Kementan Gencarkan Program Early Warning System

Klik untuk perbesar
Dirjen Hortikultura Kementan, Anton Prihasto Setyanto (tengah) saat panen bawang merah hasil budidaya PT East West Seed Indonesia di Purwakarta, Kamis (14/11). (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kelangkaan dan over produksi  menjadi salah satu persoalan klasik di sektor pertanian. Tak terkecuali untuk komoditas hortikultura. 

Untuk mengatasi itu, Ditjen Hortikuktura, Kementerian Pertanian (Kementan) merancang 'Early Warning System (EWS)'. Sebuah sistem 'alarm' untuk menjaga stabilitas dan pasokan komoditas hortikultura di masyarakat. 

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, mengatakan, EWS diharapkan menjadi guidance bagi para pemangku kepentingan, untuk memantau ketersediaan komoditas di pasaran. Anton, sapaan akrab Prihasto, lantas menceritakan pengalaman di 2017. Saat itu, harga cabe pada awal tahun tersebut menyentuh angka Rp 250 ribu per kilogram. 

"Bayangkan, setara dua kilogram daging sapi," ujar Anton saat membuka acara seminar terkait budidaya bawang merah bertajuk ”Capacity Building and TSS Technology Adoption” di Pabrik PT East West Seed lndonesia (EWINDO), Desa Benteng, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Purwakarta, Kamis (13/11).

Berita Terkait : DPR, Kementan, dan BPS Kompak Soal Data Pangan

Demikian juga saat Agustus hingga September kemarin. Harga Si Pedas sempat menembus level di atas Rp 100 ribu. "Di sisi lain ketika bulan Maret dan April, harga anjlok di kisaran Rp 3.000 - Rp 5.000. Stok di pasar berlebih," jelas alumnus doktoral Universitas Putra Malaysia tersebut. 

Anton mengungkapkan, melalui EWS nanti, kelangkaan, over produksi, hingga persoalan gejolak harga bisa diminimalisir. Sebab, nantinya tim EWS di tingkat pusat akan berkoordinasi dengan daerah mengkaji secara komprhensif, kebutuhan suatu daerah selama 4-5 bulan ke depan.  "Berapa kebutuhan produksinya, berapa luas lahan tanamnya, hingga kebutuhan bibit maupun lainnya," cetus dia. 

Dengan EWS, daerah tahu prediksi kebutuhan masyarakatnya, terutama soal suply and demand-nya seperti apa.  "Jadi sudah terdata. Dianalisis potensi harganya. Hasilnya kemudian kami berikan kepada daerah untuk menjadi bahan di lapangan," beber Anton. 

Dalam kesempatan itu, Anton juga mengunjungi sejumlah lokasi produksi benih PT EWINDO. Mulai dari tempat penyemaian benih, lokasi tanam, hingga pengemasan benih.  "Peran swasta seperti PT EWINDO amat penting ya. Misalnya mengkampanyekan teknik menanam TSS. Ini sejalan dengan apa yang kami sedang kampanyekan," ungkapnya. 

Berita Terkait : Kementan Raih 2 Penghargaan Perak SNI Award 2019

Visi Konstran

Program EWS ini sejatinya turunan dari visi yang digagas Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. Yakni terkait pembentukan Pusat Komando Strategis Pertanian (Konstran).  Salah satu agenda besarnya adalah bagaimana negara memiliki basis data pangan yang terintegrasi. Tidak tumpang tindih satu sama lain. 

"Single data. Maka dari itu Pak Menteri (Pertanian) menginstruksikan sinkronisasi data dengan sejumlah kementerian/lembaga terkait. Termasuk hortikultura. Punya single data. Mulai dari pusat sampai ke daerah. Karena kebijakan tanpa data akurat, kebijakannya tidak akurat," lanjut Anton. 

Selain single data, salah satu wujud dari konstran adalah agriculture war room. Pusat kontrol untuk memantau dan mengkoordinasikan segala aktivitas pertanian. Mulai dari pusat hingga daerah. "Targetnya dalam 100 hari pertama ini terbentuk 500 Konstratan, dan dalam lima tahun ditargetkan menjadi 5.000 Konstratan se-Indonesia," jelas Anton. 

Berita Terkait : Ingin Lebih Baik, Ditjen Hortikultura Sosialisasikan Penyusutan Arsip Inaktif

TSS Untungkan Petani

Managing Director EWINDO, Glenn Pardede, mengatakan, pihaknya terus mendorong teknik budidaya bawang merah TSS menggunakan benih atau biji.  "Bukan bibit/umbi yang selama ini selalu mereka gunakan," ujarnya. 

Glenn menjelaskan, Teknik TSS ini mampu menciptakan pertanian yang efektif bagi petani sehingga bisa menghemat biaya produksi dan peningkatan produktivitas.  Dia memaparkan, perbedaan budidaya menggunakan TSS dan konvensiona| adalah jika menggunakan sistem konvensional, kebutuhan bibit mencapai 1,5 ton per ha senilai Rp 45 juta.  "Sedangkan jika menggunakan TSS hanya memerlukan 5 kg benih dengan biaya sekitar Rp 10 juta per hektare," ungkap dia. 

Glenn memaparkan bahwa selain menekan biaya produksi, jika petani dapat menerapkan teknik budidaya bawang merah dari biji maka akan mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian umbi bibit. "Selama ini ketergantungan petani terhadap umbi bibit saja membuat Pemerintah terpaksa harus mengimpor bibit bawang sedikitnya 1.500 ton pada tahun 2016,” tambah Glenn. [KAL]