Srikandi Indonesia Budayakan Industri Tenun Lokal

Klik untuk perbesar
Foto: Istimewa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah Srikandi budaya yang tergabung dalam Komunitas Kridha Dhari Indonesia dan Forum Alumni Nusantara, giat membangun industri kerajinan yang mengangkat budaya lokal. Sasarannya kerajinan batik dan tenun.

Seperti perancang busana senior Dhanny Dahlan yang kini menjadi pegiat budaya serta aktivis Perkumpulan Cinta Tenun Indonesia, mengakui bahwa tenun Indonesia memiliki nilai ekonomi tinggi. Untuk itulah, dirinya concern berkeliling Indonesia untuk memberikan pendampingan terhadap industri tenun tradisional di daerah pinggiran yang masih miskin.

"Kami ingin tenun Indonesia dijadikan gaya hidup, sebagaimana batik. Dari sisi ekonomi, jelas akan efektif dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya di pelosok," paparnya dalam acara jumpa pers Komunitas Kridha Dhari Indonesia dan Forum Alumni Nusantara memperingati Hari Pahlawan di Jakarta, Kamis (14/11).

Berita Terkait : Ke-Indonesiaan

Kata dia, Indonesia sangat kaya akan teknik menenun. Dalam catatannya sedikitnya ada 12 teknik tenun dari berbagai daerah di Indonesia. Dari Sabang hingga Papua.

"Negara lain memang punya tenun seperti Thailand, Vietnam, dan Kamboja. Tetapi teknik tenun dari Indonesia, lebih mumpuni dan beragam. Jelas ini potensi ekonomi yang perlu terus dikembangkan," ungkapnya.

Sejauh ini, lanjut putri bungsu dari Ahmad Dahlan Ranuwihardjo, seorang intelektual Muslim serta sesepuh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini, dirinya telah membentuk 15 sentra tenun di Indonesia.

Berita Terkait : Hajar Thailand 17-12, Polo Air Indonesia di Puncak Klasemen

Upaya untuk memajukan industri tenun trandisional dilakukan dalam bentuk pelatihan proses produksi, efisiensi biaya produksi, peningkatan kualitas produk hingga bantuan pemasaran.

"Yang kita garap adalah daerah yang masih miskin. Misalnya di wilayah Sumatera Barat, Indralaya (Sumatera Selatan), Badui, Garut, Bagian Selatan Jawa Tengah, Bali Lombok, Buton, Sulawesi Tenggara, Pulau Makassar, Buton, Wakatobi, Kolaka, Sambas dan Tidore," ungkapnya.

Sementara Precilla Estevina, Ketua Umum Komunitas Kridha Dhari Indonesia, mengatakan, komunitas ini bertujuan untuk melestarikan budaya Indonesia, sekaligus mengoptimalkan potensi ekonomi dari kebudayaan asli Indonesia.

Berita Terkait : Pelaku Usaha Optimis Periklanan Jadi Industri Kreatif yang Menjanjikan

"Termasuk membumikan Batik serta Tenun asli Indonesia. Di mana, keduanya sarat akan nilai-nilai budaya Indonesia," ungkapnya. [WUR]