RMco.id  Rakyat Merdeka - Kebijakan tanam bawang putih yang digiatkan Kementerian Pertanian (Kementan) mulai membuahkan hasil. Secara perlahan, petani mulai memproduksi kembali komoditas yang sebelumnya sangat tergantung dari kebutuhan impor. Kini secara perlahan petani pun mulai menikmati hasilnya.

Jitranto dan istri, merupakan salah satu petani yang kini merasakan manisnya hasil menanam bawang putih. Padalah, petani asal Desa Tuwel Kecamatan Bojong ini dulu sempat merantau ke Jakarta karena himpitan ekonomi. 

Anto, sapaan akrab Jitrianto, menceritakan keputusannya kembali ke Tegal menjadi petani bawang putih. Anto mengisahkan, pada 1998 keluarganya terpaksa diboyong merantau ke Jakarta dengan baju seadanya yang melekat di badan. "Kami tidak punya apa-apa sejak bawang putih Tegal porak poranda akibat impor. Orang tua kami mengalami kerugian besar karena bawang putih. Sejak 2015 kami sekeluarga kembali dan ikut program pemerintah. Alhamdulillah, perlahan tapi pasti mulai ada hasilnya. Tahun ini saya dan istri bahkan orang tua kami bisa daftar ONH plus" terang Anto, sumringah. 

Anto masih ingat betul, para petani Desa Tuwel menjadikan bawang putih sebagai komoditas utama sehingga produksi bawang putih lokal berjaya di era 1982 hingga puncaknya 1995. Namun, badai resesi ekonomi yang diikuti kebijakan liberalisasi langsung menghantam kawasan produksi emas putih di lereng utara Gunung Slamet tersebut. Tercatat sejak 1998 hingga 2017, grafik produksi menukik jatuh tajam. Petani bawang putih pun "mati suri" selama 20 tahun lamanya. Parahnya lagi, riset dan penelitian tentang bawang putih ini ikut mandeg, tidak beranjak dari referensi dan pustaka usang yang sudah tergerus jaman.

Padahal, seingat Anto,‎ petani bawang putih mampu menyekolahkan anak-anak mereka hingga jenjang perguruan tinggi, masjid yang terbangun megah melampaui masanya, hingga petani yang berduyun-duyun berangkat haji dari hasil bawang putih. Namun semuanya tinggal menyisakan histori manis yang nyaris terkubur dalam ingatan petani yang telah renta. Gempuran bawang putih impor benar-benar sanggup mengubur dalam-dalam segala harapan petani. Tragisnya, generasi petani muda Tuwel seperti kehilangan harapan masa depan, hingga terjadilah eksodus urbanisasi ke kota untuk sekedar bertahan hidup. Menanam bawang putih berubah menjadi momok dan tabu bagi petani Tegal.

Berita Terkait : Mendorong Kinerja Ekspor Pertanian Terus Tumbuh Positif

Kegelisahan petani dan masyarakat akan ketergantungan bawang putih impor menemukan momentumnya. Pada 2015, Bank Indonesia Kantor Cabang Tegal membuat lahan percobaan di Tuwel melalui pola klaster. Saat itu, nyaris tak ada petani yang mau terlibat dalam proyek tersebut. Bahkan yang muncul adalah cibiran dari berbagai pihak. Namun, setelah melewati berbagai proses pendekatan dan pendampingan intensif, terbentuklah klaster bawang putih meski hanya 1 hingga 2 hektar. 

Gayung bersambut, pada 2017, Kementan mengeluarkan kebijakan perluasan areal tanam dan produksi bawang putih nasional. Pada awalnya, Pemkab Tegal termasuk yang paling restriktif dengan kebijakan tersebut. Mengingat sejarah kelam yang pernah dialami petani setempat. Pemerintah pusat sampai harus terjun langsung untuk melakukan pendekatan persuasif kepada petani dan pemerintah daerah Tegal agar mau menanam kembali bawang putih. Percobaan demi percobaan dilakukan Kementan bersama lembaga penelitian dan perguruan tinggi untuk meyakinkan bahwa Tegal memang potensial untuk pengembangan bawang putih. Melalui APBN, pemerintah menggelontorkan sejumlah bantuan untuk mendorong perluasan tanam dan produksi bawang putih. Tak hanya itu, Tegal juga dipilih sebagai lokasi kemitraan importir dan petani.

Kolaborasi antara Kementan, Pemda, Bank Indonesia, petani hingga importir mampu menjadikan Tegal bangkit kembali menjadi sentra utama bawang putih nasional. Bersaing dengan Sembalun dan Bima di NTB, Temanggung, Magelang dan Karanganyar di Jawa Tengah, dan Malang di Jawa Timur. Tidak hanya itu, program kemitraan tanam dan produksi antara importir bawang putih dan petani yang digagas Kementerian Pertanian ternyata mampu memberi keuntungan yang tidak sedikit bagi petani. 

