RMco.id  Rakyat Merdeka - Kondisi maskapai Sriwijaya Air memburuk setelah mengalami dispute atau pecah kongsi dengan Garuda Indonesia. Nasibnya ditentukan hari ini.

Menhub, Budi Karya Sumadi mengungkapkan, untuk menyelesaikan masalah tersebut, akan ada pertemuan internal dengan direksi Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia. “Hari ini saya rapatkan. Setelah kita rapatkan nanti kita informasikan," katanya kepada Rakyat Merdeka disela-sela acara 12th Cooperation Forum di Semarang Jawa Tengah, Senin (30/9).

Berita Terkait : Gairahkan Bisnis Penerbangan Lagi, Menhub Gandeng YouTuber

BKS-sapaan akrab Budi Karya melihat perselisihan kerjasama antara Sriwijaya dan Garuda jangan dilihat secara individual saja. Tapi, juga harus memperhatikan keselamatan penerbangan masyarakat. Artinya, kedua maskapai harus menahan diri untuk kepentingan bersama.

Indikasi memburuknya bisnis perusahaan terlihat dari laporan operasional maskapai. Dalam salinan data fleet Sriwijaya Air yang diterima  per 27 September 2019, total maskapai yang beroperasi pada hari itu tinggal 11.

Baca Juga : Nadal Tembus Semifinal Prancis Terbuka

Sedangkan maskapai Sriwijaya seluruhnya berjumlah 30 unit. Normalnya, 27 maskapai beroperasi setiap hari. Namun saat ini ada sekitar 18 maskapai di-grounded dan satu sisanya diposisikan sebagai cadangan.

Selain penurunan jumlah operasional maskapai, on time performance atau OTP Sriwijaya melorot. Data OTP Sriwijaya di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada hari yang sama hanya mencapai 46,67 persen dengan frekuensi 72 penerbangan.

Baca Juga : Mantan Dirut Maryono Jadi Tersangka, BTN Hormati Proses Hukum

Kemudian, dari sisi tunggakan, saat ini Sriwijaya masih memiliki utang kepada sejumlah BUMN. Ke Garuda Maintenance Facility atau GMF AeroAsia, misalnya, utang Sriwijaya tercatat masih 58 juta dolar AS atau sekitar Rp 812 miliar. Sedangkan dengan Pertamina, Sriwijaya masih menanggung tunggakan Rp 791,44 miliar. [KPJ]