RMco.id  Rakyat Merdeka - Upaya pengendalian sampah plastik terus dilakukan. Salah satu pemanfaatan sampah plastik adalah sebagai bahan campuran aspal. Hal ini dinilai mampu menjadi salah satu solusi dari masalah sampah plastik di Indonesia.

Belum lama ini Pemkot Semarang bekerja sama dengan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk dan Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang melakukan terobosan mengaspal jalan menggunakan bahan dasar sampah plastik dipadukan dengan cairan aspal.

Senior General Manager Polymers Techinal Service and Product Development PT Chandra Asri, Edi Rivai mengatakan, kegiatan ini merupakan kolaborasi Chandra Asri dengan Pemkot Semarang membangun jalan aspal menggunakan campuran daur ulang plastik dari TPA di kampus Udinus Semarang

"Selaras dengan komitmen kami untuk menjadi mitra pertumbuhan yang terpercaya dan dapat diandalkan, kami mendukung penerapan aspal plastik pertama di Semarang oleh Universitas Dian Nuswantoro (Udinus)," ujar Edi kepada wartawan di Jakarta, Rabu (19/2).

Berita Terkait : Gandeng Vopak, Chandra Asri Bikin Perusahaan Di Bidang Infrastruktur Industri

Edi menjelaskan, dengan menggandeng Pemkot Semarang dan Udinus, Chandra Asri melakukan implementasi aspal plastik di sekitaran wilayah Kampus Udinus sepanjang 964 meter, lebar 5 meter, dan tebal 4 cm. Total plastik yang digunakan mencapai 1.6 ton cacahan sampah kantong kresek atau setara dengan 1.07 juta lembar kantong kresek. Implementasi aspal plastik ini juga turut didukung oleh Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI).

"Penggunaan cacahan sampah kantong kresek ini terbukti meningkatkan kualitas dan stabilitas jalan hingga 40 persen sesuai dengan hasil pengujian yang dilakukan oleh Pusjatan PUPR. Dengan demikian, lingkungan akan semakin terjaga dengan baik dan kualitas jalan raya akan menjadi lebih kuat dan tahan lama, sehingga dapat menghemat biaya perawatan jalan Pemerintah," papar Edi.

Menurut Edi, langkah ini merupakan bentuk penerapan konsep ekonomi sirkular di Indonesia dalam pengolahan sampah plastik di Indonesia, sehingga sampah kresek dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang bernilai tinggi dan tidak berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 

"Untuk memaksimalkan pengolahan sampah ini, diperlukan pemilahan sampah sejak awal sehingga nilai material dari setiap sampah dapat terjaga. Kami berharap dukungan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan panjang dan jumlah jalan yang menggunakan sampah plastik sebagai campuran aspal ini, sehingga semakin banyak sampah plastik yang dapat terkelola dan dapat meningkatkan kualitas jalan Indonesia," tukasnya.

Berita Terkait : Sinergi Pengelolaan Sampah Plastik Lebih Efektif Dalam Menjaga Lingkungan

Sebelumnya, Dekan Fakultas Teknik Udinus, Dr Dian Retno Sawitri menjelaskan, pihaknya melakukan berbagai penelitian dan mencari ilmu di Pusjatan Kota Bandung. Menurutnya pemilihan sampah kresek sebagai bahan baku utama dikarenakan jenis sampah tersebut tak memiliki nilai ekonomis.

“Dalam prosesnya pencacahan dilakukan dengan tiga mesin pencacah dengan hasil cacahan ideal 3 mm. Jika ukuran tak ideal maka tak bisa menjadi campuran aspal. Sedangkan untuk presentase campuran plastik yakni 6 persen dari total aspal yang dibutuhkan,” tuturnya.

Menurut dia, penggunaan plastik sebagai campuran aspal akan menambah kekuatan aspal dari kerusakan sebesar 40 persen, jika dibandingkan dengan aspal tanpa plastik. Pengaspalan menggunakan bahan plastik sebagai langkah Udinus untuk mengurangi limbah plastik.

“Kekuatan aspal plastik sudah diteliti di Pusjatan dan BBPJN 7 Surabaya dan kegiatan ini juga sebagai langkah pengurangan plastik di lingkungan,” tegasnya. 

Berita Terkait : Jokowi: Indonesia Konsisten Dukung Kemerdekaan Palestina

Dalam kegiatan pengaspalan di area Udinus membutuhkan sekitar 444 Ton Aspal dan 1,6 ton sampah plastik yang sudah dicacah. [DIT]