Timbulkan Pesimisme dan Ketidakpastian

Virus Corona Gulung Perekonomian Dunia

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indarawati
Klik untuk perbesar
Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indarawati

RMco.id  Rakyat Merdeka - Virus corona yang sedang mewabah di beberapa negara, menimbulkan pesimisme dan ketidakpastian pada perekonomian global. Pertumbuhan ekonomi dunia yang diproyeksi akan naik pun, mulai harap-harap cemas

Pernyataan itu dilontarkan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indarawati dan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto di Jakarta, kemarin. 

“Memasuki 2020 kita optimis. Tapi, hanya dalam seminggu itu berbalik. Virus corona sekarang justru menimbulkan pesimisme yang menggulung ekonomi pada Januari ini. Terutama untuk China,” kata Sri Mulyani. 

Menurut Ani, sapaan akrabnya, virus corona yang mulai menyerang beberapa negara di Asia, juga menimbulkan pesimisme bagi para pelaku pasar. Corona juga menyebabkan tidak terealisasinya seluruh potensi perekonomian China melalui konsumsi domestik pada momentum Tahun Baru China, 25 Februari lalu. 

“Hal ini menggambarkan, ketidakpastian dan risiko global terjadi sangat cepat dan tak dapat diprediksi,” warning Ani. 

Berita Terkait : Dua Korban Virus Corona Dirawat Di RSPI Sulianti Saroso

Padahal, kata Ani, 2020 ini berpotensi menjadi tahun pemulihan setelah pada 2019 terdapat banyak momentum yang memberatkan seperti perang dagang antara AS dan China serta Brexit. Hal senada dilontarkan Airlangga. 

Meski Indonesia punya modal kuat mendorong pertumbuhan hingga 6 persen di tahun-tahun mendatang, namun kondisi ekonomi global tetap masih perlu diwaspadai. 

“Harapan pemulihan ekonomi baru tumbuh, seiring meredanya perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China. Namun, wabah virus corona dari China diperkirakan jadi sumber ketidakpastian bagi ekonomi global tahun 2020,” ujarnya. 

Selain virus corona, disrupsi manufaktur global dan tensi geopolitik juga menjadi tantangan yang membuat ketidakpastian ekonomi global ke depan. 

Meski begitu, Airlangga mengatakan, dari pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World Economy Forum/WEF) di Davos, Swiss, baru-baru ini, seluruh negara optimis dengan perkembangan ekonomi saat ini. 

Berita Terkait : Thailand Umumkan Kasus Kematian Pertama Akibat Virus Corona

“Ada sinyal positif dari sebagian besar negara di empat benua yang semuanya optimis tahun ini bahwa resesi akan selesai,” kata Airlangga. 

Pendorongnya, kata dia, pertumbuhan yang kuat di Amerika Serikat hingga ‘gencatan senjata’ dalam perang dagang antara Amerika Serikat dan China.

Optimis Tumbuh 6 Persen 

Dia menjelaskan, Pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam lima tahun ke depan bisa mencapai angka 6 persen. Sesuai dengan keinginan Presiden Jokowi. 

Airlangga menjelaskan, pihaknya sudah membuat kebijakan yang bisa mewujudkan angka pertumbuhan ekonomi 6 persen. Seperti penurunan suku bunga selama 7 kali oleh Bank Indonesia (BI). 

Berita Terkait : Qatar Laporkan Kasus Pertama Virus Corona, Korbannya Baru Balik Dari Iran

“Kalau kita bisa sebut Jokowinomic itu yang pertama adalah financial easing (kebijakan moneter) dari BI yang selama ini sudah menurunkan 7 kali tingkat suku bunga,” kata Ketua Umum Partai Golkar itu. 

Untuk mencapai angka tersebut, lanjut Airlangga, pemerintah akan terus menggenjot investasi di dalam negeri. Namun, hal tersebut tidaklah mudah. Ketidakpastian yang membaya-ngi perekonomian global di sepanjang 2019, berdampak kepada negaranegara di dunia.

“Meskipun begitu, perekonomian Indonesia masih bisa tumbuh positif di kisaran 5 persen pada tahun lalu,” ujarnya. [NOV]