Hasil Survei Ipsos, OVO dan Gopay Paling Banyak Dipakai

Dari kiri, Chief Marketing Officer (CMO) LinkAja Edward Kilian Suwignyo, Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan dan Direktur CITA Yustinus Prastowo dalam konferensi pers Ipsos Marketing Summit di Jakarta, Rabu (15/1). (Foto: ist)
Klik untuk perbesar
Dari kiri, Chief Marketing Officer (CMO) LinkAja Edward Kilian Suwignyo, Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan dan Direktur CITA Yustinus Prastowo dalam konferensi pers Ipsos Marketing Summit di Jakarta, Rabu (15/1). (Foto: ist)

RMco.id  Rakyat Merdeka - OVO dan Gopay menjadi dompet digital yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia. Sementara kartu non tunai e-money dan Flazz merupakan kartu yang paling sering digunakan masyarakat Indonesia dalam bertransaksi di 2019.

Hal itu berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Ipsos Indonesia, perusahaan riset pemasaran independen, kepada 1.000 orang responden yang bermukim di pulau Jawa (66 persen), Sumatra (21 persen), Kalimantan (6 persen), Sulawesi (4 persen), Bali (4 persen) dan Nusa Tenggara (1 persen).

Managing Director Ipsos Indonesia Soeprapto Tan mengungkapkan, konsumen tidak hanya menggunakan satu jenis dompet digital karena hanya sebanyak 21 persen, sementara 28 persen menggunakan dua jenis dan 47 persen menggunakan tiga jenis atau lebih.

"Dari jumlah itu, dompet digital yang paling digunakan adalah OVO dan Gopay," sebutnya dalam laporan Ipsos di acara Ipsos Markering Summit bertajuk Indonesia The Next Cashless Society, Jakarta, Rabu (15/1).

Baca Juga : TVRI, Buaya, dan Bola

Penelitian juga mengungkapkan pola kebiasaan masyarakat dalam menggunakan kartu non tunai, terungkap e-money dan Flazz merupakan kartu yang paling sering digunakan dalam bertransaksi. "Di mana sebanyak 47 persen hanya memiliki satu kartu, 30 persen memiliki dua kartu dan 23 persen memiliki tiga atau lebih kartu non tunai," rincinya.

Tak cuma itu, Soeprapto juga menyebut, ada beberapa fakta menarik bahwa sebanyak 25 persen responden yang disurvei (1.000 orang) menggunakan digital payment, karena memberikan pengalaman yang menyenangkan dan sebanyak 26 persen karena merasa lebih aman, nyaman dan yakin. 

Penggunaan nontunai ini dimanfaatkan masyarakat untuk melakukan berbagai transaksi keuangan seperti berbelanja online, membayar tagihan listrik, membayar makanan di restoran, membayar penggunaan alat transportasi, menonton bioskop dan berbagai layanan perbankan digital. 

Soeprapto bilang, dalam studi ini terungkap beberapa segmen karakter konsumen dalam menggunakan alat pembayaran non tunai yakni konsumen yang tidak takut akan pembayaran nontunai (reassure), konsumen yang menikmati pembayaran nontunai dan memperkaya hidup (encourage) serta konsumen yang beranggapan bahwa pembayaran nontunai adalah hal baru yang mengikuti perkembangan zaman (inspire). 

Baca Juga : Bahasa Tunjukkan Harga

Di segmen reassure, sebanyak 26 persen responden merasa yakin, aman dan nyaman dalam menggunakan pembayaran non tunai dan sebanyak 19 persen, menggunakan pembayaran nontunai karena efisiensi dan dapat mengontrol pengeluaran mereka. 

Di segmen encourage, sebanyak 25 persen responden menggunakan pembayaran nontunai, karena mereka menikmatinya dan hal tersebut dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan, serta sebanyak 9 persen responden menggunakan pembayaran non tunai untuk membangun hubungan dengan orang lain.

Di segmen inspire, sebanyak 11 persen respondennya adalah para pengguna baru yang menggunakan nontunai untuk mendapatkan berbagai keuntungan, serta 10 persen respondennya adalah konsumen yang menginginkan produk nontunai yang lebih mumpuni serta memudahkan. 

“Dari hasil studi tersebut terlihat bahwa masyarakat kita saat ini sudah mulai terbiasa dengan pembayaran nontunai dalam kehidupan mereka sehari-harinya dengan berbagai motivasi dibalik penggunaan nontunai tersebut," katanya.

Baca Juga : Balitbangtan Tentukan Flagship Penelitian Pangan

Ia menegaskan, ke depannya jumlah pengguna layanan ini akan semakin melesat, dan hal ini harus disiapkan ekosistem yang semakin mumpuni baik dari sisi pemerintah, infrastruktur dan juga swasta.

Di acara yang sama, Chief Marketing Officer (CMO) LinkAja Edward Kilian Suwignyo menuturkan, ada dua behaviour orang menggunakan alat pembayaran digital. Pertama karena opsi alternatif dan kedua solusi. "Opsi karena program cashback atau ada value dari dompet digital itu. Kalau bicara keamanan, berarti ada solusi yang mulai terlihat. Perubaha cashless jadi permanen bukan karena ikut-ikutan," ucapnya.

Kehadiran pembayaran digital ini memang dibutuhkan dalam mengikuti perkembangan teknologi dalam memeratakan ekonomi nasional melalui inklusi keuangan. Saat ini ada 51 orang unbanked (tidak memiliki akses perbankan)n dengan teknologi keuangan bisa dijembatani.

"Peran pembayaran digital bisa meningkatkan ekonomi di suatu daerah, maka akan membuka lapangan pekerjaan, sehingga memberikan dampak yang menyeluruh bagi ekonomi nasional," tuturnya. [DWI]