Ditinggal Jack Ma, Alibaba Tetap Sukses Rentangkan Sayap

Klik untuk perbesar
Jack Ma saat masih di Alibaba (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Jack Ma memang telah pensiun dari Alibaba. Tapi, perusahaan rintisannya tidak berhenti berekspansi.

Sepeninggal sang pendiri, Alibaba justru makin giat merentangkan sayap bisnisnya. Teranyar, perusahaan bervaluasi Rp 2.000 triliun itu dalam waktu dekat akan melakukan secondary listing di bursa saham Hong Kong dengan target meraup Rp 182 triliun dana segar untuk ekspansi bisnis. 

Keberhasilan transisi kepemimpinan Alibaba dapat menjadi pelajaran penting bagi startup di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Beberapa waktu lalu, masyarakat menyaksikan transisi kepemimpinan yang cukup mulus di Gojek yang ditinggal pendirinya, Nadiem Makarim, yang sekarang menjabat sebagai Mendikbud. Startup lain dapat menjadikan pengalaman kedua perusahaan tersebut sebagai best practice yang dapat dirujuk jika ingin melakukan hal serupa.

Menurut Chairman NextICorn, Daniel Tumiwa, yang diraih Alibaba merupakan hasil proses panjang transisi kepemimpinan sekaligus juga manajerial mumpuni, dengan tim solid. Tak hanya semata mengandalkan ke sosok Jack Ma. Saat ini, Alibaba sudah sampai di titik dan sudah sukses menjauhkan diri dengan sosok Jack Ma. Jadi, yang dicapai Alibaba telah disusun by design, dengan target-target terukur. 

Berita Terkait : Mundur dari Alibaba, Jack Ma Malah Makin Tajir

"Seperti unicorn Indonesia, semua sudah balik ke manajemen. Bukan orang per orang lagi. Masing-masing unicorn memiliki ciri khasnya," ujar Daniel, dalam keterangan yang diterima redaksi, Minggu (17/11).

Daniel menambahkan, unicorn di Indonesia ke depan juga memiliki kemampuan seperti dimiliki Alibaba, untuk bisa masuk bursa sekaligus mengelola bisnis dengan lebih baik, sehingga bisa meraih pendanaan besar. "Indonesia sangat mampu dan akan terjadi. Kita tunggu 2020. Tujuan Digital Enterprise kita Go Public sangat fokus untuk memajukan Indonesia. Untuk itu akan sangat mendapat dukungan baik," ucap Daniel. 

Apa kunci sukses Alibaba sehingga tetap berkembang meski ditinggal pendirinya? Pada saat berkunjung ke Indonesia pada 2018, Jack Ma membagikan pengalamannya dalam mengembangkan Alibaba. Ia menyebut bahwa kunci keberhasilannya adalah kepercayaan (trust). Menurutnya, kepercayaan konsumen merupakan jantung utama perusahaan yang harus dijaga, selain karyawan. Jika diurutkan, konsumen nomor satu, karyawan nomor dua, dan kepercayaan dari kedua-duanya adalah nomor tiga. 

Meski kini Jack Ma telah pensiun dari Alibaba dan telah dilakukan transisi kepemimpinan, namun publik dan investor tetap percaya penuh pada keseriusan dan kinerja bisnis Alibaba sehingga penjualan saham ke publik selalu dinanti. Ia menegaskan bahwa Alibaba yang didirikan pada 1999 harus bertahan sampai seratus tahun. Untuk merealisasikan visi tersebut, Jack Ma dan timnya mengembangkan sistem kepemimpinan yang menghargai cara baru.

Baca Juga : Zulhas Minta Para Kader Agar Tak Saling Cerca

Karena itu, meski Jack Ma sudah tak lagi aktif, Alibaba masih tetap jadi kesayangan investor. Tak heran, meski ekonomi China stagnan, Alibaba tetap menghasilkan pendapatan sebesar 114,92 miliar yuan (16,15 miliar dolar AS) pada kuartal April-Juni 2019, atau naik 42 persen dari tahun sebelumnya. Ini menjadi bukti bahwa ekosistem Alibaba sudah sangat tangguh. 

Kini, perusahaan yang bermarkas di Hangzhou dengan sekitar 103 ribu karyawan di seluruh dunia itu mengoperasikan pusat data di 10 negara di luar China dan telah memperluas jaringan logistik ke Asia Tenggara dan Eropa.

Ekspansi Alibaba tak berhenti. Paling baru, Alibaba siap melakukan secondary listing di Bursa Hong Kong, paling lambat pada akhir November 2019. Ini adalah kali kedua Alibaba melakukan IPO setelah sebelumnya pada 2014 tercatat atau listing di New York Stock Exchange (NYSE). 

Alibaba telah mendapat lampu hijau dari regulator Hong Kong untuk melanjutkan penjualan saham. Alibaba akan menerbitkan 500 juta saham biasa baru pada secondary listing tersebut. Namun perusahaan juga menyediakan opsi greenshoe yang memungkinkan bank penjamin menjual 75 juta saham tambahan.

Baca Juga : Bandara Soekarno-Hatta Sabet Best Airport of The Year

Merujuk informasi Businessinsider.com, di IPO kedua ini Alibaba menargetkan untuk memperoleh dana hingga 13 miliar dolar AS atau sekitar Rp 182 triliun. Sementara Reuters dan South China Morning Post melaporkan bahwa dari penjualan saham IPO tersebut, raksasa e-commerce dunia itu bisa memperoleh dana sekitar 10 miliar dolar AS hingga 15 miliar dolar AS.

Pada saat pengajuan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (Securities and Exchange Commission/SEC), Alibaba telah mengkonfirmasi bahwa perusahaan telah mengajukan aplikasi untuk melakukan secondary listing di bursa saham Hong Kong. Perusahaan juga mengatakan bahwa NYSE masih akan terus menjadi tempat listing utamanya. Dalam IPO pertama di NYSE September 2014, Alibaba mencatatkan rekor IPO terbesar dalam sejarah pasar modal dunia dengan mengumpulkan dana hingga 25 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 350 triliun. [USU]