Agar Peritel Konvensional Tak Semakin Tergerus

Hadapi E-Commerce, Sinergi Offline-Online Mesti Diperkuat

Klik untuk perbesar
Ilustrasi.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Maraknya belanja online makin menggerus sebagian penjualan produk ritel offline. Eks Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyarankan pengusaha ritel offline memperkuat sinerginya dengan ritel online.

Enggar melihat, perdagangan online melalui ritel digital (e-commerce) terus mengalami pertumbuhan pesat. “Penjualan online terus meningkat sedangkan penjualan offline terus menurun,” ujar Enggar kepada Rakyat Merdeka di kantornya, kemarin.

Dia menyarankan pelaku usaha offline memperkuat sinerginya dengan perusahaan online. Peritel konvensional mesti berbenah untuk menjaga pertumbuhan penjualan. Pasalnya, di era digital seperti sekarang, masyarakat makin banyak yang memilih berbelanja di offline.

“Yang menarik dari pengamatan saya ketika ada penggabungan penjualan antara offline dengan online. Nah, itu hasil penjualannya relatif lebih tinggi,” katanya.

Mantan Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) ini menyebut, era disruptif seperti sekarang telah mengubah drastis pola hidup masyarakat. Gaya hidup serba digital tidak hanya diminati generasi muda, tapi sudah merebak di segala usia.

Pusat perbelanjaan yang dulunya diminati sebagai tempat belanja, sekarang telah berubah menjadi tempat hangout. Pelaku usaha yang bisa bertahan di era disruptif adalah mereka yang berbenah mengikuti permintaan pasar, terutama milenial.

“Karena kalau kita membicarakan penjualan sekarang ki ta harus melihat minat seperti milenial. Karena sekarang sudah berbeda, mereka sudah jarang ke mall atau departemen store untuk belanja. Kebanyakan melalui smartphone,” paparnya.

Baca Juga : Solskjaer Bingung Lihat MU Menang Lawan Tim Kuat, Kalah Hadapi Tim Gurem

Untuk belanja Fast Moving Consumer Goods (FMCG), umum nya masyarakat pergi ke toko terdekat dengan tempat ting gal. Dalam hal ini tidak hanya ada persaingan dengan online tapi juga antar peritel.

“Kalau ditanya apakah online ini menjadi ancaman, jelas itu ancaman bagi offline kalau dia tidak berbenah,” tuturnya.

Bagi pemilik toko ritel besar perlu melihat bahwa pasar terbesarnya saat ini adalah milenial. Sedangkan milenial gemar hangout. Generasi muda umumnya menjadikan pusat berbelanja tempat nongkrong.

“Coba lihat di Mall Kota Kasablanka lihat di Plaza Indonesia, semua itu kebanyakan menyediakan tempat makan. Karena ada perubahan pola berbelanja yang luar biasa sekarang,” ujarnya.

Namun dia menilai, hal ini peluang bagi para pelaku usaha terutama para UKM untuk menjual produk di online. Meski satu sisi sebagai ancaman bagi para pelaku UKM, karena blibli.com dan Shopee mengaku lebih dari 70 persen barang yang dijual itu produk impor dari China.

Untuk mengatasi agar produk lokal bisa terjaga, pemerintah harus turun tangan. Di saat menjadi Menteri Perdagangan, Enggar mengaku melahirkan aturan yang disebut Pusat Logistik Berikat (PLB).

“Barang impor di e-commerce tak bisa dilarang. Jadi waktu itu yang saya lakukan membuat PLB. Itu saya buat agar ada persaingan yang sehat antara produk lokal dengan impor. Barang-barang luar itu masuk ke Indonesia memiliki aturan. Tujuannya agar ada keadi´┐żlan dalam bisnis,” jelasnya.

Baca Juga : CIMB Niaga Bakal Rebranding Go Mobile Jadi Octo Mobile

Terpisah, Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) mengakui bisnis ritel mengalami penurunan penjualan. Hal tersebut, khususnya dirasakan sektor Fast Moving Consumer Goods (FMCG).

“Hampir semua produk FMCG alami masa sulit sejak tiga tahun rerakhir,” ujar staff ahli Hippindo, Yongki Susilo kepada media.

Bahkan di tahun ini, ritel supermarket mengalami penurunan pertumbuhan. Kinerja Hero Salah satu perusahaan ritel yang mengalami penurunan adalah PT Hero Supermarket Tbk (HERO).

Tercatat Hero membukukan penurunan penjualan sebesar 3,7 persen pada kuartal III-2019.

Direktur Utama Hero Supermarket Patrik Lindvall menjelaskan, penjualan perusahaan ritel itu turun dari 9,8 triliun di kuartal III-2018 menjadi Rp 9,4 triliun di kuartal III-2019.

Dia bilang, penurunan penjualan akibat perusahaan tengah melakukan transformasi bisnis mengikuti minat pasar.

“Penurunan penjualan terjadi karena perusahaan tengah melakukan optimasi toko untuk menunjang revitalisasi bisnis,” paparnya saat ditemui Rakyat Merdeka di Tangerang Selatan, pekan kemarin.

Baca Juga : Atasi Masalah Sampah Plastik, APP Kembangkan FoopakBioNatura

Hero Group memiliki komitmen untuk menjadi perusahaan yang baik dan berjangka panjang, dengan melaksanakan kegiatan pencegahan pencemaran lingkungan, pengelolaan limbah, serta program pemanfaatan energi yang efektif.

“Hero Group tetap fokus pada transformasi strategis multi-tahun dan berkeyakinan, tindakan yang dilakukan saat ini akan mengarah pada pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan,” kata Patrik.

Selain itu, Patrik juga menambahkan bahwa perseroan terus berinvestasi dan mengembangkan kapabilitas di Indonesia, untuk menciptakan toko ritel yang kompetitif, solid disetiap bisnis yang dijalankan, dan me ngembangkan bisnis dalan jangka panjang di Indonesia.

Dalam menghadapi tren ecommerce, Hero Supermarket memiliki cara sendiri untuk ber tahan. Salah satunya melalui pembukaan gerai baru yang mudah dijangkau oleh pelanggan seperti di lokasi apartemen.

Dia menyatakan, masih melakukan ekspansi gerai IKEA. Tahun depan, perseroan berencana menambah dua gerai IKEA di Cakung (Jakarta Timur) dan Bandung (Jawa Barat). “Bangunannya sudah ada, jadi biaya investasinya tidak sebesar IKEA lainnya,” katanya. [JAR]