Perang Dagang Mulai Adem

Nasib Harga Minyak Kita Cerah

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Pertamina. Foto: Istimewa
Klik untuk perbesar
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) milik Pertamina. Foto: Istimewa

RMco.id  Rakyat Merdeka - Harga minyak mentah kita (Indonesian Crude Price/ICP) terus menguat. Berdasarkan perhitungan formula ICP, pada November lalu, harga minyak kita mengalami peningkatan harga sebesar 3,44 dolar AS per barel, menjadi 63,26 dolar. Pada Oktober lalu, harga minyak ada di angka 59,82 dolar AS.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi menguraikan, salah satu faktor yang memengaruhi adalah tercapainya kesepakatan dalam pembicaraan dagang Amerika Serikat (AS)-China Tahap 1, sehingga optimisme pasar minyak dunia terdongkrak.

Berita Terkait : Hipmi Dukung APNI Perjuangkan Harga Nikel

"Pada November, pasar minyak dunia naik karena beberapa hal seperti tercapainya kesepakatan AS- China, selain itu Uni Eropa juga menunda Brexit hingga Januari 2020, ini menjadi sinyal positif bagi pasar minyak dunia," urai Agung di Jakarta, Jumat (6/12)

Tim Harga Minyak Indonesia juga menyatakan, pemicu kenaikan harga minyak juga dikarenakan ekspektasi pasar bahwa negara-negara OPEC+ akan memperpanjang periode pemotongan produksi atau bahkan menambah besaran pemotongan produksi dalam pertemuan tanggal 5 Desember 2019.

Baca Juga : Warga Tak Perlu Khawatir, Naik MRT Insya Allah Aman

Catatan Tim Harga Minyak Indonesia menyebutkan, harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada November 2019, mengalami kenaikan dibandingkan Oktober 2019. 
Dated Brent, misalnya. Jenis minyak mentah ini mengalami kenaikan sebesar 3,30 dolar per barel. Dari 59,72 dolar menjadi 63,02 dolar.
Faktor lain yang mendongkrak harga minyak dunia adalah publikasi International Energy Agency (IEA) periode November 2019 yang melaporkan, proyeksi permintaan minyak mentah global naik di kuarter keempat 2019, naik sebesar 300.000 barel per hari dibanding kuarter ketiga 2019. 

Selain itu, penurunan produksi Iran menjadi sebesar 2,15 juta barel per hari, yang merupakan produksi terendah sejak 1988, akibat pengenaan sanksi oleh AS.
Untuk kawasan Asia Pasifik, kenaikan harga minyak mentah juga dipengaruhi tingkat pengolahan kilang yang terus menguat dengan mulai beroperasinya sejumlah kilang pengolahan baru di China, berakhirnya periode pemeliharaan kilang petrokimia di Korea Selatan dan peningkatan oil throughput beberapa kilang di negara Asia lainnya, seperti Taiwan dan Jepang. [KRS]