 0,26 persen. Kemudian, kenaikan harga beras dengan kontribusi terhadap infilasi mencapai 0,13 persen. Namun demikian, menurut Kecuk, andil harga beras lebih rendah dibandingkan 2017 yang sebesar 0,16 persen. Penyumbang inflasi lainnya kenaikan harga rokok kretek filter dengan andil 0,13 persen.

Baca Juga : Polri Bakal Tindak 5 Berita Hoaks Terkait Virus Corona

Dari sektor kebutuhan masyarakat, daging ayam ras menyumbang 0,12 persen terhadap inflasi, ikan segar 0,10 persen, tarif angkutan udara 0,10 persen, tarif sewa rumah 0,09 persen, serta bawang merah 0,07 persen. 

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal memuji rendahnya inflasi 2018. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan keberhasilan pemerintah mengontrol harga-harga komoditas yang diatur (administred price). “Harga BBM tidak naik sehingga dari sisi transportasi tidak ada yang disebabkan cost fuel inflation lebih karena demand yang meningkat,” katanya. [KPJ]