Hitungan Kementan Dari Hasil Penanaman

Produksi Beras Awal 2019 Melejit Capai 12 Juta Ton

Pasokan beras nasional 2019 (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Pasokan beras nasional 2019 (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Pertanian (Kementan) optimistis produksi beras nasional meningkat signifikan pada tahun ini. Pada tiga bulan pertama saja, diproyeksi mendekati 40 persen dari total capaian selama 2018. Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementan Agung Hendriadi mengungkapkan proyeksi tersebut dihitung dari penanaman yang sudah dilakukan petani pada Oktober, November, dan Desember 2018. 

“Hitungan kami produksi tiga bulan pertama mencapai 12,74 juta ton. Jumlah itu mendekati 40 persen dari produksi beras tahun lalu,” ungkap Agung kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) produksi beras nasional Januari-Desember 2018 mencapai 32 juta ton.  Hasil panen awal tahun ini, lanjut Agung, sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang diprediksi hanya sebesar 7,5 juta ton. Dengan demikian maka akan ada surplus beras sebesar 5 juta tonpada bulan Maret nanti. 

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

“Jika kondisi ini bisa kita jaga sampai akhir tahun, kami optimistis 2019 tidak perlu impor beras. Kita akan berupaya sebaik mungkin meningkatkan produksi agar bisa swasembada tahun ini,” tegasnya. 

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Gatot Irianto mengatakan, proyeksi peningkatan produksi beras tahun 2019 tidak lepas dengan adanya program peningkatan program Luas Tambah Tanam (LTT) padi yang dilakukan di beberapa provinsi. Percepatan LTT antara lain dilakukan dengan cara memperluas Baku Lahan, peningkatan Indeks Pertanaman (IP), Perluasan Areal Tanam Baru (PATB), dan Optimalisasi Pemanfaatan Alat dan Mesin Pertanian (Opsin). 

“Di Sulawesi Tengah dan Sumatera Selatan kami tanam gandeng Padi dan Jagung. Karena bila tidak digandeng maka padinya tidak akan ditanam,” terangnya.  Gatot mengungkapkan, untuk menambah lahan pertanian, pihaknya akan melakukan penanaman di tanah rawa, pegunungan dan perbukitan. 

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

“Kami sudah merapikan rawa di kalimantan Selatan agar bisa ditanami. Kami beri pompa untuk keluar masuk air. Di pegunungan dan perbukitan juga sudah kita tanami kedelai,” ucapnya. 

Ketua Kontak Tani Nelayan Indonesia (KTNA) Winarno Tohir juga yakin produksi beras tahun ini bakal melejit. Menurutnya, sejak tahun lalu produksi beras sebenarnya sudah cukup bagus. Produksi sesuai dengan yang diharapkan. Hanya saja, pada tahun lalu terjadi masalah pada pendataan. 

“Tahun lalu masalah ada pada penyerapan beras oleh pemerintah. Hal itu kemudian diasumsikan produksi turun, kemudian dilakukan impor,” ungkap Winarno.  Selain produksi, Winarno mengungkapkan, kualitas beras yang dihasilkan petani mengalami peningkatan. Jumlah beras patah sangat sedikit makanya banyak pabrik mengolah menjadi beras premium. 

Baca Juga : Di Rapat Paripurna Istimewa DPRD, Walkot Tangerang Paparkan Capaian dan Evaluasi Kerja

Winarno berharap, dengan adanya peningkatan produksi dan kualitas, pemerintah memberbaiki harga pembelian gabah dan beras petani. Tujuannya agar semangat petani tidak menggendor. “Kami tidak minta kenaikan, hanya disesuaikan dengan inflasi atau kondisi saat ini. Dengan harga beli yang sesuai, petani akan semangat menanamkan padi,” imbuhnya.  Sebelumnya, Kepala Balai Balai Besar Penelitian Padi (BB Padi) Priatna Sasmita menyampaikan proyeksi produktivitas dari faktor genetik, faktor lingkungan, serta interaksi faktor genetik dengan lingkungan. 

Menurutnya, upaya peningkatan produksi dari aspek genetik saat ini hampir sebagian besar telah dilakukan petani di Indonesia melalui penggunaan berbagai varietas unggul potensi hasil tinggi yang telah teruji di masing-masing sentra. Namun demikian, ada faktor lingkungan lain yang sulit dikontrol manusia khususnya iklim. Faktor itu meliputi curah hujan, intensitas cahaya, temperatur dan kelembaban yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman terutama fase generatif yang dibutuhkan untuk akumulasi fotosintat optimal pada proses pengisian bulir gabah. [NOV]