RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah terus berupaya mengurangi ketergantungan impor garam untuk industri. Pasalnya, kebutuhan garam industri di Indonesia, tiap tahunnya terus meningkat, dan selama ini masih dipenuhi dengan impor. 

Hal ini dikarenakan produksi nasional belum mampu memenuhi kebutuhan industri. “Ada kesadaran, ada political will pemerintah untuk menggenjot produksi dalam negeri. Saat ini, impor garam dan gula semakin lama semakin berkurang,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, kemarin. 

Untuk menggenjot produksi garam bagi industri, lanjut Agus peningkatan standarisasi produksi garam industri dilakukan, mulai dari peningkatan nilai ekonomis ladang garam. 

Berita Terkait : Luhut Happy Ekspor Kuartal Pertama Kita Tumbuh Positif

“Paling sedikit nilai ekonomis usai keinginan industri NaCLnya harus minimal sekitar 98-99 persen, itu requirement pihak industri,” ujarnya. 

Saat ini, kata Agus, Indonesia masih belum bisa lepas dari ketergantungan garam impor untuk industri.Bahkan, kalau impor garam dihentikan, sementara kebutuhan bahan baku industri bergantung dari situ, maka keberlangsungan industri bakal terancam. 

Hal yang sama menurutnya berlaku untuk gula industri. “Selama ini kita terpaksa harus impor, karena kita tidak boleh mematikan industri itu sendiri hanya karena tidak mempunyai bahan baku,” tegas Agus. 

Baca Juga : DPD Terus Perjuangkan RUU Masuk Prolegnas

Diterangkan Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Khayam, alokasi impor garam industri 2020 mencapai 2,92 juta ton. Jumlah ini meningkat sekitar 6 persen dari tahun 2019 sebesar 2,75 juta ton. 

Ia mengatakan, kenaikan volume impor garam industri karena mengikuti pertumbuhan berbagai industri pengguna garam, antara lain industri makanan dan minuman (mamin). “Kebutuhan naik karena industrinya tumbuh. Pertumbuhan juga dijaga khususnya mamin,” kata Khayam. 

Ia juga menegaskan, kalau kuota impor 2,92 juta ton adalah persetujuan dari hasil rapat koordinasi terbatas (rakortas) di Kementerian Koordinator bidang Perekonomian beberapa waktu lalu. 

Baca Juga : Pertemuan Purnomo-Jokowi Bahas Pembangunan Masjid Taman Sriwedari, Bukan Pilkada Solo

Menurutnya, industri chlor alkali plant (CAP) masih menjadi pengguna garam impor terbesar, yang mencapai 2,6 juta ton atau 89 persen dari alokasi impor. 

“Industri CAP mengolah garam untuk kebutuhan industri kertas hingga petrokimia,” kata dia. 

Sampai awal tahun ini, terang Khayam Kemenperin belum mengeluarkan rekomendasi impor garam. Pihaknya, masih melakukan proses verifikasi yang dibantu pihak ketiga, yaitu PT Sucofindo. “Ini untuk memastikan impor yang dilakukan nantinya sesuai kebutuhan,” tegasnya. [NOV]