Tekan Impor Gula

Petani Minta Pemerintah Revitalisasi Pabrik Lokal

Sekretaris Jenderal Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Sekretaris Jenderal Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Asosiasipetani gula berharap pemerintah bisa lebih serius mendukung penyerapan gula dari para petani lokal. Salah satu caranya dengan menghidupkan dan mengaktifkan kembali pabrik gula dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsyin menjelaskan, jika pabrik gula dalam negeri tidak direvitalisasi, maka kebutuhan gula dalam negeri akan dipenuhi melalui impor. Apa lagi sekarang impor gula rafinasi tidak sesuai kebutuhan.

“Impor gula rafinasi kita kebanyakan ditambah pabrik gula kita yang belum direvitalisasi,” katanya kepada Rakyat Merdeka, kemarin. Khabsyin menegaskan, fenomena impor gula tak akan berhenti jika permasalahan utamanya   tidak diperbaiki. Sulitnya pabrik gula lokal memenuhi spesifikasi industri karena pertanian tebunya tidak berkembang. 

Penyebab utama pertanian tebu tidak berkembang, kata dia, salah satunya akibat dari merembesnya gula untuk industri ke pasar umum. Sehingga harga gula lokal jatuh.

Berita Terkait : Revitalisasi Taman Sriwedari

Untuk saat ini, dia meminta pemerintah bisa menekan impor gula agar tidak berlebihan. “Kita minta volume impor harus dilakukan sesuai kebutuhan,” tegasnya. Khabsyin berharap, produksi dan kualitas gula bisa dinaikkan dengan memperbaiki pertanian dan melakukan revitalisasi pabrik.

Ekonom dari Universitas Gadjah Mada Revrisond Baswir menilai, pabrik gula tua yang rata-rata didapati di pabrik gula BUMN membuat produksi gula menjadi terbatas dan mahal. Karena tak efisien, harga gula dari pabrik-pabrik tua tersebut menjadi 3 kali lipat lebih tinggi dibandingkan gula impor sehingga tidak laku di pasar.

“Yang tua itu kan pabrik-pabrik gula BUMN. Harusnya revitalisasi menyeluruh,” ujarnya kepada wartawan, kemarin. Untuk diketahui, harga gula lokal sampai November 2018 sebesar tiga kali lipat dibandingkan dengan harga gula dunia. Harga gula lokal mencapai Rp 12.163 per kg, sementara rata-rata harga gula mentah dunia hanya Rp 4.000.

Soal revitalisasi menyeluruh ini pun, Revrisond berpandangan, sulit terjadi. Pasalnya, investor akan cenderung ragu melihat produksi tebu nasional yang dipandang tidak akan mencukupi kebutuhan pabrik gula sendiri. “Selama ini kan lahan tebu itu masih bercampur-campur. Jarang yang lahan tebu doang tanpa ditanami apa-apa lagi,” imbuhnya.

Berita Terkait : Pemprov DKI Janji Akan Ganti 3 Kali Lipat Pohon

Dia juga menilai masalah produksi tebu lokal butuh perhatian yang besar dari Kementerian Pertanian. “Perhatian Kementan belum maksimal soal gula ini,” cetusnya.

Dilihat dari Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Tebu 2015-2017, lahan perkebunan tebu dalam periode 2008-2017 tak banyak mengalami perubahan. Pada periode tersebut, luas rata-rata mencapai 454.782 hektare, dengan luasan tertinggi pada 2014 yakni 478.108 hektare dan luasan terendah pada 2009 seluas 441.440 hektare. Dari luasan tersebut, rata-rata produksi pada periode yang sama adalah 246 juta ton.

Anggota Komisi VI DPR Inas N Zubir bilang, berdasarkan kunjungan di beberapa pabrik gula milik BUMN, rendahnya produksi gula nasional lantaran pabrik sudah berusia tua. “Pabrik gula itu harus dibongkar dan dibangun ulang dengan mesin yang modern. Karena sudah terlampau tua,” kata dia.

Tak hanya umur pabrik gula yang menjadi masalah minimnya produksi gula dalam negeri. Menurutnya, sejauh ini, pemerin¬tah tak mampu menjaga kestabilan produksi tebu para petani.

Berita Terkait : Pemerintah Genjot Gasifikasi Batubara

“Banyak lahan tebu berubah menjadi area bisnis bahkan perumahan. Ini adalah dampak dari otonomi daerah. Pemerintah Daerah seenaknya saja merubah lahan pertanian tebu menjadi fungsi lain,” ujar Inas. [JAR]