Indonesia dan Covid-19

Kebal Coronanya, Tidak Ekonominya

Virus corona/Ilustrasi (Foto: Istimewa)
Klik untuk perbesar
Virus corona/Ilustrasi (Foto: Istimewa)

RMco.id  Rakyat Merdeka - Kita boleh bangga karena Indonesia menjadi negara yang tidak ketularan virus corona. Yang mengkhawatirkan, virus bernama Covid-19 itu mengancam kekebalan perekonomian kita. Ekonomi kita yang mentok di angka 5 persen, diramal akan turun di bawah 5 persen karena rontoknya ekonomi China

Gara-gara corona, ekonomi China benar-benar merana. Dunia usaha di Negeri Tirai Bambu itu, hampir berhenti total. Sektor yang paling terpukul adalah jasa. Seperti restoran, hotel, toko, bioskop, dan agen perjalanan. Akibatnya, roda ekonomi China tak bisa melaju kencang. 

Ekonomi China pun diprediksi akan turun jadi 5,2 persen atau terendah selama 30 tahun terakhir. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi China hanya 6 persen. Kondisi itu tentu jadi pukulan telak bagi China dan juga negara-negara lain, terutama yang punya hubungan perdagangan erat dengan China. 

IMF memprediksi, pertumbuhan ekonomi dunia akan ikut melambat. Tak hanya itu, lembaga pemeringkat Moddy’s, memprediksi sejumlah negara akan terkena resesi. Mereka adalah Jerman, Singapura dan Jepang. 

Bagaimana dengan Indonesia? Eks Menteri Keuangan, Chatib Basri, bikin analisa panjang soal dampak corona ini. Dia memprediksi, ekonomi RI akan melambat tahun depan.

Berapa besar dampaknya, kata dia, terlalu awal untuk memastikan karena belum tahu berapa lama dan bagaimana akhirnya corona. 

Berita Terkait : Perusahaan Asuransi Harus Selalu Beri Rasa Tenang pada Nasabah

“Namun, kita bisa belajar dari kasus SARS 2003,” kata Chatib di akun Twitter miliknya, @ChatibBasri, kemarin. 

Berdasarkan catatannya, ketika SARS merebak, pertumbuhan ekonomi China turun dari 11 persen pada kuartal I-2003 dan turun ke 9 persen pada kuartal II 2003. Namun, setelah kepanikan mereda, ekonomi China kembali melaju 10 persen pada kuartal III dan IV-2003. 

Sejumlah analis menyebut setiap penurunan 1 persen perekonomian China bisa berdampak penurunan ekonomi RI 0,1 hingga 0,3 persen. 

“Artinya, jika ekonomi China melambat 1 persen tahun ini, pertumbuhan ekonomi kita bisa menurun menjadi di bawah 5 persen pada 2020,” terangnya. 

Menurut Chatib, sektor yang terkena imbas negatif dari wabah virus corona adalah sektor yang memiliki keterkaitan dengan global, termasuk di antaranya pariwisata, ekspor, dan impor. Pemerintah diminta segera mengantisipasi dengan mendorong sumber pertumbuhan domestik. 

Kata dia, resep Keynes masih relevan di sini. Yaitu menjaga daya beli penduduk miskin dengan Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dan sebagainya.

Berita Terkait : Astaghfirullah, Kasus Corona Korea Selatan Tembus 1.146

Selain itu, program Kartu Prakerja untuk kelas menengah juga dapat menjadi bantalan. Misalnya, dalam bentuk cash for training yang akan membantu menjaga daya beli. 

“Berikan diskon untuk tiket pesawat atau transportasi selama beberapa bulan, untuk mendorong pariwisata. Ketika wisman terganggu, maka dorong wisatawan domestik,” sarannya. 

Chatib mengatakan, defisit anggaran pemerintah tidak masalah jika dinaikkan demi mendorong pertumbuhan. Selain itu, pemerintah perlu memperhatikan kualitas belanja agar benar-benar berdampak pada pertumbuhan. 

“Memang terlalu pagi untuk menyimpulkan, tetapi langkah-langkah antisipasi untuk mendorong daya beli dan perekonomian domestik perlu disiapkan segera,” tuntasnya. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui wabah corona mulai ‘menginfeksi’ ekonomi RI. Hal itu terlihat dari perlambatan penerimaan perpajakan hingga kepabeanan. Sektor pertambangan juga begitu.

Dia menilai, semakin lama penyebaran corona, makin besar pula dampaknya pada ekonomi. 

Berita Terkait : Korea Selatan Catat 2 Tewas, Ini Dua Kota Zona Karantina Virus Corona

Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menyebut, ada beberapa dampak yang paling terasa adalah sektor pariwisata. China menyumbang 13 persen pariwisata di Indonesia atau kedua setelah Malaysia.

Dampak lain adalah disrupsi dagang dan rantai pasokan. Pasalnya, 27 persen impor nonmigas Indonesia berasal dari China, sedangkan sebesar 16,7 persen pangsa pasar ekspor Indonesia adalah ke China. Apalagi, China merupakan konsumen besar CPO dan batu bara. 

Sri Mul mengatakan, pemerintah sedang menggodok kebijakan ekonomi sebagai mengantisipasi. Salah satu stimulus yang sedang dipikirkan adalah menambah manfaat kartu sembako murah.

Untuk melaksanakan kebijakan tersebut, pihaknya akan menggelontorkan tambahan anggaran Rp 3,8 triliun. Kebijakan baru ini terpisah dengan pemberian diskon tiket pesawat 30 persen. 

Soal ini, Ekonom Indef, Bhima Yudhistira mengatakan, wabah virus corona akan mengganggu kinerja neraca dagang. Permintaan ekspor Indonesia ke China akan mengalami penurunan.

Pasalnya, Wuhan yang menjadi pusat corona adalah kota industri manufaktur besar di China. “Ekonomi kita tidak kebal efek corona,” ujarnya. [BCG]