Dampak Virus Corona

Mendag Bidik Afrika Demi Genjot Ekspor

Aktivitas ekspor di pelabuhan Tanjung Priuk.
Klik untuk perbesar
Aktivitas ekspor di pelabuhan Tanjung Priuk.

RMco.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah mulai membidik pasar ekspor baru setelah anjloknya ekspor ke China akibat virus corona. Pasar baru itu adalah Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Dody Edward mengatakan, tiga kawasan tersebut belum banyak digarap untuk pasar ekspor impor Indonesia. 

“Kita perluas ekspor ke Afrika seperti Afrika Selatan, Amerika Latin, Timur Tengah yang selama ini kurang dapat perhatian ataupun kurang banyak melakukan program promosi,” katanya di Jakarta, kemarin. 

Dody menilai, pendekatan dengan negara-negara Benua Hitam dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan potensi perdagangan Indonesia. 

Berita Terkait : Masa Inkubasi Virus Corona Ternyata Bisa 27 Hari

Menurutnya, pemerintah juga sedang memacu penyelesaian negosiasi terhadap 12 perjanjian dagang dalam bentuk bilateral maupun multilateral. Yang berbentuk bilateral adalah perjanjian antara Indonesia-Turki, Indonesia-Pakistan, Indonesia-Tunisia, Indonesia Bangladesh, Indonesia-Maroko, Indonesia-Iran, dan IndonesiaMauritius. Sementara yang multilateral: Indonesia-Uni Eropa, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN-India FTA, dan ASEAN-Australia-New Zealand. 

Selain itu, lanjutnya, Indonesia juga akan menyusun 14 perjanjian dagang baru yang berpotensi dijajaki dengan sejumlah negara maupun organisasi internasional.Saat ini, Indonesia sudah memiliki 20 perjanjian perdagangan yang telah berjalan. 

Wakil Ketua Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Benny Soetrisno mengatakan, pendekatan dan kerja sama secara bilateral dengan negara di kawasan Afrika sangat penting dilakukan. 

Karena, saat ini cukup banyak negara yang menyasar Afrika sebagai mitra dagang karena pesatnya perekonomian negara tersebut. 

Berita Terkait : China Minta Australia Longgarkan Aturan Soal Pembatasan Pelancong

“Pendekatan dan pembuatan kerja sama dagang secara bilateral dengan negara Afrika wajib dilakukan agar kita tidak ketinggalan dengan negara lain. Sebab kalau kita lebih fokus ke pembuatan kerja sama melalui pendekatan ke blok negara, tantangannya lebih banyak karena kesepakatannya dilakukan dengan banyak negara sekaligus,” katanya. 

Menurutnya, Indonesia dapat memanfaatkan pasar Afrika untuk memacu ekspor produk manufaktur. Karena, negara di kawasan tersebut belum memiliki industri yang mumpuni. 

Selain itu, Indonesia juga dapat memanfaatkan impor produk perkebunan seperti kapas dan kakao dari negara di benua tersebut, untuk diolah kembali sebagai produk jadi yang akhirnya diekspor kembali.

 Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai, langkah tersebut perlu dilakukan guna meningkatkan ekspor dan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Berita Terkait : Corona Merajalela, Pemerintah Jaga Kinerja Ekspor Impor

“Jadi sangat perlu untuk meningkatkan ekspor, khususnya ke berbagai daerah atau negara yang selama ini belum kita optimalkan pasarnya ke sana,” ujarnya. 

Heri melihat potensi pasar Afrika sangat besar. Hal itu karena negara-negara di kawasan tersebut sedang berproses menjadi negara lower middle income dari sebelumnya sebagai negara dengan lower income. 

Afrika sedang membutuhkan produk-produk kebutuhan dasar seperti pakaian, pangan, dan obat-obatan.“Itu produk yang dibutuhkan Afrika, kita bisa bikin semua. Artinya, ada kecocokan, mereka butuh apa, kita bisa produksi,” jelasnya. [KPJ]