Terbang Ke Australia, Kejar Investasi

Jokowi Akan Tingkatkan Kerja Sama Perdagangan

Presiden Jokowi usai meresmikan hutan pers endemik di Kalsel, Sabtu (8/02)
Klik untuk perbesar
Presiden Jokowi usai meresmikan hutan pers endemik di Kalsel, Sabtu (8/02)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kunjungan kerja Presiden Jokowi ke Australia, akan dimanfaatkan untuk mendongkrak investasi ke Tanah Air.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengungkapkan, selama ini investasi dari Australia jumlahnya tidak masuk ke dalam 5 besar. 

Bahkan, hanya menempati peringkat ke 12 sebagai negara penyumbang investasi asing langsung di Indonesia. 

Airlangga menjelaskan, salah satu agenda yang akan dibahas adalah Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) yang baru diratifikasi DPR, pada 6 Februari 2020. 

Berita Terkait : Jokowi Sebut IA-CEPA Bakal Tingkatkan Keterbukaan Perdagangan Dan Investasi

Sebagai catatan, investasi Australia di Indonesia, dari 2015-2019 mencapai 1,8 miliar dolar AS dengan 635 proyek terdiri lebih dari 400 perusahaan Australia.

Sektor yang mendominasi investasi dari Australia adalah pertambangan (44,7 persen), industri logam tidak termasuk permesinan dan peralatan industri (11,3 persen) serta perkebunan dan peternakan (9,4 persen). 

Sementara, lokasi investasi Australia terfokus di Kalimantan (23,5 persen) dan Sumatera (23,1 persen). “Sedangkan trade balance Indonesia Australia, sebenarnya yang diuntungkan pihak -Australia tentu diharapkan dengan IA-CEPA walau biaya masuknya diturunkan rata-rata dari 5 persen menjadi 0 persen itu yang akan bisa didorong tekstil dan otomotif,” ujarnya. 

Airlangga menjelaskan, permintaan produk otomotif Australia mencapai 1,1 juta unit dan produk-produk seperti kendaraan komersial, seperti truk dan SUV sangat diminati. 

Berita Terkait : Bertemu di Moskow, Prabowo-Menhan Rusia Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan

“Indonesia punya kapasitas dan tinggal bicara produsenprodusen di Indonesia bisa mempercepat baik hybrid dan elektronik seperti yang tercantum di IA-CEPA namun juga combination engine, karena hybrid dan elektrik baru berproduksi pada 2021,” katanya. 

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan, dengan adanya kerja sama ¬IA-CEPA, Indonesia bisa menarik investasi di bidang pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dan vokasi. 

“Australia jangan hanya investasi di sektor pertambangan saja, tetapi perlu juga di sektor pendidikan vokasi supaya ada upgrade skill dari pekerja Indonesia. Jadi pekerja Indonesia sudah siap masuk ke lapangan kerja maupun menciptakan lapangan pekerjaan menjadi social entrepreneur,” ujarnya. 

Bahlil menilai, dengan dibentuknya kerja sama ekonomi IA-CEPA pemerintah akan memiliki payung hukum yang jelas untuk mengimplementasikan sejumlah perjanjian kerja sama, baik di sektor perdagangan maupun investasi. 

Baca Juga : Mahathir Siap Jadi Perdana Menteri Malaysia Lagi

“Hal ini sejalan dengan target investasi pada peningkatan sektor industri berorientasi ekspor. Sekarang peluang pasar diperluas. Ini jadi modal kami untuk ‘jualan’ kepada investor yang mau masuk ke Indonesia,” katanya. 

Sementara, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi akan memperkuat kerja sama bilateral dalam bidang transportasi udara guna mendukung sektor pariwisata, perdagangan dan perindustrian. 

Menhub mengatakan, salah satu tujuan pemerintah ke Australia mengubah tingkatan travel advice ke Indonesia, dari tingkatan kuning atau waspada risiko keamanan menjadi hijau (tidak ada risiko keamanan khusus). 

Permintaan itu diajukan untuk mempromosikan keamanan transportasi dan guna mendukung program tujuan wisata di Indonesia.  Selain itu, Menhub menuturkan Indonesia menyampaikan usulan kerja sama di sektor transportasi udara terkait pembahasan lebih lanjut mengenai unlimited (tanpa batas) akses dan kapasitas penerbangan yang akan membuka seluruh kota di Australia dan Indonesia. [KPJ]