RMco.id  Rakyat Merdeka - Kabupaten Sleman merupakan satu sentra utama salak pondoh. Kelompok Tani Kusuma Mulya di Cepit, Sukorejo, Girikerto, Kecamatan Turi, Sleman, menjadi salah satu produsen yang salaknya mampu diekspor ke luar negeri. 

Wakil Ketua Kelompok Tani Kusuma Mulya, Endang, menerangkan, kelompoknya memiliki lahan kurang lebih 2,84 hektare dan berproduksi 8 kilogram per rumpunSalaknya dipasarkan ke dalam negeri dan ekspor. 

"Selain dijual dalam bentuk segar, biji salak juga diolah menjadi kopi. Tahun ini ekspor salak pondoh Sleman telah dipasarkan ke Thailand, Kamboja, dan Kanada," ucap Emang, dalam keterangan yang diterima redaksi, Jumat (15/11),

Berita Terkait : Pangandaran Panen Padi Bebas Residu, Harga Lebih Menguntungkan

Kelompok Tani Kusuma Mulya sudah memperoleh sertifikat produk prima 3. Salak yang diproduksi mereka dijamin aman dan berkualitas. Kebun buah salak dari kelompok ini sudah diregistrasi dengan Nomor GAP 01-34.04.1383-T.050. Salak ini telah mendapatkan sertifikat organik dari Control Onion Certification pada 21 April 2017. 

"Salak kami sudah diproduksi secara organik dan mendapat Sertifikat Produk Prima-3 (aman dikonsumsi) dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) Provinsi DI Yogyakarta pada 18 Oktober 2012. Termasuk registrasi kebun tahun 2018 sebagai penghargaan karena telah memenuhi persyaratan budidaya yang baik (Good Agricultural Practices/GAP)," ungkap Endang.

Pemasaran salak dari kelompok tani ini dilakukan melalui packing house CV Mitra Turindo, esportir salak Sleman. Perusahaan ini pernah mengekspor ke Kanada, sebanyak 14 kerat dengan berat 131 kilogram senilai Rp 12,8 juta.

Berita Terkait : Bantu Korban Banjir di Katingan, Polda Kalteng Siapkan 100 Personel

"Untuk memperluas pasar ekspor, kami sedang membangun packing house yang baru untuk penanganan pasca panen komoditas alpukat, manggis, pisang dan mangga," ujar perwakilan CV Mitra Turindo, Suroto. 

Guna mendukung proses ekspor, perusaahaan ini menjalani SOP pengemasan buah salak yang meliputi penerimaan bahan baku dari kelompok tani, penimbangan pertama, pembersihan, sortasi/grading, pengemasan, penimbangan kedua, pelabelan, pengikatan, pengguntingan dan distribusi. Pada 2019, CV Mitra Turindo menerima fasilitas kegiatan Good Handling Practices (GHP) dari Direktorat Jenderal Hortikultura untuk pengemasan salak, manggis, pisang, jeruk dan alpukat.

"Dengan adanya fasilitasi untuk mendukung penanganan pascapanen yang baik di Poktan Kusuma Mulya, diharapkan dapat meningkatkan mutu buah salak organik di Kabupaten Sleman maupun komoditas lainnya dan memperluas tujuan pasar ekspor," jelas Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik. [KAL]