Tak Cukup Cuma Rokok, Plastik dan Sepeda Motor Juga Perlu Kena Cukai

Rokok (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Rokok (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Ekonom mendorong pemerintah segera melakukan ekstesifikasi cukai atau perluasan objek cukai. Tujuannya agar upaya menurunkan dampak negatif suatu produk di masyarakat berjalan efektif.  

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengatakan, pemerintah tidak bisa mengandalkan terus menerus pada penerimaan cukai pada produk hasil tembakau, alkhohol, dan minuman beralkohol. Pasalnya, target penerimaan cukai terus tumbuh setiap tahun sedangkan barang kena cukai hanya tiga objek.       

Baca Juga : Airlangga Beri Kuliah Umum di Seskoal

Objek kena cukai tidak berubah sejak Undang-Undang cukai diberlakukan pada 1995 hingga saat ini. “Jika pungutan cukai hanya ketiga objek ini, tidak akan mendukung penerimaan cukai ke depan,” ucapnya.      

Dia membandingkan objek cukai di Indonesia dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN. Objek cukai di Indonesia tertinggal dengan objek negara-negara ASEAN yang rata-rata memungut cukai pada 7 objek. “Bahkan di Thailand ada cukai kendaraan bermotor, karena asapnya dianggap jadi sumber polusi udara,” terangnya.      

Baca Juga : Sejumlah Wilayah Di Indonesia Rentan Rawan Pangan

Bhima menilai, terdapat objek potensial lainnya yang semestinya dikenakan pajak oleh pemerintah. Seperti minuman berpemanis, plastik kemasan, hingga kendaraan bermotor pribadi. Objek-objek tersebut perlu dikendalikan peredarannya di masyarakat sebagai bentuk pengendalian eksternalitas negatif.  

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), Yustinus Prastowo, menyarankan pemerintah segera melakukan ekstensifikasi cukai untuk memperbaiki rasio penerimaan cukai terhadap Produk Domestik Bruto. Menurut dia, rasio penerimaan cukai terhadap PDB di Indonesia masih sangat kecil, bahkan lebih kecil dibandingkan rata-rata negara Amerika Latin. [KW]