Ekonomi Global Masih Tertekan

Bos BI Ramal Ekonomi Cuma Tumbuh 5,05 Persen

Klik untuk perbesar
Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto:M Qori Haliana/RM)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan mencapai 5,1 persen tahun ini. Pertumbuhan hanya sebesar 5,05 persen. 

Hal ini disebabkan adanya tekanan ekonomi dan keuangan global yang belum kondusif. 

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan global yang dibagi ke dalam tiga kelompok. 

Berita Terkait : Jokowi Pasrah dan Bersyukur

Pertama, adanya ketidakpastian global dan penurunan ekonomi global yang diakibatkan perang dagang dan sejumlah risiko yang berasal dari Brexit dan geopolitik. 

Kedua, masih adanya volatilitas yang masih tinggi dalam aliran modal asing dan nilai tukar mata uang yang disebabkan oleh banyaknya negara yang melakukan injeksi likuiditas di tengah risiko yang masih tinggi. Dan yang ketiga, semakin maraknya ekonomi keuangan digital. 

“Dari tantangan-tantangan ini, kami prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini di angka 5,05 persen. Namun, bila ditambah ada deviasi, bisa saja mencapai 5,06 persen. Tapi kurang lebih mendekat 5,1 persen,” kata Perry di Jakarta, kemarin. 

Baca Juga : Garuda Muda Siap Raih Emas SEA Games 2019

Ia melanjutkan, konflikkonflik yang terjadi tak hanya memperlambat laju ekonomi global. Tetapi juga menghambat pertumbuhan perdagangan internasional dan menurunkan harga komoditas. 

Tentunya ini tidak menguntungkan bagi berbagai negara, termasuk Indonesia. Agar ekonomi bisa tumbuh lebih tinggi, saran Perry, Indonesia harus bisa melakukan inklusi ekonomi dan keuangan. 

“Banyak negara yang kebijakan moneter bank sentralnya dovis. Suku bunganya rendah dan menambah likuiditas. Namun, di saat yang sama, premi risikonya tinggi,” tambah Perry. 

Baca Juga : BNI Indonesian Masters 2019, Saksansin Bertekad Pertahankan Gelar

Menurutnya, Indonesia juga harus tetap bisa menjaga kon sumsi, perlindungan konsumsi, dan juga antisipasi dari adanya risiko cyber yang meningkat. [NOV]