REI Targetkan Bangun 300 Ribu Lebih Rumah Tahun Ini

Perumahan. (Foto: Housingestate)
Klik untuk perbesar
Perumahan. (Foto: Housingestate)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Real Estate Indonesia (REI) mencatat sepanjang tahun ini sudah membangun 300 ribu rumah layak huni. Rumah tersebut tersebar di 34 provinsi di seluruh wilayah Indonesia.

Hal tersebut dikatakan Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi dan Anggota DPP REI Slamet Utomo seperti dikutip dari Antara di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (7/11).

Menurut dia, REI menargetkan sampai akhir tahun nanti rumah yang dibangun bisa mencapai lebih dari 300 ribu. Namun hal itu masih terkendala karena habisnya kuota pembiayaan rumah bersubsidi dengan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Berita Terkait : Wamen PUPR Keluhkan Pembangunan Di Daerah Lambat

"Sekarang kan kuota kredit rumah rakyat atau bersubsidi dengan skema FLPP sudah habis, sehingga berdampak pada banyaknya beberapa daerah di Indonesia yang pembangunan perumahan FLPP-nya terhambat," ujar dia.

Menurut dia, dampaknya cukup signifikan bagi pembangunan rumah FLPP di Indonesia. Selain konsumen yang rugi, perusahaan pembangun juga sudah pasti ikut merugi.

"Mereka (konsumen) yang sudah membayar uang muka tidak bisa menempati rumah itu atau belum bisa diakadkan," ujar Slamet.

Berita Terkait : Garap Proyek Senegal, Indonesia Diminta Presiden Guinea Bangun 500 Ribu Unit Rumah

Lebih lanjut, ia mengatakan, bahwa dari 300 ribu unit rumah yang dibangun di seluruh wilayah di Indonesia itu dibangun selama kurang lebih 3-4 tahun terakhir.

"Pemerintah pusat kan mempunyai program 1 juta rumah, nah kalau dihitung-hitung ini jumlahnya sudah banyak sekali dan sudah banyak masyarakat yang sudah memiliki rumah layak huni," kata dia.

Slamet pun berharap, pada akhir tahun nanti masalah habisnya kuota rumah bersubsidi bisa segera diselesaikan, sehingga nantinya masyarakat yang belum memiliki rumah layak huni bisa memiliki. Ia mengaku, sulitnya mencari tanah untuk membangun rumah masih menjadi kendala. [DIT]