Pemerintah Nggak Mau Ikutan Bakar Duit Ala Gopay Dan OVO

Klik untuk perbesar
Ilustrasi LinkAja. Ist

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah menilai perkembangan bisnis antar perusahaan pembiayaan berbasis teknologi (Fintech) sangat cepat.

Saking pesatnya, aplikasi pembayaran milik BUMN LinkAja dipastikan tak sanggup jika harus bersaing melawan kemajuan Fintech besar seperti Gopay, OVO, Dana, dan lainnya.

Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementerian BUMN, Gatot Trihargo mengungkapkan perkembangan teknologi digital di bidang keuangan bagi siapapun adalah prospek yang menjanjikan.

Atas dasar itu BUMN pun terdorong meluncurkan LinkAja sebagai perusahaan Fintech besutan pemerintah.

“Di era serba digital seperti sekarang kita sudah memiliki LinkAja,” katanya saat ditemui dalam acara BUMN Award yang digelar Warta Ekonomi di Balai Kartini, kemarin.

Namun keberadaan LinkAja, diakui Gatot masih tertinggal jika dibandingkan perusahaan startup di bidang Fintech yang saat ini sudah mapan.

Baca Juga : SEA Games 2019 : Ruselli Perak, Praveen/Melati Raih Emas

Perusahaan besar di bidang Fintech saat ini sangat menguasai pasar pembayaran di wilayah kota besar terutama Jabodetabek. “Tapi LinkAja tidak akan mampu bersaing seperti dengan OVO dan Gopay,” kata Gatot. Gatot menganggap ini wajar.

Pasalnya, kebanyakan Fintech memiliki pendanaan yang nyaris tidak terbatas. Kondisi ini sangat berbeda dengan perusahaan pelat merah yang sumber danannya terbatas dari pemerintah.

“Anggaran mereka sebagai startup sangat besar sekali. Nggak mungkin kita bersaing untuk bakar-bakar (uang),” tegasnya.

Meski demikian, Gatot mengatakan akan terus mendorong perkembangan LinkAja agar tetap tumbuh. Pihaknya akan melakukan sinergi BUMN khususnya di bidang transportasi sebagai upaya meningkatkan pertumbuhan LinkAja.

“Oleh karena itu kami masuk ke sektor yang memiliki customer yang kuat salah satunya seperti transportasi,” kata dia.

Gatot mengungkapkan, di era serba digital memang menjadi tantangan sendiri bagi BUMN. Pihaknya sudah menyiapkan strategi untuk LinkAja.

Baca Juga : Jokowi: Korupsi Hancurkan Kehidupan Negara dan Rakyat

Nantinya LinkAja akan difokuskan untuk menjalankan bisnisnya di sektor yang memang banyak peminatnya. Tahap awal ini dia melihat baru transportasi.

“Perkembangan Fintech akan kami teruskan. Di transportasi LinkAja bisa bekerja sama dengan KAI, Jasa Marga dan lainnya. Kedepannya akan seperti itu,” terangnya.

Perlu diketahui LinkAja merupakan perusahaan patungan antara Bank Mandiri, BNI, BRI, BTN, PT Pertamina, PT Asuransi Jiwasraya, dan lainnya yang berdiri pada 21 Januari 2019. Dia kembali menegaskan, bahwa digitalisasi itu penting.

Perusahaan BUMN harus mengikuti kemauan pasar. Jangan melawan tren tapi ikuti berdaptasi dengan marketnya.

“Kami ingin mengikuti masyarakat maunya kemana bukan bisnis kami yang maunya kemana,” tegas Gatot.

Sebelumnya, CEO LinkAja, Danu Wicaksana menuturkan, pengguna aplikasinya sekarang lebih terpenetrasi di luar area Jabodetabek.

Baca Juga : Wapres Optimistis Pemberantasan Korupsi Semakin Baik

“Jadi kami memang agak berbeda dengan pemain lainnya yang terpenetrasi di kota besar. Kita hanya seperempat yang di Jabodetabek,” ujar Danu.

Danu mengatakan, ada berbagai hambatan yang dirasakan, khususnya mengenai penetrasi ke seluruh masyarakat Indonesia. “Banyak juga kalau di luar Jabodetabek. Salah satunya edukasi dan internet,” sebutnya.

Diketahui, pengguna LinkAja yang teregistrasi sudah lebih dari 32 juta, dan masih akan dilakukan pengembangan. “Kami lagi mencoba mengembangkan marketnya jauh lebih besar,” katanya. [JAR]