Teknologi Hilirisasi, Menteri ESDM: China Bisa, Masa Kita Nggak

Arifin Tasrif (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Arifin Tasrif (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri ESDM Arifin Tasrif menyampaikan bahwa hilirisasi pertambangan sudah sepatutnya dibarengi dengan adopsi perkembangan teknologi baru. Pemanfaatan teknologi cerdas dan canggih, model bisnis baru, dan penciptaaan digitalisasi akan menambah nilai hilirisasi sehingga mencapai pertumbuhan bisnis yang luar biasa.        

"Soal hilirisasi, saya ingin kita ini selalu mengadopsi perkembangan-perkembangan teknologi baru. Kita punya sumber mineral banyak, tapi teknologinya yang punya orang (negara) lain. Kita belajar dari mana mereka itu bisa mendapatkan teknologinya. Kita punya sumbernya, tapi kenapa kita ketinggalan sehingga kita harus membeli teknologi dari luar. Nilai itu yang harus kita perbaiki," tegas Arifin dalam keterangan resmi, Senin (6/1).        

Berita Terkait : Pemerintah Genjot Gasifikasi Batubara

Arifin mencontohkan, keberhasilan China memanfaatkan teknologi sebagai bagian dari hilirisasi membuat mereka mampu menguasai sebagian besar dunia usaha pertambangan. "Sekarang Tiongkok yang paling unggul dalam processing nikel. Tak salah perusahaan-perusahaan besar yang selama ini mendominasi processing mineral sekarang malah ketinggalan secara cost (dari Tiongkok)," paparnya.          

Kesuksesan China, imbuh Arifin, harus dijadikan modal untuk kemajuan industri hilirasi pertambangan di Indonesia. "Kita harus bisa 'tersinggung', kok orang lain bisa kenapa kita enggak. Ketersinggungan kita harus kita respons dengan usaha. Jadi saya minta pada para pimpinan unit membuat program yang mengacu pada hal tersebut," imbaunya.        

Baca Juga : Polisi Buru Pemilik Mobil Yang Males Bayar Pajak

Arifin pun mendukung penuh untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompetitif untuk melakukan adopsi teknologi demi menyukseskan program hilirisasi tersebut. "Jika perlu peralatan kita siapakan, jika perlu pendidikan kita dukung. Yang penting program ini bisa berjalan dan kita bisa jalankan sebagainana yang kita harapkan," tegasnya.

Sebagai bagian dari hilirisasi pertambangan, hingga saat ini total smelter yang mengantongi Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi Khusus (IUP OPK) dari Kementerian ESDM berjumlah 17 smelter. Kementerian ESDM memproyeksikan, pada 2022 ada 52 unit smelter yang beroperasi, terdiri dari smelter nikel sebanyak 29 pabrik, 9 smelter bauksit, 4 smelter besi, 4 smelter tembaga, 2 smelter mangan, dan 4 smelter seng & timbal. [USU]