Pertamina Energy Forum Jawab Tantangan Revolusi Energi

Pertamina Energy Forum 2019. (Foto: Pertamina)
Klik untuk perbesar
Pertamina Energy Forum 2019. (Foto: Pertamina)

RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) kembali menyelenggarakan Pertamina Energy Forum (PEF) 2019. Acara ini dihadiri 750 orang yang berasal dari berbagai sektor dan mancanegara.

Hadir pada kesempatan ini Menteri ESDM Arifin Tasrif, Komisaris Utama Basuki Tjahaja Purnama, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati beserta jajarannya, perwakilan dari instansi dan juga duta besar sejumlah negara.

Pada PEF 2019, lebih dari 750 orang yang hadir akan bersama-sama membahas mengenai perubahan besar yang terjadi pada sektor energi. Pertamina, sebagai pemain utama dalam sektor ini  memastikan telah menyiapkan sejumlah cara untuk mengantisipasi perubahan atau revolusi yang terjadi di sektor energi.

Dirut Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan revolusi di sektor energi adalah hal nyata yang sudah mulai terjadi. Hal ini ditandai dengan adanya ketidakpastian seperti pergeseran kekuatan ekonomi dunia, pergerakan urbanisasi, pertumbuhan kelas menengah, perubahan iklim, kemajuan teknologi, dan sebagainya.

Berita Terkait : Peduli Pendidikan, Pertamina Beri Bantuan Pojok Baca di Wilayah 3T

"Perkembangan energi tidak luput dari global megatrend, penggunaan seluruh SDM menjadi industrialisasi, seluruh SDA tereksploitasi, terjadi keterbatasan, climate change, di sisi lain terjadi pertumbuhan populasi yang sangat cepat," kata Nicke saat membuka Pertamina Energy Forum 2019.

Nicke mengatakan, dalam setiap tantangan yang dihadapi, pasti terdapat beberapa faktor yang dapat diubah menjadi kesempatan dan bahkan didorong untuk menjadi kekuatan utama. 

Pertamina sendiri telah melakukan berbagai inisiatif untuk berkontribusi menurunkan impor. Salah satunya adalah megaproyek Refinery Development Master Plan (RDMP) dan Grass Root Refinery (GRR), proyek gasifikasi batu bara  bersama PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Tidak hanya itu, Pertamina juga masuk ke biorefinery untuk memproduksi biodiesel. 

“Pertamina sudah siap menjalankan B30 mulai 21 November 2019 lalu. Ini cukup signifikan menurunkan impor,” Nicke.  Seperti diketahui, sejak 21 November 2019 Pertamina sudah mulai menyediakan B30 di dua Terminal BBM dan akan terus diperluas ke titik distribusi lainnya hingga Desember 2019.

Baca Juga : Negara Pancasila (1)

Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengatakan, pemerintah akan bekerja sama dengan Pertamina untuk meningkatkan capital inflow (arus modal masuk) ke dalam negeri sehingga dapat menaikkan aktivitas eksplorasi, produksi migas dan mengembangkan infrastruktur migas. “Peran minyak dan gas sangat penting di tengah peningkatan permintaan kebutuhan energi dalam negeri,” kata Arifin. 

Menurut Menteri ESDM, pemerintah fokus pada pertumbuhan ekonomi domestik dan pengentasan kemiskinan melalui ketersediaan energi yang terjangkau. Arifin juga menyatakan pemerintah mendorong pemanfaatan energi dalam negeri untuk mengurangi impor LPG. “Pengembangan DME dapat mengurangi impor LPG,” katanya. 

Sektor kelistrikan dan industri merupakan konsumen gas terbesar di dalam negeri. Selain itu, pemerintah menargetkan setengah miliar sambungan gas rumah tangga hingga akhir 2019.

Pertamina Energy Forum 2019 yang digelar selama dua hari,  Selasa-Rabu (26-27 November 2019), mengusung topik "Driving Factors: What will Shape the Future of Energy Business” bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik dan juga sebagai wadah diskusi lintas bidang energi, baik lokal maupun global.

Baca Juga : Jakarta Diminta Nyontek Singapura dan Tokyo

Hasil diskusi dan analisis yang lebih dalam di Pertamina Energy Forum diharapkan bisa menjadi pijakan yang kokoh bagi regulator dan pelaku bisnis energi di Indonesia untuk menyusun strategi terbaiknya dalam menghadapi fenomena global megatrends. [DIT]