Duet Bareng Adnoc, Pertamina Kembangkan Kilang Terintegrasi Petrokimia di Balongan

Ilustrasi Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Ilustrasi Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) dan Adnoc - perusahaan minyak nasional Abu Dhabi - sepakat menandatangani Nota Kesepahaman (MoU)  untuk menggali lebih lanjut potensi pengembangan Kompleks Kilang Terintegrasi Petrokimia di Balongan, Jawa Barat.

Penandatangan MoU ini dilakukan oleh Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan CEO Adnoc Group sekaligus Menteri Negara Uni Emirat Arab (UEA) Dr Sultan Ahmed Al Jaber di Abu Dhabi, UEA, Minggu (12/1) waktu setempat.

Pertukaran dokumen perjanjian itu turut disaksikan Presiden Jokowi, dan Putra Mahkota Abu Dhabi sekaligus Wakil Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata UEA YM Syaikh Mohamed bin Zayed.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyatakan, MoU ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan Comprehensive Strategic Framework (CSF) yang telah ditandatangani kedua belah pihak pada Juli 2019, untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak dan gas. Baik di UEA, Indonesia, ataupun internasional.

Berita Terkait : Tancap Gas Bangun Kilang, Pertamina Optimalkan Keterlibatan Industri Dalam Negeri

Sebagai hasil diskusi intensif tersebut, Pertamina dan Adnoc berhasil meningkatkan kesepakatan ke arah yang lebih strategis dan spesifik. Antara lain untuk mengevaluasi potensi pengembangan Crude to Petrochemicals Complex di Balongan.

Untuk langkah awal, kedua belah pihak akan mempelajari dan mendalami usulan struktur bisnis dan konfigurasi teknis, atas pengembangan kilang tersebut.

“Pertamina membuka diri untuk strategic partnership. Potensi kolaborasi dengan Adnoc akan memperkuat langkah bisnis Pertamina. Khususnya, dalam mengoptimalkan pengembangan kilang petrokimia di Balongan. Sehingga, nantinya dapat menghasilkan produk yang bernilai tinggi, serta memenuhi permintaan produk petrokimia di dalam dan luar negeri. Terutama, polyolefin," terang Nicke.

Potensi kerja sama ini dinilai enting, karena menurut rencana, pengembangan Crude to Petrochemicals Complex ini akan terintegrasi dengan RDMP Balongan. Sehingga, selain mengurangi impor BBM, hasilnya juga akan meminimalkan impor produk petrokimia.

Berita Terkait : Gandeng CTI, Pertamina Tingkatkan Kualitas Tenun Sumatera Selatan

Adnoc merupakan partner strategis potensial yang diperhitungkan Pertamina. Selain berpengalaman mengelola integrated refinery and petrochemical dengan kapasitas terbesar di Timur Tengah dan terbesar ke-4 di dunia, Adnoc juga memberikan opsi tawaran partisipasi Pertamina di blok produksi migas di UEA. Opsi tersebut nantinya akan didiskusikan oleh kedua pihak.

Dalam kesempatan yang sama, Pertamina dan Adnoc juga menandatangani perjanjian pasokan LPG. Dengan demikian, pada tahun 2020, Adnoc akan menyediakan LPG sampai dengan 528.000 MT untuk Pertamina, dalam rangka mengamankan kebutuhan LPG dalam negeri.

“Transaksi ini juga efektif, karena sumbernya langsung dari produsen,” ujar Nicke.

Untuk LPG, Adnoc uga dikenal sebagai salah satu perusahaan migas yang memproduksi LPG terbesar di dunia dengan kapasitas mencapai lebih dari 10 juta MT per tahun, untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar internasional.

Berita Terkait : Kuasai Saham Mayoritas, Pertamina Siap Integrasikan TPPI dengan GRR Tuban

Sementara itu, Dr Sultan Ahmed Al Jaber mengatakan, perjanjian dengan Pertamina akan mendukung Adnoc untuk memperkuat keberadaanya di Indonesia, sebagai salah satu pasar pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara.

Kesepakatan yang telah ditandatangani ini juga menunjukkan peluang penciptaan nilai yang inovatif, dan hubungan bilateral yang kuat antara UEA dengan Indonesia. [HES]