Perhatikan Pekerja Migran, Apjati Apresiasi Pidato Presiden Jokowi

Ketua Umum Apjati (tengah) Ayub Basalamah bersama Dubes Indonesia untuk Jepang Arifin Tasrif (kedua dari kanan) usai membahas peluang kerja sama dengan Jepang. (Foto: Ist)
Klik untuk perbesar
Ketua Umum Apjati (tengah) Ayub Basalamah bersama Dubes Indonesia untuk Jepang Arifin Tasrif (kedua dari kanan) usai membahas peluang kerja sama dengan Jepang. (Foto: Ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Perusahaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (Apjati) mengapresiasi pidato Presiden Jokowi yang menjadikan pembangunan sumber daya manusia (SDM) sebagai prioritas utama.

"Visi Presiden membangun SDM yang pekerja keras, dinamis. terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan pilihan tepat karena hanya dengan SDM unggul suatu bangsa bisa maju dan mampu bersaing dengan negara lain," kata Ketua Umum Apjati Ayub Basalamah di Jakarta, Senin (21/10).

Berita Terkait : Segera, Agendakan Jokowi Ke Kediri

Ayub mengatakan, di samping sumber daya alam (SDA) yang melimpah, Indonesia juga dianugerahi SDM yang juga berlimpah. Indonesia merupakan negara yang berpenduduk keempat terbesar di dunia dengan komposisi penduduk usia produktif yang semakin dominan.

Peningkatan kualitas SDM, baik dari segi pengetahuan (terdidik) maupun keterampilan (skill) yang semakin baik akan menjadi sumber devisa yang besar bagi negara. SDM yang berkualitas dan memenuhi kebutuhan kerja di dalam negeri. 

Berita Terkait : Jokowi: Indonesia Akan Selalu Bersama China

“Perusahaan dalam dan luar negeri akan mendapatkan pekerja terdidik dan terampil. Tidak hanya jadi pekerja, SDM unggul juga jadi ladang subur bagi tumbuhnya usaha rintisan berbasis teknologi digital (startup) sehingga mereka mampu mandiri, bahkan membuka peluang kerja bagi anak bangsa," jelasnya.

Ayub juga meminta pembangunan SDM yang unggul perlu memperhatikan pekerja migran yang akan berangkat ke luar negeri.  Ayub menjelaskan, Filipina mengandalkan pemasukan utamanya dari sektor pekerja migran. Jumlah penduduknya lebih kecil dari Indonesia tetapi nilai remitansinya setahun 24 miliar dolar AS, sementara Indonesia hanya 8,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 127 triliun per tahun.

Berita Terkait : Jokowi Keluhkan Perizinan Yang Masih Ruwet

Ke depan, kata Ayub, tantangan dalam mengatasi pengangguran di dalam negeri ke depan makin kompleks. Untuk itu, pilihan bekerja ke luar negeri dengan kompetensi yang mumpuni merupakan pilihan yang harus dipersiapkan.

"Apalagi kita harus menghadapi kondisi bonus demografi Indonesia yang diprediksi akan terjadi pada tahun 2020-2030 yang akan datang," ucapnya. [KPJ]