Program Gratieks Ciptakan Jutaan Lapangan Pekerjaan

Syahrul Yasin Limpo (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Syahrul Yasin Limpo (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Upaya Kementerian Pertanian (Kementan) dalam menguatkan aktivitas produksi dan pasca-produksi terus dilakukan. Di antaranya dengan mendorong pengusaha dan eksportir melipatgandakan lalu lintas ekspor pertanian.

Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan, Kuntoro Boga Andri, mengatakan bahwa upaya tersebut sesuai arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk meningkatkan produksi mencapai 7 persen pertahun sekaligus mendorong roda ekonomi nasional. "Gerakan ini merupakan bagian dari program jangka panjang yang diyakini memiliki dampak besar pada roda ekonomi nasional. Sebab, nantinya akan ada jutaan orang yang terlibat di sektor pertanian," ujar Kuntoro, Jumat, (7/2).

Berita Terkait : Cegah Penyebaran ASF, Kementan Minta Pengawasan Lalu Lintas Babi Diperketat

Selain itu, lanjut Kuntoro, gerakan tiga kali ekspor atau yang disebut Gratieks akan mempercepat jalannya laju ekspor komoditas pertanian menuju ekosistem pertanian yang modern. Sebagai informasi, Gratieks adalah gerakan peningkatan ekspor pertanian yang digagas Mentan Syahrul untuk menyatukan kekuatan seluruh pemegang kepentingan pembangunan pertanian dari hulu sampai hilir. Gerakan ini diharapkan mampu meningkatkan ekspor komoditas pertanian dengan cara yang tidak biasa. "Apalagi di dalamnya sudah menggunakan dan memanfaatkan teknologi, inovasi, IT, digitalisasi, riset, jejaring dan kerja sama yang kuat dengan semua pihak," katanya.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pertanian Indonesia pada Desember 2019 telah mengalami peningkatan sebesar 24,35 persen, jika dikalkulasi ke dalam bentuk dolar nilainya mencapai 370 juta dolar AS. Pada bagian ini, sektor perkebunan menjadi komoditas ekspor yang cukup tinggi dan menjadi andalan ekspor Indonesia, disamping beberapa komoditas horti dan peternakan bernilai tinggi seiring meningkatnya konsumsi dan perubahan gaya hidup masyarakat global.

Berita Terkait : Kunjungi Serdang Bedagai, Mentan Panen 1.000 Ekor Pedet

Beberapa komoditas yang terus menunjukkan peningkatan antara lain kelapa sawit, kakao, karet dan kopi. Selanjutnya ada juga komoditas pertenakan, khususnya perunggasan dan sarang burung walet. Untuk produk hortikultura seperti sayur dan buah juga terus meningkat. Secara umum, kontribusi sektor pertanian dalam ekspor non-migas mengalami peningkatan signifikan.

Pada 2018, kontribusi ekspor sektor pertanian mencapai 2,11 persen dari total eksport non-migas senilai kurang lebih Rp 500 triliun. Namun pada tahun 2019, angka ini meningkat menjadi 2,34 persen atau setara dengan Rp 550 triliun.

Berita Terkait : Pasokan Cabe Lancar, Stok Aman Sampai Idul Fitri

Jika Gratieks dapat berkontribusi penuh pada 2024, maka potensi ekspor Indonesia diperkirakan mencapai Rp 1.800 triliun. Angka ini sama dengan 7,5 persen kontribusi sektor pertanian terhadap total eksport non-migas.

"Jika dilihat dari perkembangannya sampai hari ini kami optimistis bukan hanya memenuhi kebutuhan masyrakat Indonesia, tetapi memenuhi kebutuhan pangan dunia. Terlebih Kementan terus berupaya menjadikan pertanian Indonesia maju, mandiri dan modern," tutup Andri. [BYU]