Soal Pentingnya Investasi

Milenial Perlu Diingatkan, Tapi Jangan Dibikin Ribet

Sandiaga Uno ingatkan generasi milenial tentang investasi di acara Apresiasi Financial Award 2019. Acara ini digelar RRI bersama Iconomics Research di Studio RRI di Jakarta, kemarin.
Klik untuk perbesar
Sandiaga Uno ingatkan generasi milenial tentang investasi di acara Apresiasi Financial Award 2019. Acara ini digelar RRI bersama Iconomics Research di Studio RRI di Jakarta, kemarin.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemuda kelahiran 1983 hingga Tahun 2000 atau generasi milenial diproyeksikan memiliki peran besar bagi perekonomian nasional. Mereka harus diingatkan tentang pengelolaan keuangan yang tepat, salah satunya investasi.

Research of Director Iconomics Research, Alexander Mulya mengatakan, data BPS tahun 2017 jumlah populasi milenial mencapai 88 juta jiwa atau 33,75 persen dari total populasi Indonesia. Jumlah tersebut berdampak pada perkembangan ekonomi nasional.

"Generasi milenial menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia saat ini dan beberapa tahun ke depan. Hal itu karena jumlahnya yang besar dan kelompok usia produktif," ujarnya dalam keterangan persnya yang diterima Rakyat Merdeka usai, Iconomics Research dan RRI Financial Award 2019 di Jakarta, kemarin.

Iconomics Research bekerja sama dengan RRI telah melakukan riset survei persepsi milenial Indonesia terhadap industri jasa keuangan Indonesia yaitu perbankan, perusahaan asuransi, perusahaan pembiayaan (multifinance), perusahaan sekuritas, dan Fintech.

Riset yang melibatkan 10.000 responden di 10 kota besar di Indonesia pada Oktober 2019, menemukan hasil yang menarik. "Ada beberapa temuan menarik dari riset ini, diantaranya penetrasi jasa keuangan masih relatif kecil yaitu 13,04 persen," katanya.

Baca Juga : Waspada Bencana, Kepala BNPB Minta BPBD DKI Siapkan Mitigasi Transportasi Umum dan Obyek Vital

Hal ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi para pelaku industri jasa keuangan konvensional maupun syariah untuk meningkatkan penetrasinya di kalangan milenial.

Apalagi milenial adalah kelompok usia produktif dan berjumlah lebih dari sepertiga populasi Indonesia. Dari data tersebut meski penetrasi masih relatif rendah, tetapi pengetahuan kelompok milenial atas perusahaan jasa keuangan relatif tinggi yaitu rata-rata 41,32 persen.

"Generasi milenial juga cenderung memberikan penilaian yang relatif baik terhadap brand-brand perusahaan jasa keuangan," terangnya.

Generasi milenial memang perlu diingatkan tentang pentingnya mengelola keuangan. Jangan sampai hanya fokus pada kesenangan atau kepuasan sesaat tapi tidak punya konsep atau rencana jangka panjang.

Pengusaha nasional Sandiaga Salahuddin Uno menilai generasi muda memiliki cara pandang dan keuangan unik. Dalam urusan keuangan, banyak dari mereka yang enggan menjalankan proses investasi yang berbelit atau ribet. Milenial ingin serba cepat dan praktis.

Baca Juga : Paparkan Daftar Keunggulan Pebisnis Investasi di Guinea

"Mereka tidak suka terikat ya. Nggak suka ribet. Saya melihat milenial itu independen, bebas, tidak menggurui, dan tidak suka ribet,” ujar Sandiaga Uno.

Sebagai seorang yang sering menjadi jembatan pemikiran antara generasi milenial dan kolonial, dia menyikapi perbedaan persepsi dan perilaku antara kedua segmen tersebut.

“Karena milenial punya kebiasaan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Bagaimana kita bisa menjembatani. Dan kaitannya terhadap finansial, bagaimana pandangan mereka terhadap pinjaman, investasi dan pengelolaan dana," terangnya.

Sandi bilang banyak milenial sudah bikin anggaran bulanan. Itu merupakan sinyal yang baik. Mereka merencanakan anggaran kemudian hampir 80 persen milenial menabung.

“Namun hampir 70 persen dari mereka belum melek investasi. Bahkan 20 persen milenial tidak punya investasi,” katanya.

Baca Juga : Ketua KPK: Bawahan Presiden, Yes Bawahan Kapolri, No!

Dia menambahkan, milenial punya cara pandang dan keuangan yang cukup unik. Mereka lebih suka jalan-jalan ketimbang investasi. Karena itu milenial perlu kita ajak berinvestasi.

“Caranya harus menggunakan media platform gaya bahasa mereka. Tidak seperti marketing zaman dulu. Dengan pendekatan yang mereka suka. Seperti entrepeneur, musik dan film,” jelas Sandiaga.

CEO Iconomics Bram S. Putro mengatakan, award tersebut beda dengan lainnya. “Karena kita konsen membantu 2020 nanti. Misal dari brand equitinya,” ujarnya. [JAR]