Kementan Keluarkan Early Warning System Ketersediaan Bawang Putih

Perkebunan bawang putih (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Perkebunan bawang putih (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) terus mendorong penguatan program pembangunan pertanian melalui pendekatan komando strategis pembangunan pertanian atau KostraTani. Mentan menyebut Kostratani sebagai center of excellent yang terhubung disemua lini, dengan mengoptimalkan fungsi Balai Penyuluh Pertanian (BPP) yang berada di ribuan Kecamatan seluruh Indonesia. Data dari BPP terhubung langsung ke pusat kendali Satu-Data yang dikenal sebagai Agriculture War Room atau AWR.

Lewat AWR inilah, Kementerian Pertanian (Kementan) memperkenalkan instrumen peringatan dini atau Early Warning System (EWS) untuk memprediksi ketersediaan komoditas pangan pokok selama 3 bulan ke depan. Khususnya untuk komoditas cabe, bawang merah, dan bawang putih yang dinilai sering memicu inflasi.

Bawang putih menjadi perhatian pemerintah karena dalam periode tertentu berpotensi terjadi gejolak yang menyebabkan inflasi tak terduga. Sebagai komoditas yang 90 persennya didatangkan dari impor, ketersediaan bawang putih harus dipantau setiap saat. Saat terjadi persoalan menyangkut mekanisme impor, berpotensi terjadi gejolak. Meskipun saat ini Kementan gencar mendorong penanaman bawang putih di dalam negeri, tidak dapat dipungkiri bahwa impor masih dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasional yang mencapai 500- 580 ribu ton setahun. 

Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto, menerangkan, berdasarkan analisis EWS yang dilakukan pihaknya, ketersediaan bawang putih hingga Maret 2020, aman. "Model EWS ini diakui telah bekerja sangat baik, terutama menjelang Nataru 2019 (Natal dan Tahun Baru) sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung masyarakat. Nataru berlalu dengan khidmat tanpa gejolak harga yang berarti karena kita sudah bisa mendeteksi ketersediaan bawang cabai sejak dini," ujar pria yang akrab dipanggil Anton tersebut. 

Berita Terkait : Pacu Ekspor Buah dan Flori, Kementan Bangun Kawasan Berdaya Saing

"Sejak dini juga kita bisa lakukan langkah-langkah antisipasi dan pengendalian. Saat ini, EWS juga kita pergunakan untuk pemantauan ketersediaan bawang putih nasional," tambahnya.

Anton juga optimis, program pengembangan bawang putih nasional akan terus berlangsung. "Dari data yang ada, hasilnya cukup menggembirakan. Terbukti angka produksi 2019 sementara ini sudah mencapai 81 ribu ton atau naik 4 kali lipat dibanding 2017. Bahkan luas tanam yang bertahun-tahun stagnan hanya 2 ribu hektar, kini bisa mencapai 15 ribu-an hektar di 2019," kata Anton.

Kebutuhan bawang putih nasional pada bulan Januari-Februari 2020 diperkirakan sekitar 95 ribu ton. Sedangkan produksi bawang putih lokal baru mencapai 19 ribu ton sehingga masih terdapat kekurangan pasokan 76 ribu ton. Jumlah tersebut mau tidak mau harus dipenuhi dari impor. 

Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Sukarman, menerangkan, secara kumulatif stok bawang putih masih aman. "Kita masih punya stock dari realisasi impor sampai akhir Desember 2019 sebesar 90 ribu Ton. Jadi neraca ketersediaan bawang putih nasional bulan Januari sebanyak 87 ribu Ton dan Februari 43 ribu Ton" jelas Sukarman. 

Berita Terkait : Kementan Pastikan Kasus Kematian Babi di NTT Sudah Tertangani

Menurut Sukarman, stok bawang putih berdasarkan data Persetujuan Impor (PI) bulan Oktober lalu telah digelontorkan untuk kebutuhan nasional sebesar 45-47 ribu perbulan. "Ketersediaan bawang putih sampai 1 (satu) bulan ke depan dipastikan Aman, termasuk untuk kebutuhan 28 juta penduduk Jabodetabek yang diperkirakan sebanyak 5 ribu ton per bulan. Selama tidak ada kendala distribusi dan lainnya, dipastikan pasokan aman," tandas pria yang juga menjadi Direktur Perbenihan tersebut. 

Harga Stabil 

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik, menyebut harga bawang putih pada bulan Januari-Maret terjaga kondusif. Terlebih proses penerbitan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) bawang putih saat ini tengah berlangsung. "Sudah cukup banyak yang mengajukan (RIPH-red), dan sudah kami lakukan cek dan ricek. Jika dokumen teknis sudah sesuai semua, tentu kami akan terbitkan RIPH nya" ujar Yasid. 

Yasid memastikan, pemerintah tidak akan membiarkan pasokan bawang putih tersendat yang bisa memicu lonjakan harga secara tiba-tiba. "Kami ingin bawang putih ini stabil, kendati sebagian besar pasokannya masih bergantung pada impor. Kita tidak akan biarkan ada gejolak yang memicu kenaikan share inflasi terhadap volatile food seperti yang terjadi pada awal-awal tahun lalu," ucapnya.

Berita Terkait : Kemenag Pantau Jemaah Umroh yang Tertahan di Bandara

Namun, kembali diingatkan Yasid, agar importir juga giat mendorong ekspor seperti keinginan menteri Pertanian. "Jangan hanya jadi nett importir, tapi juga berlomba-lomba menambah devisa negara dengan mendorong ekspor pertaniannya" tutupnya. [KAL]