Sleman Siap Amankan Pasokan Cabe ke Jakarta Hingga 3 Bulan ke Depan

Perkebunan cabe di Sleman (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Perkebunan cabe di Sleman (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menyikapi lonjakan harga cabe yang terjadi awal tahun ini, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat dengan memantau lapangan untuk memastikan ketersediaan pasokan hingga tiga bulan ke depan. Pemantauan ini dilakukan pada 22 kabupaten sentra penyangga Jabodetabek.        

Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Sukarman, mejelaskan, dalam dua pekan ini pihaknya bergerak memastikan kondisi riil produksi di wilayah Jawa. "Saya kerahkan pejabat dan staf untuk memantau produksi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY. Kita pilih kabupaten sentra yang memiliki share terbesar terhadap produksi cabe nasional sekaligus penyangga Jabodetabek," ujar pria asal Purworejo itu.         

Berita Terkait : Kementan: Program Tanam Bawang Putih Jalan Terus

Sleman menjadi salah satu wilayah yang dipantau langsung. Sukarman menyebutkan, selain sebagai pemasok Jabodetabek, Sleman menduduki peringkat ke 15 dari seluruh kabupaten yang memberikan share terhadap produksi cabe di Indonesia.     

Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Sleman, Eddy Sri Hartanta, menyatakan, produksi cabe di wilayahnya tidak pernah kosong. Sebab, pihaknya sudah memetakan dan mengatur pola tanam.         

Berita Terkait : Dukung Kementan, Petani Subang Antusias Kembangkan Manggis

Dia mengakui, memang saat ini produksi cabe sedikit turun karena pertanaman di lahan sawah mulai memasuki akhir musim panen. "Berdasarkan data kami, untuk saat ini potensi luas panen aneka cabe kita kurang lebih 160 hektare. Sementara untuk pertanaman Februari, prediksi luas panen kurang lebih 280 hektare, Maret diperkirakan 190 hektare. Untuk potensi produksinya sekitar 900 ton di Januari dan puncaknya Februari nanti sebesar 2.047 ton. Melihat kondisi tersebut, Kabupaten Sleman optimis volume pasokan cabai ke Jakarta akan bertambah dan aman hingga 3 bulan ke depan,” ujar Eddy.         

Ketua Kelompok Tani Sidoarum asal Kecamatan Turi, Yuni Antoro, mengatakan, di Desa Wonokerto, Kecamatan Turi standing crop tanaman cabe ada 43 hektare yang tersebar di Dusun Tunggularum, Ngembesan dan   Gondoarum. Umurnya bervariasi mulai satu bulan hingga sedang panen.         

Berita Terkait : Tuntutan Peternak Ayam ke Kementan Dianggap Salah Alamat

"Kondisi tanamannya cukup baik. Hanya satu dua yang terserang virus kuning dan keriting. Meskipun demikian, Dinas membantu pestisida nabati berupa minyak cengkeh sebagai pengendalian virus tersebut, sehingga produksi tetap optimal,” tutup Yuni. [KAL]