Apindo Dorong Sinergi Industri Hulu dan Hilir

Jokowi: Meski Ekonomi Cuma Tumbuh 5 Persen, Ya Disyukuri Aja

Presiden Jokowi
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi

RMco.id  Rakyat Merdeka - Dunia usaha memprediksi pertumbuhan ekonomi pada 2020 tak sampai 5 persen. Untuk mendongkraknya, diperlukan sinergi industri hulu dan hilir.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, dengan mempertimbangkan berbagai faktor, baik faktor eksternal (global) dan internal, pertumbuhan ekonomi tahun depan paling kinclong hanya mampu menyentuh angka 5,1 persen. 

“Adapun, prediksi pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2019 diperkirakan hanya sekitar 4,95 persen sampai 5,1 persen. Angka ini di bawah target pemerintah, yaitu 5,2 persen,” kata Hariyadi dalam konferensi Outlook Perekonomian Apindo 2020, di Jakarta, kemarin. 

Ia menyebut, faktor eksternal yang sangat mem pengaruhi gagalnya target pertumbuhan ekonomi adalah kelesuan ekonomi global akibat perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Kondisi ini menjadikan aliran portofolio dana investor ke Indonesia terhambat. Menciptakan tekanan terhadap berbagai mata uang global, termasuk rupiah. 

Baca Juga : Seusai Kongres, PSSI Kumpulkan 34 Asprov Diskusikan Program 2020

“Sedang untuk kondisi internal banyak dipengaruhi tingkat investasi yang belum akan beranjak jauh dari kondisi 2019. Kita masih akan meng hadapi berbagai macam tantangan terkait dengan cost of doing business/kemudahan berbisnis seperti perizinan usaha, ketenagakerjaan, logistik, perpajakan, akses lahan, biaya permodalan, energi, serta lemahnya daya beli,” ungkap Hariyadi.

Agar mampu mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun depan, ada sejumlah rekomendasi yang dikeluarkan Apindo. Di antaranya, me ningkatkan optimalisasi kinerja industri melalui sinergi industri hulu dan hilir. 

“Apindo juga merekomendasikan kepada pemerintah untuk melakukan perbaikan di bidang ketenagakerjaan dan perpajakan demi mendukung daya saing industri,” ujar Hariyadi.

Terkait dengan Omnibus Law, menurut Hariyadi, Apindo mendukung upaya pemerintah dalam penyusunan Undang-undang tersebut yang terkait perizinan, perpajakan, ketenagakerjaan, dan UMKM. 

Baca Juga : Legenda Manchester United, Robin Van Persie Dijadwalkan Akan Datang Ke Indonesia

“Adanya Omnibus Law diharapkan mampu mendongkrak investasi masuk ke Indonesia dan secara tidak langsung hal ini berdampak pada meningkatnya penciptaan lapangan kerja,” tegas Hariyadi. 

Terpisah, Presiden Jokowi meminta semua pihak mensyukuri pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen. Capaian pertumbuhan ekonomi ini pun tidak terlepas dari kinerja semua pihak. 

“Saya kira apa yang kita usa-ha kan, perekonomian di negara masih bisa tumbuh 5 persen lebih sedikit. Ini kerja keras yang patut disyukuri,” kata Jokowi saat Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) di Hotel Mulia Senayan Jakarta, kemarin. 

Menurutnya, ketidakpastian global saat ini masih mengintai perekonomian dunia. Masalah perang dagang yang tak kunjung berakhir, lalu ancaman resesi ekonomi dunia hingga keluarnya Inggris dari Uni Eropa juga jadi faktor penyebab pertumbuhan ekonomi Indonesia belum bisa sesuai target. 

Baca Juga : Kerajaan Warteg Bahagia Fokus Di Bisnis Kuliner

Bahkan, lanjut Jokowi, tidak semua negara di dunia seberuntung Indonesia. Beberapa negara yang semula memiliki ekonomi tinggi sudah lebih dulu terpuruk. 

“Contohnya Amerika Serikat. Saat ini pertumbuhan ekonominya hanya di kisaran 2,1 persen pada kuartal III-2019. Lalu, China, sebelum ketidakpastian global selalu tumbuh double digit, sekarang hanya tumbuh 6 persen,” kata Jokowi. 

Menurut dia, mengelola negara sebesar Indonesia, tidaklah mudah. Apalagi dengan keberagaman suku, budaya, agama dan luasnya geografis Tanah Air. “Karena itu, para pimpinan daerah harus memperkuat jalinan komunikasi dan ber hati-hati menga tasi persoalan-persoalan kecil sekalipun,” tegasnya. [NOV]