RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II semakin mematangkan rencana percepatan pengembangan Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara, melalui skema kemitraan strategis (strategic partnership).

Dengan skema tersebut, AP II dan mitra investor strategis akan bergabung di dalam joint venture company (JVCo) yakni PT Angkasa Pura Aviasi, untuk mengelola dan mengembangkan Kualanamu.

Konsep yang dikembangkan dalam kerja sama strategis ini dikenal dengan 3E : Expansion the traffic, Expertise sharing dan Equity partnership.

Tujuan utama program kemitraan strategis ini adalah menjadikan Bandara Internasional Kualanamu sebagai International Hub di kawasan barat Indonesia, sekaligus mengembangkan Aero City di kawasan bandara.

Berita Terkait : Mau Kembangkan Bandara Kualanamu, Angkasa Pura II Lirik Mitra Strategis

Asal tahu saja, tahun lalu, Bandara Internasional Kualanamu telah memiliki 10,5 juta pergerakan penumpang dalam setahun.

Saat ini, terdapat 19 korporasi yang telah berminat menjadi mitra investor strategis, yang berasal dari negara di kawasan ASEAN, Eropa, dan Asia Timur.

Direktur Transformasi dan Portfolio Strategis AP II Armand Hermawan mengatakan, AP II akan menerbitkan dokumen Request for Proposal (RfP) kepada korporasi-korporasi yang berminat itu.

“Dokumen RfP akan diterbitkan kepada calon investor pada akhir Januari 2020. RfP tersebut memuat struktur transaksi kerja sama, yang akan dijalankan oleh PT Angkasa Pura II dan mitra strategis," kata Armand.

Baca Juga : Klubnya Juara, Eden Hazard Justru Merana

“Struktur transaksi kerja sama tersebut tentunya dengan selalu mengacu kepada regulasi, aspirasi pemerintah selaku pemegang saham, serta perkembangan di industri transportasi udara nasional,” imbuhnya.

Seluruh proses pemilihan mitra investor strategis ini, ditargetkan tuntas pada pertengahan tahun depan. Juli 2020, diharapkan sudah dilakukan penandatanganan kerja sama.

“Yang jelas mitra investor strategis harus memilki kemampuan dan pengalaman global di sektor kebandarudaraan, termasuk aspek operasional dan bisnis. Selain itu, juga harus mampu menaikkan traffic penumpang dan penerbangan, dan secara finansial bisa memberikan pendanaan dalam jangka waktu panjang,” jelas Armand.

Saat ini, kapasitas terminal penumpang di Kualanamu mencapai angka 8 juta penumpang per tahun. Dalam perkembangan selanjutnya, kapasitas terminal penumpang ditargetkan dapat menampung pergerakan penumpang hingga 17 juta penumpang pada tahun 2024.

Baca Juga : Soal Omnibus Law, Ini Kata Ketum AMPI

Melalui strategic partnership, pengembangan Kualanamu dapat dipercepat sehingga mampu mengakomodir pertumbuhan industri.

Dengan strategic partnership, Kawasan Bandara Internasional Kualanamu akan dikembangkan menjadi Aerocity, serta hub untuk penumpang dan kargo di wilayah Barat Indonesia, dengan nilai investasi indikatif senilai 500 juta dolar AS.

Nantinya, terminal penumpang pesawat di Kualanamu juga dikembangkan hingga berkapasitas 22 juta penumpang per tahun di tahun 2030.

Area pergudangan kargo juga diperluas dari 13.000 meter persegi, menjadi 27.318 meter persegi. Pengembangan Bandara Internasional Kualanamu difokuskan pada peningkatan konektivitas internasional khususnya di kawasan ASEAN, Asia Selatan, China dan Timur Tengah, selain memperkuat konektivitas domestik tentunya. [HES]