RMco.id  Rakyat Merdeka - Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Perum LPPNPI) atau yang lebih dikenal dengan AirNav Indonesia mengoperasikan secara penuh landasan pacu (runway) ketiga di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang sejak 20 Desember 2019.

Runway ketiga ini juga telah diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, pada 23 Januari 2020.

Plt. Direktur Utama AirNav Indonesia Mokhammad Khatim menyatakan, pihaknya telah mengoperasikan runway ketiga dan East Connection Taxiway (ECT) secara penuh.

Berita Terkait : Protokol Covid-19 di Bandara Soekarno-Hatta Dipuji BURT DPR

“Runway ketiga yang memiliki dimensi 3.000 meter x 60 meter, sudah digunakan sejak beberapa waktu lalu. Pengoperasian ini akan mengurangi terjadinya antrean pesawat yang ada,” terang Khatim di Tangerang, Jumat (7/2).

Dijelaskan Khatim, kehadiran runway ketiga ini akan melengkapi dua runway yang sudah ada sebelumnya.

“Runway 1 dan 2 memiliki dimensi yang sama dengan panjang 3.660 meter dan lebar 60 meter. Konfigurasi jarak antar centerlines runway 1 dan 2 mencapai 2.402 meter. Sedangkan untuk runway 2 dan 3, 500 meter,” paparnya.

Berita Terkait : KA Bandara Beroperasi Lagi, Kapasitas Penumpang Tetap 70 Persen

Kehadiran landas pacu ketiga dan ECT di Bandara Soekarno-Hatta berperan penting dalam meningkatkan layanan Bandara Soekarno-Hatta yang terus tumbuh. Baik dari segi jumlah pergerakan pesawat, maupun penumpang.

“Pengoperasian landas pacu ketiga ini meningkatkan safety melalui pemisahan runway untuk take-off dan landing. Sedangkan ECT, dapat mengurangi risiko taxiway blocking. Efisiensi juga akan meningkat, seiring berkurangnya jumlah dan waktu antrean pesawat di taxiway holding-point (di darat), dari sebelumnya 6-9 pesawat menjadi rata-rata 3 pesawat. Jarak antar pesawat juga akan berkurang. Sedangkan jarak tempuh taxi dari apron ke runway, akan lebih dekat dan variatif dengan adanya ECT. Jarak tempuh rata-rata akan berkurang 30 persen. Dengan pengurangan space/jarak antar pesawat dan penurunan waktu di runway, maka otomatis kapasitas pasti akan bertambah,” terang Khatim.

AirNav Indonesia, menurut Khatim, telah membuktikan benefit tersebut sejak angkutan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Menurutnya, pada Nataru lalu, antrean berkurang signifikan. Maksimal, hanya ada tiga pesawat saja, yang antre untuk taxi.

Berita Terkait : Asyik, Tarif Damri Dari Dan Ke Bandara Soetta Turun Lagi, Ini Daftarnya..

“Aspek keselamatan selalu menjadi pertimbangan utama kami. Sinergi dengan seluruh stakeholder penerbangan akan terus kami tingkatkan, dalam rangka meningkatkan layanan navigasi penerbangan,” pungkas Khatim. [Tim