Jalankan Perintah Jokowi, Menhub Ajak Pengusaha Genjot Ekspor dan Investasi

Menhub Budi Karya Sumadi
Klik untuk perbesar
Menhub Budi Karya Sumadi

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meminta para pengusaha untuk ikut mendorong ekspor dan investasi. Pasalnya, Presiden Jokowi menginginkan kedua sektor itu ditingkatkan pertumbuhannya. 

Menhub menuturkan, saat ini ekonomi makro domestik tidak begitu baik kondisinya. Hal ini seiring dengan meningkatnya ketidakpastian global dan sejalan dengan kondisi perang dagang. 

Selain itu, ada prediksi muncul potensi terjadinya resesi ekonomi dunia. Menhub mengatakan, pemerintah memastikan bakal memberikan dukungan dengan memberikan kemudahan perizinan. 

Berita Terkait : Dukung Keselamatan Navigasi, Kemenhub Resmikan Fasilitas Pelayaran

Salah satunya, memberikan kegiatan pengelolaan barang milik negara melalui skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). 

“Di Kementerian Perhubungan misalnya, paling tidak sudah ada 5-6 bandar udara yang sudah dikelola oleh swasta. Bahkan salah satunya oleh operator dunia,” kata BKS, sapaan Budi Karya di acara Indonesia Transport, Supply Chain and logistic (ITSCL) 2019 yang di¬gagas oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) di Jakarta, kemarin. 

Selain itu, Menhub menjelaskan, saat ini kondisi aviasi dunia juga masih dipenuhi persaingan ketat. Dalam hal ini, hub atau titik penghubung belum bisa bergerak ke Indonesia. 

Berita Terkait : Genjot Ekspor, Mendag Kunker Ke India

Untuk itu, BKS mengajak pelaku usaha logistik dan transportasi serta asosiasi untuk meningkatkan efisiensi. 

Wakil Ketua Kadin bidang Transportasi, Carmelita Hartoto mengatakan, ke depan tantangan bagi industri transportasi dan logistik bakal makin sulit. Salah satunya karena adanya pelambatan ekonomi global yang berdampak pada perdagangan dunia. 

“Saya meyakini sektor transportasi akan terus tumbuh, meski kinerjanya akan semakin berat. Mengingat kondisi global tidak pasti akibat perang dagang, yang sedikit banyak memengaruhi ekonomi domestik,” katanya. 

Berita Terkait : Inaplas Minta Pemerintah Percepat Izin Impor Garam Industri

Menurutnya, selain dari tekanan eksternal, tekanan juga datang akibat biaya logistik nasional yang masih mahal. 

Carmelita menilai, perbandingan biaya logistik saat ini mencapai 24 persen terhadap Pro¬duk Domestik Bruto (PDB). Di negara lain seperti Vietnam misalnya, perbandingan biaya logistik hanya mencapai 20 persen, Thailand 15 persen, Malaysia 13 persen dan Jepang 8 persen. [KPJ]