Hasil Panen Kediri dan Blitar Jaga Stabilitas Pasokan Cabe Rawit

Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementan, Sukarman (kemeja putih) memantau pasokan cabe di Kecamatan Pagu, Kediri, Rabu (8/1). (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementan, Sukarman (kemeja putih) memantau pasokan cabe di Kecamatan Pagu, Kediri, Rabu (8/1). (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menugaskan Ditjen Hortikultura memastikan ketersediaan pasokan bawang merah dan cabe di awal musim penghujan, utamanya Januari hingga Maret. Diharapkan, masyarakat dan konsumen luas mendapatkan kepastian dalam pemenuhan kebutuhan rumah tangga maupun keberlanjutan skala usahanya.

Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Sukarman, menyampaikan, hasil monitoring dan pantauan lapang di Kabupaten Kediri dan Blitar, pasokan cabe terpantau aman. Pasokan ini membantu menjaga stabilitas nasional.

Berita Terkait : Kemenkes: Info 6 Kota Zona Kuning Corona Hoaks

"Secara kumulatif, terdapat terdapat lahan siap panen sekitar 900 hektare di Kabupaten Kediri dan 750 hektare di Kabupaten Blitar. Kediri dan Blitar selama ini memang masih menjadi barometer harga untuk pasar Jabodetabek, khususnya untuk cabe rawit merah," kata Sukarman, di sela kunjungannya ke Kediri dan Blitar, Rabu (8/1).

Secara umum, lanjutnya, harga wajar rata-rata di tingkat petani Rp 35-Rp 40 ribu per kilogram. Meskipun demikian, terjadi sedikit penurunan pasokan mengingat kondisinya sisa dari pertanaman pertengahan 2019.

Berita Terkait : Pacu Ekspor Buah dan Flori, Kementan Bangun Kawasan Berdaya Saing

"Jadi, pertanaman ini merupakan hasil panen petik ujung sisa pertanaman pada pertengahan 2019. Panen selebihnya belum merah sempurna sehingga diperkirakan Februari awal kembali terjadi peningkatan ketersediaan panen," paparnya.

Dirinya juga menjelaskan, musim penghujan mulai masuk. Petani di dataran tinggi baik di Kediri maupun Blitar sedang bersiap melakukan pertanaman baru.

Berita Terkait : Kemenag Pantau Jemaah Umroh yang Tertahan di Bandara

Pria yang akrab dipanggil Karman ini juga memberikan tantangan kepada seluruh petugas dan masyarakat tani agar dapat meningkatkan kemampuan produksi. Caranya dengan memanfaatkan benih unggul hybrid maupun lokal yang bebas virus kuning. "Selain itu menerapkan sistem budidaya yang ramah lingkungan melalui perlindungan lahan/border refugia maupun penggunaan pupuk organik dan pestisida nabati," jelasnya.

Berdasarkan pengamatan lapang, lanjutnya, virus kuning menjadi tantangan terberat saat ini untuk mempertahankan produktivitas lahan pada pencapaian 6 ton/ha. Rata-rata petani hanya mampu menghasilkan 3-4 ton/ha. Hal ini sangat disayangkan mengingat potensi pencapaian produktivitas begitu terbuka untuk ditingkatkan. [KAL]