RMco.id  Rakyat Merdeka - Bagi para penggemar kopi dan coklat, cobalah untuk berkunjung ke Gerai Alun Alun Indonesia, di Grand Indonesia, Thamrin, Jakarta Pusat. Sampai 28 November mendatang, digelar acara Jelajah Kopi dan Coklat Nusantara. Produk-produk lokal berkualitas disajikan dengan cara modern.

CEO Alun Alun Indonesia, Pinky Sudarman, menjelaskan, kegiatan ini digelar karena kekayaan hasil bumi Indonesia dalam komoditas kopi dan coklat. Bahkan, kopi di beberapa daerah menjadi budaya tersendiri. 

“Kita mengenal budaya ngopi di Aceh atau Belitung. Tapi dari Sabang sampai Merauke semuanya memiliki budaya ngopi,” katanya, di Jakarta, Sabtu (9/11).

Baca Juga : 5 Layanan SIM Keliling di Jakarta Hari Ini, Catat Lokasinya...

Di Alun Alun Indonesia, kata Pinky, dikenalkan lagi berbagai kopi nusantara. Seperti Kopi Gayo dari Aceh, Kopi Dolok Sanggul Daru dan Kerinci Sumatera, Kopi Gunung Halu Jawa Barat, Kopi Kintamani, dan Kopi Malo Toraja. 

“Masih banyak lagi bijih kopi yang dihasilkan dari daerah-daerah di Indonesia. Masing-masing memiliki cita rasa yang khas,” katanya.

Menariknya, kopi dan coklat tidak bisa dipisahkan. Setiap ada pohon kopi, tumbuh juga pohon coklat. Seperti, Coklat Krakao Lampung dan Coklat Ndalem Yogyakarta. Sekarang ini, kopi dan coklat menjadi gaya hidup terutama di kota-kota besar. Karena itulah, pihaknya berinisiatif memamerkan produk ini ke Alun Alun Indonesia. 

Baca Juga : Berlaku Hari Ini, Penyesuaian Waktu Operasional Transjakarta Selama PSBB

“Yang pasti selama pameran, pengunjung tidak hanya bisa merasakan cita rasa khas kopi produksi lokal. Tetapi juga cerita dan cara menyajikan kopi tersebut. Jadi, even ini wajib dikunjungi oleh para penggemar kopi,” ajaknya.

Marketing Communications Coordinator Javanegra Rainforest Coffee, Cynthia Tanidi, mengatakan, kopi Indonesia sudah dikenal di dunia internasional. Terutama Kopi Luwak yang dikenal enak dan mahal. “Kopi Luwak ini banyak dicari karena rasanya yang lembut,” katanya.

Namun, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Terutama terkait isu kekerasan pada hewan. Luwak yang dalam produksinya melibatkan binatang menjadi perhatian dari pecinta binatang di Eropa.

Baca Juga : 2 Pesawat Anti Kapal Selam China Terobos Zona Udara Taiwan

“Mereka berpikir produksi Kopi Luwak ini menyiksa Musang. Padahal, itu cuma sebagian kecil saja. Para petani kita mengumpulkan biji kopi dari Musang liar. Karena itulah, harganya mahal,” tutupnya. [MRA]