Gudang-gudang benih yang tadinya kosongpun kini mulai terisi, petanipun bergairah untuk bertanam dan bermitra, investasi terus berdatangan memacu kinerja ekonomi daerah. Yang menggembirakan lagi, generasi petani muda Tegal perlahan tapi pasti banyak yang memilih pulang kampung untuk kembali terjun ke ladang berbudidaya bawang putih.

Kini, Anto bersama dengan 18 orang petani bawang di desa lain, mendaftar haji dari hasil bawang putih. "Sungguh berkah luar biasa" ungkap anto terharu. 

Baca Juga : Langkah Kejagung Buru Djoko Tjandra Jadi Pesan Positif ke Publik

Bukan cuma Anto, petani bawang putih lainnya, Abdul Muin, yang merupakan warga desa Rembul tak kuasa menahan haru saat mengungkapkan kesuksesan yang dirasakannya dari hasil bawang putih. "Alhamdulillah dari hasil bawang putih bisa beli tanah, daftar haji dan lainnya. Bahkan saya ajak tetangga saya untuk tanam bawang putih" ungkap petani paruh baya ini. 

Ahmad Maufur, petani muda setempat yang dinobatkan sebagai champion atau penggerak pembangunan pertanian khususnya bawang putih di Kabupaten Tegal, menceritakan cerita sukses bagaimana masjid megah 2 lantai yang saat ini sedang dibangun di desa Tuwel.

"Masjid ini dulunya sebuah masjid tua yang sudah tidak layak pakai. Kemudian pada 2014 kami berniat untuk membongkar dan membangun yang baru. Niat tersebut baru terwujud dengan mulainya pembongkaran pada tahun lalu. Sejak para petani sini kembali tanam bawang putih pada 2018 kemarin, Alhamdulillah, iuran pembangunan mesjidpun menjadi lancar sehingga kas mesjid mencapai Rp. 400 juta. Semua dari hasil tanam bawang putih," terang Maufur antusias.

‎Sejak berproduksinya kembali bawang putih lokal di kawasan utara lereng Gunung Slamet, masyarakat setempat kini mulai banyak yang beralih konsumsi dari bawang impor kembali ke bawang putih lokal. Mereka yakin dari segi cita rasa, bawang putih lokal  jauh lebih kuat dan nikmat dibanding bawang putih impor. Kalangan ibu-ibu rumah tangga setempat ada pula yang mengolah bawang putih menjadi  black garlic dengan teknologi fermentasi sederhana. 

Menurut pengakuan salah seorang ibu rumah tangga setempat, Fuji, bawang putih lokal sangat dirasakan manfaatnya untuk kesehatan termasuk untuk penambah stamina laki-laki. Sambil tersipu malu, dirinya mengakui khasiat bawang putih lokal benar-benar terasa maknyuusss  tak terkalahkan.

Baca Juga : Vaksin Merah Putih Tersedia Awal 2021

Kepala Sub Bagian Hukum dan Humas Ditjen Hortikultura Kementan, Rico Simandjuntak, memastikan kebijakan pengembangan kawasan bawang putih yang digulirkan pemerintah sejak 2017 hingga saat ini masih berlanjut. Meski diwarnai beragam pro dan kontra, kenyataan di lapangan menunjukkan bagaimana gegap gempitanya petani menanam kembali bawang putih. Euforia tersebut mampu menumbuhkan kembali sentra-sentra bawang putih yang sempat lama terpuruk. Selain bangkitnya kembali petani bawang putih, juga diwarnai dengan tumbuhnya penangkar benih di beberapa daerah. 

"Mereka satu sama lain saling belajar dan mengasah kemampuan budidaya dan pascapanen untuk menghasilkan bawang putih lokal berdaya saing," katanya.

Kesadaran kolektif dan semangat berdikari yang digelorakan pemerintah bersama-sama dengan petani bawang putih telah merambah ke seluruh penjuru tanah air. Keberhasilan tanam dan produksi bawang putih lokal sebagaimana ditunjukkan para petani Tegal dan petani bawang putih di daerah lain di Indonesia menjadi bukti nyata bahwa kebangkitan bawang putih lokal untuk kembali berjaya di negeri sendiri bukan lagi sekedar mimpi, bukan pula dejavu. 

Rico pun meminta semua pihak untuk lebih arif dan bijak dalam menyikapi fenomena ini. Toh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo kerap mengingatkan di tiap kesempatan bahwa setiap program Kementerian Pertanian harus menjadi rahmat bagi bangsa ini dan menghadirkan kesejahteraan untuk petani. "Untuk itu kita perlu melakukan yang terbaik dalam semangat kebersamaan yang guyub, selanjutnya biarlah Allah yang akan menentukan sisanya. Jayalah bawang putih Indonesia," tutup Rico. [KAL]