Kementan Lepas Ekspor 110 Ton Kunyit Kering ke India

Dari kiri: Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Direktur CV Berkah Jaya Gigih, Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan Sukarman dan Kadis Pertanian Ponorogo Andi Sosetyo saat lepas ekspor kunyit, di Ponorogo, Selasa (11/2). (Foto: Humas Kementan)
Klik untuk perbesar
Dari kiri: Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni, Direktur CV Berkah Jaya Gigih, Direktur Perbenihan Hortikultura Kementan Sukarman dan Kadis Pertanian Ponorogo Andi Sosetyo saat lepas ekspor kunyit, di Ponorogo, Selasa (11/2). (Foto: Humas Kementan)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Mentan Syahrul Yasin Limpo mengaskan bahwa upaya untuk mendorong roda ekonomi nasional adalah dengan peningkatan ekspor. Terkait hal ini, Direktorat Jenderal Hortikultura tidak hanya menguatkan aktivitas hulu, namun juga hilir. 

Berbagai komoditas didorong untuk mampu bersaing di pasar ekspor. Mulai dari benih, sayuran, buah-buahan, hingga biofarmaka. Seperti yang diberangkatkan dari Ponorogo pada Selasa (11/2), yakni kunyit kering ke India. 

Direktur Perbenihan Hortikultura yang juga merangkap sebagai Plt Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan) Sukarman, mengungkapkan bahwa Indonesia telah mampu memenuhi kebutuhan kunyit dalam negeri bahkan mampu ekspor. “Total ekspor komoditas kunyit kita sejak tahun 2015-2018 sebanyak 34.317 ton setara dengan 46 juta dolar AS. Tahun 2019 total ekspor 7.163 ton ke berbagai negara. Di antaranya India, Malaysia, Vietnam, Taiwan, United States, Korea, Inggris, Netherland, Brazil, Poland, Argentina.  Sementara untuk 2020 ekspor kunyit ditargetkan naik menjadi 8.015 ton," ungkapnya.

Berita Terkait : Pacu Ekspor Buah dan Flori, Kementan Bangun Kawasan Berdaya Saing

Pihaknya mengapresiasi peran swasta seperti CV Berkah Jaya. Ekspor yang dilakukan perusahaan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk mendorong pemasukan devisa negara dan program Gratieks Kementan. 

Sukarman memaparkan bahwa ekspor Kunyit yang diberangkatkan ke India sebanyak 110 ton. Kunyit tersebut merupakan hasil panen dari petani di Kabupaten Kediri, Pacitan, Trenggalek, dan Wonogiri yang telah dikeringkan menjadi bentuk simplisia dengan kandungan curcumin minimal 4 persen.

“Artinya peran pihak swasta seperti mereka mendukung peningkatan produksi dan ekspor Komoditas biofarmaka Direktoral Jenderal Hortikultura. Yakni melalui program pengembangan kawasan tanaman obat tahun 2020 mengalokasikan 700 hektar untuk budidaya Kunyit, Jahe, Kapulaga, dan Buah Merah,” ungkap Sukarman. 

Berita Terkait : Kementan Pastikan Kasus Kematian Babi di NTT Sudah Tertangani

D isamping itu, lanjut Sukarman, Kementan juga mendorong petani atau pelaku usaha untuk memanfaatkan prmodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Senada, Bupati Ponorogo, Ipong Mukhlissoni mendukung program Gratieks Kementan. Pihaknya melalui Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo mendorong masyarakat Ponorogo untuk menanam kunyit di pekarangan. "Kunyit ini kan mudah dibudidayakan, tidak ada syarat khususnya. Saat ini di Ponorogo masih ada 15.000 hektar lahan yang tidak produktif yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya kunyit dan tanaman obat lainnya," tutup Ipong.

Melihat peluang ekspor yang masih besar, perlu  dipersiapkan alat pascapanen untuk mengolah kunyit kering menjadi olahan akhir agar pasar ekspor  lebih luas. “Saya berharap yang dilakukan CV Berkah Jaya bisa menjadi motivasi bagi petani maupun eksportir lainnya,” tutup Ipong.

Berita Terkait : Cegah Penyebaran ASF, Kementan Minta Pengawasan Lalu Lintas Babi Diperketat

Direktur CV Berkah Jaya, Gigih menyatakan bahwa banyak tantangan dalam mengekspor komoditas biofarmaka. Sekalipun demikian, komoditas Indonesia terbukti mampu bersaing. “Saya sudah melakukan ekspor berbagai komoditas Biofarmaka ke India sejak tahun 2017. Dan kerjasama tersebut berlanjut hingga kini. Tahun 2017 kita ekspor 100 ton, kemudian tahun 2018 naik menjadi 1.100 ton dan tahun ini targetnya 1.000-1.100 ton lagi,” tutup Gigih. [KAL]