Ekspor Leather Leaf Kian Menjanjikan

Leather leaf (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Leather leaf (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Gairah bisnis florikultura kembali menggeliat. Selain anggrek, mawar dan krisan, kini daun pakis pun banyak diminati pasar. Jenisnya pun bermacam-macam, ada pakis kelabang (neprolepis exaltata), pakis emas atau monyet, sikas biru (cairnsiana atau glen idle blue) dan 'leather leaf'.  

Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini terus fokus mendorong ekspor. Salah satunya di sektor florikultura seperti halnya pakis. 

Di antara berbagai jenis tanaman pakis tadi, ada jenis pakis yang digunakan bagian tangkai daunnya saja sebagai daun potong, yaitu 'leather leaf' yang banyak dibutuhkan untuk dekorasi di pesta, misalnya untuk rangkaian bunga. Peluang pasarnya pun cukup luas, tidak hanya pasar lokal, daun yang berwarna hijau pekat dan mirip daun cemara ini mulai dilirik negara Sakura.

Berita Terkait : Pacu Ekspor Buah dan Flori, Kementan Bangun Kawasan Berdaya Saing

Direktur PT Sinar Equator, Erna Sapta Rini, mengungkapkan bahwa potensi bisnis leather leaf sangat menjanjikan. “Saat ini, leather leaf masih banyak peminatnya. Jepang pun menerima leather leaf dari Indonesia tanpa dibatasi kuota” kata dia. 

Erna memulai bisnis tanaman hias sejak 2005, dengan menyewa lahan di daerah Gekbrong, Kabupaten Cianjur yang saat ini luasannya mencapai lebih dari 5 Hektare. Lahan yang kami sewa ini sebagian besar kami tanami 'Leather Leaf' dan sebagian kecil adalah Ruscus dan Asparagus, ungkapnya.

Harga jual leather leaf cukup bagus yaitu mencapai Rp 500-700 per tangkai. Untuk yang diekspor, harga yang ditawarkan Rp 2.000 per stems. Harga tersebut berlaku untuk ukuran S, M, L, dan XL. Yang membedakan antara keempat ukuran tersebut adalah berdasarkan ukuran panjang.

Berita Terkait : Cegah Penyebaran ASF, Kementan Minta Pengawasan Lalu Lintas Babi Diperketat

Saat ini, PT Sinar Equator telah rutin mengekspor leather leaf ke Jepang, yaitu dua kali sebulan. Sekali kirim kurang lebih sebanyak 120.000 stems atau 120 box. “Dalam satu tahun kami telah mengekspor lebih dari 1,2 Juta stems leather leaf dan 1,1 Juta Stems Ruscus, beber Erna. Leather leaf yang kami kirim ini berasal dari kebun milik sendiri dan sebagian dari petani di daerah Cipanas. Leather Leaf yang dikirim ke Jepang harus kualitas super, bersih dan bebas dari OPT,” ucap Erna.

Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto, menyampaikan apresiasi atas adanya ekspor leather leaf ke negara Sakura tersebut. Komoditas florikultura memberikan kontribusi ekspor yang cukup tinggi selain komoditas buah-buahan dan sayuran. 

Dari catatan BPS, pada 2018, volume ekspor komoditas florikultura tercatat sebesar 4.600 ton senilai Rp 150 miliar. Ekspor florikultura khususnya leather leaf ini akan terus kita dorong, kawasan-kawasan baru kita bangun dan kita perluas, ungkap pria yang biasa disebut Anton itu. 

Berita Terkait : Curah Hujan Tinggi, Kementan Minta Petani Terapkan Jurus Ini

Menutunya, ini sejalan dengan program Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor komoditas Pertanian atau yang disebut dengan istilah GRATIEKS yang digagas Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Pada 2020, Ditjen Hortikultura berkomitmen mendukung program tersebut melalui program pengembangan kawasan florikultura seluas 225.000 meter persegi dengan total anggaran sebesar Rp 35 miliar.

Anton berharap, ekspor komoditas florikultura ini dapat tetap rutin dilaksanakan dengan volume yang lebih besar, dan tidak hanya dari daerah Kabupaten Cianjur saja, namun juga bisa dari daerah lainnya seperti Lembang, Sukabumi dan Semarang. “Pasar Jepang tidak membatasi kuota, jadi ini adalah kesempatan emas buat menduniakan florikultura Indonesia,” pungkasnya. [KAL]