Kurangi Ketergantungan Komoditas

Jilid Dua, Jokowi Fokus Genjot Investasi dan Ekspor

Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro (Foto:Istimewa)
Klik untuk perbesar
Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro (Foto:Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Di periode kedua, pemerintah Jokowi akan tetap fokus mendorong peran investasi dan ekspor serta mengurangi ketergantungan pada komoditas. 

“Pengembangan industri berbasis manufaktur akan menjadi prioritas utama Presiden Jokowi pada tahun 2020 hingga 2024,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Bambang Brodjonegoro, kemarin. 

Pemerintah juga menyiapkan tiga skenario target pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertama, target paling optimistis mencapai 6 persen. Kedua, target optimistis sebesar 5,7 persen. Ketiga, target pesimis hanya di kisaran 5,4 persen. 

Baca Juga : Bank DKI Sukses Lakukan Sinergi BUMD, OJK Minta BPD Lain Tiru

Untuk skenario tertinggi, Bappenas menetapkan rata-rata pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen. Rinciannya, pada 2020 ekonomi ditargetkan menyentuh 5,5 persen, 2021 sebesar 5,7 persen, 2022 sebesar 5,9 persen, 2023 sebesar 6,2 persen, dan 2024 sebesar 6,5 persen. 

Sementara, dalam UndangUndang (UU) APBN 2020, pertumbuhan ekonomi dipatok sebesar 5,3 persen. Angkanya sama seperti asumsi yang ditetapkan pemerintah dalam APBN 2019. 

“Tentu ini tergantung kepada Presiden setelah 20 Oktober, range (kisaran) mana yang mau diambil. Kami belajar bahwa ternyata kompleksitas pertumbuhan ekonomi saat ini tidak bisa hanya mengandalkan upaya domestik, tapi harus melihat dengan seksama apa yang terjadi di global,”ujarnya. 

Baca Juga : Shopee Liga 1 2020, Persija Kalahkan Borneo FC 3-2

Dikatakan Bambang, Presiden Jokowi punya modal besar memulai periode kedua pemerintahannya. Salah satunya, tingkat kemiskinan yang saat ini sudah di bawah 10 persen. Bambang membeberkan, di pemerintah Jokowi jilid I, tingkat kemiskinan turun dari 11,3 persen menjadi 9,4 persen. 

“Rasio ini juga menunjukkan tingkat ketimpangan semakin membaik dari semula di angka 0,406 menjadi 0,382, dan tingkat pengangguran terbuka turun dari 5,7 persen menjadi 5,0 persen,” kata Bambang. 

Dilanjutkannya, meski pemerintah Jokowi jilid I dimulai di tengah kondisi perekonomian global yang mulai bergejolak, namun pemerintah sukses mencatatkan berbagai hasil positif. 

Baca Juga : Malam Ini, 69 WNI Diamond Princess Tiba di Bandara Kertajati, Majalengka

Tidak hanya itu, menurut ¬Bambang, untuk pertama kalinya selama sejarah Indonesia merdeka, pemerintahan Jokowi-JK sukses menurunkan tingkat kemiskinan menjadi single digit. 

Ia melanjutkan, per September 2019, inflasi berada di kisaran 3,39 persen per September 2019. Angka ini berada dalam target RPJMN 2015-2019 di kisaran 3,5 persen sampai 5 persen. 

“Ini juga prestasi pemerintah yang cukup baik, karena kami bisa menjaga stabilitas inflasi di tingkat rendah untuk mempertahankan daya beli masyarakat,” tuturnya. [NOV]